Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Singapura dan Islamofobia





Oleh : L. Nur Salamah, S.Pd (Aktivis Muslimah Batam)



Mengejutkan dan cukup menyita perhatian publik, pemberitaan tentang UAS (Ustadz Abdul Somad) yang tidak bisa masuk ke Singapura karena dinilai mengajarkan paham ekstremis dan segregasi. Padahal yang disampaikan oleh UAS selama ini adalah pandangan-pandangannya berdasarkan syariat atau ajaran Islam, seperti menyebut istilah kafir bagi orang yang tidak beragama Islam. 

Sebagai seorang ulama, sudah menjadi kewajibannya untuk menyampaikan ajaran Islam dengan benar, dalam rangka menjaga akidah umat. Karena dalam ajaran Islam, istilah kafir itu jelas yaitu orang yang tidak beragama Islam atau dengan kata lain orang yang tidak beriman dengan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Jika kafir ini dimaknai yang lain misalnya orang yang jahat atau orang yang curang dan lain sebagainya justru ini bukanlah ajaran Islam, dan itu merupakan ajaran yang sesat dan menyesatkan. 

Sehingga tidak salah jika masyarakat menilai bahwa pemerintah Singapura ini mengidap Islamofobia dan anti Islam. Kenapa dikatakan demikian, karena sesungguhnya alasan-alasan yang disampaikan mencerminkan Islamofobia dan kebencian terhadap Islam dan kaum muslimin.

Di samping itu, isi ceramah UAS yang menyingung tentang bom bunuh diri, yang dianggap oleh pemerintah Singapura mengajarkan paham terorisme. Dan ini sengaja digunakan oleh pihak-pihak yang anti Islam untuk menyerang Islam dan kaum Muslimin. Padahal dalam klarifikasinya di kanal youtube Rafli Harun, UAS hanya menyampaikan pendapat orang lain (ulama). Bahwa bom bunuh diri itu boleh dalam konteks Israel-Palestina.

Jika memang Singapura menyatakan dirinya sebagai negara yang anti ektremisme dan anti terorisme, seharusnya tidak berteman atau tidak bersahabat dengan para teroris dan ektremis. Padahal kita semua tahu siapakah Israel? Mereka tidak lagi sekedar mengucapkan, akan tetapi melakukan, membunuh, merampas, merampok dan melukai rakyat Palestina tanpa ada rasa kemanusiaan. Rakyat Palestina setiap hari hidup dalam suasana ketakutan karena kekejaman Israel. Tindakan yang demikian justru lebih tinggi dari ekstrem. Dan inilah teroris yang sebenarnya. Namun, anehnya pemerintah singapura bersahabat dengan para pemimpin Israel ini. Mereka bebas keluar masuk negara Singapura.

Padahal, jika kita perhatikan apa yang dilakukan oleh kaum muslim di palestina bukan bunuh diri seperti yang dimaksudkan oleh pemerintah Singapura. Akan tetapi merupakan perjuangan jihad fii sabilillah dalam rangka mengusir penjajah. 

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa Singapura bukanlah tetangga negara yang baik. Karena selain menunjukkan sikap anti Islam, pro terhadap Israel, juga mengkriminalisasi ulama serta terkenal sebagai negara yang menampung para koruptor.

Sudah seharusnya masyarakat khususnya kaum muslimin ini marah terhadap sikap pemerintah negara Singapura. Dan bukan sesuatu yang berlebihan jika masyarakat menuntut pemutusan hubungan diplomatik dengan Singapura yang menunjukkan sikap anti Islam dan mengkriminalisasi ulama.

Seharusnya Pemerintah Indonesia, sebagai negari muslim terbesar tersinggung berat dengan sikap pemerintah Singapura. Akan tetapi jika tidak tersinggung atau bahkan bersikap yang berlawanan tidak salah jika dikatakan bahwa Pemerintah Indonesia juga sejalan dengan pemikiran negara Singapura yang anti Islam.

Sungguh ironis, belum lama ini Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU PBB) di markas besarnya New York, AS telah memprokalmasikan 15 Maret sebagai hari internasional untuk memberantas Islamofobia. Lantas di mana bentuk pembelaan PBB dan dunia internasional terhadap Islam dan kaum muslimin, khusunya yang sedang terjadi terhadap ulama kita ini.

Meskipun PBB telah memproklamasikan hari anti Islamofobia, namun bukanlah jaminan bahwa sikap-sikap anti Islam, kebencian terhadap kaum muslimin serta kriminalisasi ulama tidak akan berulang. Karena umat islam saat ini lemah dan tidak memiliki junnah/ perisai yang mampu melindungi kehormatan Islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat kita lakukan selain terus berjuang mewujudkan institusi Islam yaitu Khilafah yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. 

Posting Komentar untuk "Singapura dan Islamofobia"