Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dunia Dalam Derita…


Oleh : Umar Syarifudin 
(Syabab Hizbut Tahrir Indonesia)

Mantra demokrasi terus menjadi alasan bagi dilakukannya intervensi militer Barat di negeri-negeri Muslim. Sementara di dalam negeri baik di Amerika Serikat dan Inggris serta Perancis, Jerman dan Italia semuanya mendapatkan hasil racun dari demokrasi, tetapi terus menyebarkan sistem pemerintahan yang korup ini di dunia Muslim. Musim semi Arab telah menunjukkan bahwa dunia Muslim bekerja untuk menentukan nasibnya ke tangannya sendiri, inilah yang mengkhawatirkan dunia barat, hingga mereka berusaha untuk mempertahankan cara mereka hidup demokrasi untuk tetap hadir agar perang berlanjut. Mereka melakukan hal ini dengan hanya engan menghilangkan masalah-masalah demokrasi di dalam negeri.

Temuan-temuan di Negara penganut demokrasi bahwa demokrasi berada dalam “akhir kemunduran jangka panjangnya” karena kekuatan perusahaan-perusahaan menjadi semakin menguat, para politisi menjadi semakin kurang dalam mewakili konstituen mereka dan para warga yang kecewa berhenti untuk ikut memberikan suara atau bahkan berhenti mendiskusikan masalah-masalah politik saat ini.

Kegagalan pemerintah dan korupsi membuat banyak kalangan menjadi pesimis akan terjadinya perubahan yang positif bagi masyarakat. Masyarakat di Barat yang cenderung sibuk untuk sekadar bisa mempertahankan hidup dengan sesuap nasi tentu akan merasa pesimis untuk mengharap perubahan. Sementara masyarakat di dunia Islam dicekoki dengan pandangan bahwa mereka adalah lemah dan Barat adalah adidaya. Para penguasa yang telah menjual harkat dan martabat negera-negara mereka dengan memperkaya diri mereka adalah yang paling bertanggung jawab terhadap rendahnya rasa percaya diri rakyatnya.

Kemuakan masyarakat terhadap partai politik semakin bertambah-tambah. Rakyat melihat di depan mata mereka, bagaimana para politisi ini lebih disibukkan oleh suap menyuap, uang pelicin, yang istilah kerennya uang gratifikasi. Alih-alih mengurus rakyat, sebagian politisi partai politik malah disibukkan skandal seks yang memalukan. Lagi-lagi logika, wakil rakyat yang dipilih rakyat akan berpihak kepada rakyat runtuh.

Memang sistem demokrasi secara natural akan membentuk negara korporasi. Pilar negara korporasi ini adalah elit politik dan kelompok bisnis. Kelompok bisnis mem-backup politisi dengan dana, maklum saja biaya politik demokrasi memang mahal. Setelah terpilih sang politisi terpaksa balas budi, membuat kebijakan untuk kepentingan kelompok bisnis. Lagi-lagi kepentingan rakyat disingkirkan.

Sepertinya para rejim demokrasi lebih mementingkan menjaga ‘image‘ sebagai ‘goodboy‘ di depan negara–negara kapitalis dibanding, menjadi penguasa yang baik untuk rakyatnya. Partai-partai politik juga tidak jauh beda. Mereka yang dipilih oleh rakyat, logikanya tentu saja harus memihak rakyat. Kenyataannya tidaklah begitu. Justru lewat proses demokrasi, DPR mengeluarkan UU yang lebih berpihak kepada kelompok bisnis bermodal besar terutama penguasa asing. Dan itu secara resmi dan legal disahkan oleh partai-partai politik di DPR.

Kebangkitan Islam politik ditakutkan Barat, di saat situasi ekonomi yang suram dituding sebagai penyebab meningkatnya gelombang bunuh diri di seluruh dunia. Para pakar medis menyatakan sakit mental juga telah merebak di sini, di tengah terjungkalnya pasar saham pada waktu belakangan ini. krisis ekonomi global kemungkinan akan menyebabkan naiknya angka bunuhdiri dan sakit mental, dengan banyak orang sedang berjuang mengatasi kerugian akibat disitanya rumah mereka atau lenyapnya penghasilan mereka.

