Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ramadan Pergi, Bertemu Idulfitri, Khilafah Tetap Dinanti


Ilustrasi


Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Penulis)


Rasulullah saw. bersabda, "Dan rugilah orang yang bertemu dengan bulan Ramadan namun belum mendapatkan ampunan ketika berpisah dengannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan gharib).

Kini, Ramadan telah pergi meninggalkan seluruh umat Islam di dunia. Tak sedikit yang bersedih, bukan karena tak gembira menyambut sukacita euphoria hari nan fitri yang telah tiba. Tapi sedih karena perginya tamu nan mulia, tamu yang telah Allah siapkan bagi umat Islam meraih pahala sebanyak-banyaknya. Ramadan sebagai sarana healing dan takarub pada Allah sebebas-bebasnya. Waktu yang sangat berharga, karena bonus pahala begtu Allah obral di bulan nan agung.

Ramadan Bulan nan Mulia Memiliki Keutamaan

Di bulan Ramadan, umat Islam bisa curhat sepuasnya. Bahkan, di sepuluh Ramadan terakhir Allah siapkan malam Lailatulkadar, agar hamba-Nya berlomba mendapatkannya. Keutamaan malam Lailatulkadar mengungguli 1000 bulan. Tak heran jika di sepuluh malam terakhir Ramadan, banyak umat Islam yang berburu i'tikaf di masjid. 

Di tengah pelik dan sulitnya kehidupan, Ramadan menjadi sahabat setia untuk saling berbagi rezeki. Islam memang agama yang luar biasa, bagi umat Islam yang tak mampu pun berupaya bisa berbagi dengan kewajiban zakat fitrah. Tak pernah ada rasa takut berkurang harta dengan saling berbagi. Selain pahala, Allah akan ganti dengan bentuk yang lain yang dibutuhkan hamba-Nya. 

Tak cukup kata ketika menyebutkan keutamaan-keutamaan bulan Ramadan. Sebulan penuh sudah dilewati oleh umat Islam, suka dan duka bercampur selama menjalaninya. Suka dengan indahnya saling berbagi, sibuk mendulang pahala, dan sebagainya. Duka karena di bulan Ramadan nan mulia semua permasalahan umat belum menemukan solusi hakiki. Turunnya mahasiswa ke jalan, tidak bervisi ideologi belum ada pengaruh yang signifikan pada perubahan negeri.

Ramadan telah pergi membawa berjuta cerita pada-Nya. Sementara umat hanya bisa menangis melihat kepergiannya yang begitu cepat. Entah, apakah kita masih bisa bertemu Ramadan yang akan datang? 

Hari Fitri dan Khilafah yang Dinanti

Setelah Ramadan pergi, bertemulah umat dengan Idulfitri yang suci. Harapannya, setelah ditempa selama satu bulan penuh di bulan nan agung manusia memiliki kebersihan lahir dan batin. Maka, 1 Syawal dikenal dengan hari fitri atau Idulfitri. Tujuan utama atau buah dari manisnya menjalani puasa Ramadan selama satu bulan penuh adalah menjadi hamba yang bertakwa. 

Takwa yaitu manusia mampu menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Lalu, lahirlah insan yang bersih lahir dan batin. Tentu tak ada manusia yang tak pernah bersalah dan berdosa, namun setiap melakukan kesalahan bersegera menuju ampunan-Nya. Allah Swt. berfirman dalam surat Ali Imran ayat 133: "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."

Hari fitri digunakan oleh umat Islam untuk bersilaturahmi saling mensucikan hati dari segala penyakit hati. Memulai kembali semua dari nol, salah dan dosa yang pernah dilakukan sesama manusia telah dilebur bagai debu yang berterbangan. Oleh karenanya, hari fitri banyak dinanti umat agar bisa bertemu dengan sanak saudara yang ada di penjuru negeri. 

Namun, di balik suka cita bertemunya umat dengan Idulfitri masih menyisakan luka di hati terdalam. Karena Ramadan yang telah dilewati dan berjumpanya umat dengan hari nan fitri, belum jua bertemu dengan Khilafah yang selama ini dinanti. Umat terus berharap dan berdoa agar Khilafah segera tegak di muka bumi. 

Harapan itu tentu saja bukan bertumpu pada 'menagih janji' Allah yang sudah dituangkan dalam kitab suci. Atau pun ingin bukti bisyarah (kabar gembira) Baginda Nabi saw. dalam hadisnya. Bukan. Harapan yang bersanding dengan segala usaha yang mencoba dimaksimalkan dalam merealisasiakan dan menjemput janji-Nya serta bisyarah kekasih-Nya. Pada akhirnya bertanya pada diri, sudah sejauh mana upaya yang dilakukan dalam memperjuangkan Khilafah agar segera tegak di muka bumi?

Bagi orang yang beriman, melihat segala kerusakan dan kezaliman di muka bumi tentu tak bisa tinggal diam. Aktivitas amar makruf nahi mungkar menjadi kewajiban yang harus segera dilakukan. Apalagi kemaksiatan terbesar umat Islam adalah tidak diterapkannya aturan Allah. Karena dari pangkal itulah muncul segal kemaksiatan cabang lainnya. Maka, Khilafah adalah 'Taajul Furuud' (mahkota kewajiban). 

Segala perintah Allah tak akan pernah bisa dilakukan secara sempurna, jika wadah yang mengakomodir segala perintah-Nya untuk dilaksankan tak ada. Umat sudah cukup jenuh dengan segala penderitaan yang dialami sampai detik ini. Bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Pejabat yang dulu ketika kampanye berjanji akan memberi kesejahteraan, nyatanya hanya tinggal janji belum ada bukti. Lagi-lagi umat hanya dibohongi dan gigit jari 

Kapitalisme-Sekularisme hanya membawa umat pada kesengsaraan yang berkepanjangan. Karena aturan yang digunakan hasil dari pola pikir manusia yang serba lemah da terbatas. Bukankah yang menciptakan manusia, alam semesta dan isinya lebih tahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya? Laku mengapa manusia begitu sombong menolak aturan-Nya.

Melewati Ramadan dan Idulfitri ke sekian kali, Khilafah tetap dinanti. Umat yakin janji Allah itu pasti. Tugas kita sebagai hamba-Nya yaitu bersegera menjemput janji-Nya dan bisyarah kekasih-Nya. Diam atau bergerak, Allah tetap akan menunaikan janji. Apakah kita hanya diam atau berebut pahala dalam menjemput janji-Nya?

Allahu A'lam Bishshawab. 

Posting Komentar untuk "Ramadan Pergi, Bertemu Idulfitri, Khilafah Tetap Dinanti"