Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Islam Dikebiri, Komunisme Dikasih Hati

 



Oleh: Anggun Permatasari


Aturan baru membolehkan anak keturunan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) ikut seleksi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hal tersebut diungkap Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Selain itu, Jenderal Andika juga menghapus beberapa tes sebagai syarat penerimaan prajurit TNI yaitu tes renang dan akademik (detiknews.com, 03/4/2022).

Banyak kalangan bereaksi terhadap aturan baru tersebut. Salah satunya anggota Komisi I DPR RI Fraksi Gerindra, Fadli Zon. Masih dilansir dari laman detiknews.com, Fadli mengatakan bahwa tidak ada larangan keturunan PKI gabung TNI selama tetap setia NKRI dan Pancasila.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengatakan bahwa aturan tersebut bukanlah sebagai kebijakan baru. TNI, bukan institusi pertama yang menghapus aturan tersebut. Dia mengatakan ketentuan tersebut sebenarnya sudah dihapus sebagai syarat untuk mendaftar sebagai calon legislatif dan kepala daerah.

Demokrasi Menyuburkan Paham Komunisme

Miris, di saat masyarakat Indonesia masih diselimuti pandemi yang belum sepenuhnya selesai. Belum lagi kenaikan harga sembako dan BBM yang meroket. Para pemangku kebijakan malah menambah kegelisahan dengan pernyataan yang meresahkan. PKI yang telah menorehkan masa lalu yang kelam dalam sejarah bangsa Indonesia diberi akses menjadi bagian dari prajurit TNI. Padahal, TNI merupakan garda terdepan dalam menjaga kedaulatan negeri. 

Parahnya, hal tersebut dianggap sebagai wujud rasa keadilan dan hak asasi manusia bagi seluruh rakyat Indonesia. Padahal, jika kita merujuk pada Pasal 28I UUD 1945. Pembatasan terhadap hak-hak politik orang-orang yang berkaitan dengan PKI tidak membatasi hak dasar seorang warga negara seperti hak hidup dan hak untuk diakui sebagai pribadi di depan hukum. Jadi, alasan HAM bisa jadi hanya mengada-ada.

Menurut Prof. Suteki dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diadakan Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) di akun YouTube Channel milik PKAD, pembatasan yang ditujukan kepada keturunan PKI merupakan pembatasan yang sifatnya situasional dan tidak permanen. Yakni tergantung kondisi politik. Bangsa Indonesia harus berhati-hati saat terdapat indikasi komunisme akan bangkit infiltrasinya di beberapa institusi.

Lagipula, pemerintah harus waspada terhadap komunisme 'gaya baru'. Mereka bergerak lebih soft, tapi sebenarnya memecah belah bangsa, adu domba, anti agama dan menebar paham Islamophobia. Kemudian, masa lalu yang menyakitkan tentunya masih menimbulkan rasa trauma mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat yang menyaksikan kekejaman dari orang-orang berideologi komunisme. Oleh karena itu, hendaknya kebijakan yang menyangkut kestabilan dan keamanan negara harus diperhatikan.

Namun, polemik yang terjadi di negara yang menganut sistem demokrasi sekularisme ini bukan hal baru yang ujug-ujug muncul. Menko Polhukam, Mahfud MD menjelaskan bahwa hasil putusan MK merupakan aturan yang pertama kali memberikan izin anak keturunan anggota PKI untuk dapat berpolitik di Indonesia. Keputusan MK pada tahun 2004, membatalkan ketentuan Pasal 60 huruf g UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu. Artinya, aturan yang dikeluarkan Panglima TNI turut difasilitasi dan dilegalkan Undang-Undang. Namun wajar, paham kebebasan dalam demokrasi dan sekularisme sebagai turunannya akan mengakomodasi paham apapun selama ditunjang kekuasaan dan cuan. 

Islam Dianaktirikan Dalam Demokrasi

Sungguh memprihatinkan, paham komunisme yang sudah jelas membahayakan dan tidak sesuai dengan fitrah manusia seolah dibiarkan ada. Komunis adalah organisasi internasional dan paham yang diyakini bukan hanya di Indonesia tapi di juga mendunia tidak dianggap sebagai sumber malapetaka. Padahal, kita bisa saksikan bagaimana komunisme telah membuat perpecahan, kerusakan tatanan hidup berbangsa dan bernegara di Jerman, Korea Utara dan Rusia.

Sayangnya, kenyataan itu tidak dianggap ancaman serius oleh penguasa. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa sistem demokrasi sekuler yang dianut negara saat ini sangat adaptif terhadap pemikiran, ajaran dan paham komunisme. Namun, sangat berbeda perlakuan mereka terhadap Islam. Pemerintah yang berpaham sekularisme selalu saja menebar kecurigaan, kebencian bahkan mengkriminalisasi baik terhadap ajarannya, pengembannya, juga simbol-simbol Islam. Padahal, sejarah mencatat bahwa Islam tidak pernah membuat kerusakan atau melakukan kekejaman di manapun.

Pemikiran Islam yang murni dan jelas berasal dari Sang Khalik, Allah Swt. dianggap radikal. Padahal, selama ini sistem demokrasi sekularisme lah yang menciptakan citra buruk dan menerapkan standar ganda. Kita lihat saat ini bagaimana opini yang digiring ke tengah masyarakat seakan PKI justru merupakan kekejaman rezim saat itu. Sehingga, saat ini turunannya menuntut keadilan dan hak yang sama dengan warga negara yang "bersih" dari pengaruh komunis. 

Jauh berbeda seperti bumi dan langit perlakuan mereka terhadap Islam. Kita ambil contoh organisasi seperti Al Qaeda atau Jamaah Islamiyyah. Pihak-pihak yang baru dicurigai dan belum tentu berkaitan apalagi terlibat bisa langsung dieksekusi. Bahkan, keluarganya banyak dikucilkan di masyarakat karena dianggap bagian dari teroris. Mereka mencoba menjauhkan umat dari ajaran Islam yang shahih dan menutup peluang kebangkitan Islam dan diterapkannya aturan Islam secara sempurna di dalam kehidupan kaum muslim, zalim.

Sungguh, Allah Swt. telah berfirman dalam Al Quran surat annisa ayat 174 dan 175 yang artinya: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya".

Maka, sekuat apapun manusia ingin memadamkan cahaya dan kebenaran Islam niscaya mereka sesungguhnya sedang berhadapan dengan Allah Swt. Sejatinya, sekuat apapun ideologi komunisme ingin bangkit berkuasa di tengah-tengah umat, sesungguhnya Allah Swt. tidak akan membiarkannya, Wallahualam bishawab.

Posting Komentar untuk "Islam Dikebiri, Komunisme Dikasih Hati"