Saat ini AS atas nama demokrasi terus memecah belah Irak dan suriah menjadi wilayah Sunni, Syiah dan Kurdi. Kemungkinan, barat akan melakukan pecah belah Irak lebih lanjut dan bahkan mungkin mengkerat-keratnya. Tidak ada perubahan kalau umat Islam di Irak dan wilayah itu harus melawan politik pecah belah ini dengan sekuat tenaga.

Media mainstream dan para politisi telah menyebar komentar Islamofobia yang sensasional dan menebar ketakutan setelah peristiwa baru-baru di Irak. Kali ini ISIS adalah obyek utama  dengan menggambarkan kaum Muslim, Islam dan cita-cita Islam seperti Jihad dan Khilafah sedang sebagai kejahatan dan diserang.

Sementara Afrika, melalui sistem demokrasi yang dipaksakan Barat dikondisikan miskin, kekurangan makanan, kelaparan, dan perang saudara. Sejak Afrika diperebutkan pada abad ke-20 untuk mendapatkan mineral dan sumber daya oleh para kolonialis Eropa, benua Afrika dikerat-kerat hanya sebagai jalur pasokan sebagai usaha mereka untuk membangun koloni jajahan. Bagi para kolonialis Barat, Afrika adalah mahkota permata yang terlalu mahal untuk diserahkan.

Sementara kepentingan tradisional negara-negara kapitalis Barat di Afrika telah ‘siap panen’, berlian dan mineral lainnya, benua itu telah menjadi perhatian baru-baru ini karena penemuan minyak dan bertambahnya produksi minyak pada ladang-ladang minyak yang ada. Hal ini terjadi pada saat realisasinya telah menunjukkan ketidakstabilan pasokan minyak Timur Tengah di masa depan, karena bangkitnya Islam politik.

Afrika mewakili porsi yang sangat signifikan dari sumber minyak dunia. Negara-negara kapitalis sedang mempersiapkan bumi Afrika untuk dilakukan eksplorasi di darat dan di bawah laut, perusahaan-perusahaan minyak menyuap dengan jumlah uang yang signifikan kepada para pejabat pemerintah Afrika, meningkatkan pengeluaran militer bagi Pasukan Perdamaian Amerika di Afrika dan kunjungan presiden beberapa  kali untuk mengamankan kesetiaan politik bagi ekspor minyak . Perusahaan-perusahaan minyak Barat dan pemerintah Afrika mimiliki gaya Kapitalisme yang sama dan karenanya kekayaan yang dihasilkan dari ekspor minyak cenderung beredar di antara mereka sendiri, dengan meninggalkan rakyat kebanyakan dalam keadaan lebih miskin, suatu fakta yang didokumentasikan oleh beberapa organisasi. Oleh karena itu, sebanyak apa pun sumber daya yang ditemukan di Afrika, kemiskinan akan terus menjadi bagian dari benua Afrika.

Sudah saatnya umat Islam dan masyarakat luas untuk tidak terjebak dalam histeria dan kebohongan kaum penjajah. Suatu kebohongan adalah tetap kebohongan, tidak peduli berapa kali hal itu diulang. Kita telah melihat semua ini sebelumnya di Irak, Afghanistan, Suriah dan di tempat-tempat lain. Kita harus menanggapi kebohongan ini dengan kebenaran: kebenaran bahwa masalah sebenarnya, akar masalahnya, adalah kekerasan barat, yang memunculkan kekerasan dari setiap individu atau kelompok berkali-kali dan pada kenyataannya menyebabkan penindasan yang memaksa orang untuk bereaksi.  

Sudah saatnya kita suarakan dengan lantang untuk tegaknya sistem Khilafah akan menerapkan syariah Islam yang rahmatan lil alamin. Syariah merupakan aturan hidup yang bersumber dari Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang kalau diterapkan pastilah akan memberikan kebaikan kepada manusia. Tidak seperti hukum dalam sistem demokrasi yang lebih berpihak kepada segelintir minoritas pemilik modal. [VM]

Posting Komentar untuk "Dunia Dalam Derita…"

close