Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bundir Menjadi, Kapitalisme Abai Generasi





Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Ummat)


Duhai, kesedihan negeri ini seakan tak bertepi. Berbagai kabar buruk bertebaran tiada henti. Kabar yang mengiris hati kerap terjadi. Kabar tentang pelajar yang nekat bunuh diri hadir berulang kali.

Bundir dalam Sistem Kapitalisme

Pada tahun 2020, seorang mahasiswa ditemukan gantung diri di kamar kostnya. Mahasiswa tersebut diceritakan bahwa depresi karena skripsinya tidak kunjung diterima oleh dosen pembimbing (kompas.com, 15/7/2020).

Baru-baru ini, mencuat lagi kasus bundir. Ada seorang pelajar nekat bunuh diri karena tidak lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Selain itu, ia mendapat tekanan dari pacar.

Kasus ini viral di Twitter karena ada orang yang menceritakan kisah adik dari temannya yang memenuhi nazar bunuh diri. Nazar tersebut, apabila lolos PTN, dia akan menyantuni anak yatim. Namun, bila tak lolos, ia akan bunuh diri. Ternyata ia tidak lolos. Ia pun mengatakan kepada kakaknya bahwa ia akan memenuhi nazarnya. Ia sempat menghilang. Tak lama berselang, ia bunuh diri dengan menenggak semua obat yang diberikan psikiater dan overdosis alkohol (hops.id, 13/7/2022).

Bundir alias bunuh diri kian menjadi. Seakan jadi tren kekinian, bundir diminati pelajar sebagai solusi dari sebuah kegagalan. Bundir di kalangan pelajar atau pemuda ini ibarat wabah yang menular. Angka kasus bundir ataupun percobaan bundir terus merangkak naik. Pada tahun 2018, sebanyak 4.560 kasus bunuh diri di Indonesia (jawapos.com, 10/12/2021). Lalu, berdasarkan Statistik Potensi Desa Indonesia tahun 202, telah terjadi 5.787 korban bunuh diri maupun percobaan bunuh diri (antaranews.com, 8/12/2021).

Tingginya angka bundir pelajar dalam sistem kapitalisme mencerminkan betapa tapuhnya generasi milenial zaman now. Gaya hidup hura-hura, bebas, dan serba permisif membentuk karakter generasi yang rapuh. Sehingga, saat mereka sedikit disapa masalah, mereka akan mudah putus asa, mereka lebih melarikan diri dari masalah. Mereka hanya berpikir tentang bersenang-senang.

Putus asa adalah bentukan kapitalisme yang menjadikan pemuda menghendaki solusi instan. Generasi masa kini enggan berproses panjanh untuk meraih sebuah tujuan. Kapitalisme menggoyahkan jiwa mereka yang sedang diteepa ujian. Beragam tontonan dan berita bundir di kehidupan nyata terus disiarkan dan memengaruhi pemikiran. Apalagi generasi mileniak saat ini dikungkung oleh akidah kapitalisme, yakni sekularisme. Dimana agama tidak dijadikan sebagai pedoman hidup.

Parahnya lagi, pendidikan dalam sistem kapitalisme amatlah mahal. Sementara untuk mendapat kemapanan profesi atau jabatan, dibutuhkan lulusan pendidikan tinggi. Sayang seribu sayang, kapitalisme berkacamat dengan pundi-pundi nominal. Pendidikan yang merupakan kebutuhan pokok seluruh rakyat, harus diraih sendiri oleh rakyat tanpa pelayanan totalitas negara. Kapitalisme melarang engara menanggung biaya pendidikan karena akan memberatkan dan merugikan.

Biaya yang mahal, seleksi yang ketat, dsb. membuat masyarakat kesulitan mengenyam pendidikan. Negara berlepas tangan dalam mengurusi pendidikan agar dinikmati seluruh rakyat. Negara hanya hadir sebagai regulator, pembuat kebijakan yang juga memberatkan rakyat. Walhasil, bundmuh diri semakin marak terjadi bak janjr di musim hujan.

Pendidikan dalam Islam

Saat kerusakan menerpa seluruh bumi, maka memperbaikinya membutuhkan sokusi yang revolusioner. Saat jauh dari agama membawa pada petaka yang terpelihara, maka kembali pada agama adalah solusi yang baik. Apalagi Islam, Islam bukan sekadar agama ritual, namun berisi seperangkat aturan kehidupan. Islam berasal dari Zat Yang Mahabaik.

Islam adalah agama yang sempurna. Di dalamnya, terdapat aturan yang lengkap, termasuk aturan pendidikan. Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah kebutuhan adasi yang wajib dipenuhi oleh negara. Negara wajib menjamin seluruh rakyat untuk mendapatkan akses pendidikan. Pendidikan Islam sangat bertolak belakang dengan pendidikan kapitalisme.

Dalam Islam, kurikulum akidah Islam menjadi sebuah fondasi dalam ruang lingkup pendidikan di semua jenjang. Tujuan pendidikan Islam adalah mencetak generasi yang berkepribadian Islam. Dengan demikian, generasi muslim akannjauh dari sifat putus asa di medan juang kehidupan. Pola pikir dan pola sikap islami akan membuat mereka menjalankan aktivitas karena Allah semata. Mereka akan meninggalkan kemaksiatan, termasuk bunuh diri.

Tsaqafah Islam, ilmu pengetahuan, dan teknologi diajarkan pada generasi benar-benar disandarkan pada akidah Islam. Syariat Islam akan diterapkan secara total dalam kehiduoan, termasuk di ranah pendidikan. Maka, generasi muslim akan memahami hakikat hidupnya dan menerapkan syariat dengan penuh kesadaran sebagai konsekuensi keimanan. Sehingga, gemerasi unggul, generasi pemumpin peradaban mulia akan terus ada di tengah kehidupan. Abbas Ibnu Firnas Sang Penemu Pesawat, Ibnu Sina bapak kedokteran, dan lainnya merupakan salah satu bukti hasil dari pendidikan Islam. Saatnya kaum muslim kembali pada Islam untuk menjauhkan generasi muslim dari sifat mudah putus asa. 

Posting Komentar untuk "Bundir Menjadi, Kapitalisme Abai Generasi"