Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dibalik Euforia Ajang Olahraga


Dunia olahraga beberapa minggu lalu heboh dengan adanya perhelatan akbar skala internasional yaitu olimpiade RIO de Janeiro 2016 yang berlangsung pada 5 – 21 Agustus. Pada babak final diumumkan bahwa Indonesia berhasil memperoleh medali emas untuk cabang bulutangkis. Begitupun negara lainnya seperti Thailand yang berada di peringkat lebih atas dari Indonesia. Tentunya hal ini mengharumkan nama masing-masing negara. 

Semaraknya acara ini diwarnai berita heboh didalamnya. Hal yang mengejutkan datang dari atlet Jamaika yang meraih medali emas dalam cabang lari 200 m. Usain Bolt namanya. Dalam dunia maya tersebar foto mesranya di tempat tidur bersama gadis berusia 20 tahun (liputan6.com, 22/08). Dalam menyikapi masalah tindakan seks bebas ini tak dapat selamanya kita kaitkan dengan profesi seseorang. Tindakan seks masuk dalam kategori bangkitnya naluri nau (naluri kasih sayang). Munculnya naluri itu memang sudah menjadi potensi pada manusia yang diberikan oleh sang pencipta. Namun tetap saja hal ini muncul karena ada rangsangan yang memicunya. Rangsangan paling kuat adalah keadaan sistem saat ini berupa euforia yang penuh kebebasan. Misalnya dalam dunia olahraga, adanya ajang pertandingan saat ini sangat digandrungi oleh sebagian masyarakat diantaranya dari kalangan remaja yang mengaku mengapa mereka menonton? Jawabannya hanya karena para atlet ganteng, atlet berbadan tegap bersimbah keringat. 

Sejatinya, dunia olahraga sangat penting dalam kehidupan ini. Pada dasarnya olahraga berkaitan dengan kesehatan. Sehat tak hanya sekedar sehat jasmani. Bagaimana saat ini pun seorang olahragawan yang sehat jasmaninya, belum tentu sehat dari segi akalnya. Ataupun ketika dikembangkan menjadi sebuah ajang yang maju dalam pertandingan maka hal yang dibangun adalah materi berupa posisi kemenangan yang membuat harum nama suatu negara dan feedback hadiah yang besar nilainya. Hal ini melahirkan munculnya rasa nasionalis yang berlebihan dan memecah persatuan antar negara. Misalnya dalam Olimpiade RIO lalu, hanya gara-gara salah mengibarkan bendera pada upacara penyerahan medali, Tiongkok kecam olimpiade RIO. 

Berbeda jika dilihat dari kacamata Islam. Olahraga dapat dikaitkan dengan Islam. Islam merupakan landasan  tindakan setiap muslim. Dalam masalah kesehatan, Islam juga mengambil jalan olahraga sebagai pola hidup sehat. Bahkan dalam beberapa perkara ibadah tertentu ketika ditelusuri efek sampingnya juga berpengaruh pada kesehatan tubuh. Makanya banyak kita dengar istilah seperti gerakan sholat yang menyehatkan (walau pemahaman seperti ini juga keliru). Terlebih dari itu, dalam masalah cabang olahraga seperti memanah, berkuda dan berenang yang menjadi anjuran, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah” (HR. Bukhari/Muslim). Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan generasi yang kuat fisiknya dan sehat akalnya, bukan untuk ajang pertandingan antar negara yang hanya sekedar memperebutkan piala. Namun mempersiapkan generasi yang siap terjun dalam pertandingan melawan musuh Islam demi mempertahankan panji Islam. Juga, generasi yang siap mempertaruhkan jiwanya ketika kekalahan itu terjadi. 

Terlebih ketika kita perhatikan bagaimana dunia olahraga saat ini yang terpisah dari aturan Islam menganggap Islam tidak berhak mengatur urusan olahraga. Misalnya dalam masalah pakaian yang membuka aurat dan campur baur laki-laki dan perempuan. Dalam Islam maka hal ini menjadi sebuah kewajiban yang harus dipastikan berjalan sesuai dengan aturan syariat. Bukan menjadi sesuatu yang tabu ketika hal itu dijalankan. Keberadaan aturan Islam inilah yang mencegah adanya pemberitaan terkait perilaku atlet yang unmoral. Maka dengan aturan Islam menjadikan dibalik olahraga bukan hanya sekedar euforia yang menjerumuskan pada berbagai kemaksiatan, namun didorong oleh semangat dalam membangun mental dan fisik yang siap menjadi tameng pelindung Islam. Wallahu’alam bi ash-shawab. [VM]

Pengirim : Nola Dwi Naya Sari (Aktivis Kajian Islam Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia 2015)

Posting Komentar untuk "Dibalik Euforia Ajang Olahraga"

close