Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Islam Memerintahkan Umat Islam dan Jokowi Untuk Memerdekakan Muslim Myanmar


Oleh : Ainun Dawaun Nufus – MHTI Kab. Kediri 
(Pengamat Sosial Politik)

Kekerasan yang terus-menerus antara militer Myanmar dengan suku Rohingya. Kekejaman militer Myanmar sudah di luar batas kemanusiaan. Mantan Presiden Myanmar Thein Sein pernah mengatakan. “Myanmar akan mengirim kaum Rohingya pergi, jika ada negara ketiga yang mau menerima mereka, kami akan mengambil tanggung jawab atas suku-suku etnik kami, tapi tidak mungkin menerima orang-orang Rohingya yang masuk secara ilegal, yang bukan termasuk etnik Myanmar", kata Sein kepada Antonio Guterres, Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi (14/ 7/2012).

Kaum Muslim Myanmar merupakan 4 persen total populasi 60 juta, menurut sensus pemerintah. Namun, menurut laporan kebebasan beragama tahun 2006 Departemen Luar Negeri AS, populasi non-Buddha di negara itu seringkali diremehkan dalam sensus. Para pemimpin Muslim memperkirakan bahwa sebanyak 20 persen populasi Myanmar mungkin adalah Muslim. Pada beberapa kesempatan dalam beberapa dekade terakhir, bentrokan kekerasan yang diarahkan pada minoritas bertepatan dengan sensitivitas politik di negara itu.

Ironisnya, media tunduk dan berita-berita dipolitisir, sehingga tidak ada informasi yang jujur, transparan dan obyektif , sebaliknya, media memberitakan apa yang tuan-tuan mereka di Barat ingin agar dunia tahu, jadi mereka hanyalah budak kaum kolonialis. Lebih menyakitkan lagi, Bangladesh, Malaysia, Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, namun tidak bereaksi atau menanggapi operasi pembunuhan dan pengusiran yang terjadi. Jadi, negara itu seperti Negara Myanmar dan keduanya mirip dalam hal kriminalitas dan pengkhianatan.

Genosida dan pembersihan etnis atas kaum Muslim Myanmar, termasuk operasi sistematis pembantaian dan pengusiran, saat menghadapi pengkhianatan dunia internasional dengan sikap diamnya dan tidak adanya keterlibatan negara-negara Arab dan media internasional secara sengaja, pemandangan atas pembantaian itu tidak lagi tampak seperti sebuah konspirasi seluruh dunia terhadap kaum Muslim Myanmar, melainkan tampak seperti konspirasi untuk memusnahkan kehadiran mereka di sana.

Kondisi puluhan ribu Muslim Myanmar memprihatinkan setelah mereka menghadapi eskalasi berbagai aksi pembantaian dan pengusiran di Myanmar. Setelah diserang dengan beragam stigma buruk dan manipulasi fakta, termasuk pengaburan fakta sejarah, memanipulasi jumlah angka korban yang terbunuh, rezim dusta Myanmar menyatakan tidak adanya unsur genosida di Myanmar, hal itu berulangkali dinyatakan, bahwa problem muslim Myanmar hanyalah sekadar konflik sosial dan bukan konflik agama.

Negara kriminal Myanmar, sebuah negara agen Barat, dan seruan sama seperti kepada semua negara-negara Barat, bahwa hari-hari penindasan meskipun menjadi lebih lama, akan berubah menjadi kerugian dan penyesalan bagi negara itu. Bahkan jika tirani dan arogansi Firaun berlangsung hingga waktu yang lama, Allah akan menghinakan dan menghancurkannya. Dan ini adalah hukum Allah yang berkaitan dengan pelaku-pelaku kejahatan.

Meskipun kita telah mengidentifikasi para oknum atas darah Muslim di Myanmar, tidak berarti bahwa mereka sendirilah yang harus disalahkan, melainkan tanggung jawab jatuh kepada setiap leher kaum muslim yang mampu untuk membantu mereka. Jadi, apakah yang membuat tentara Muslim di negara-negara tetangga Myanmar, Bangladesh, Indonesia dan Malaysia masih mengunggu? Apakah mereka tidak melihat pembunuhan dan pengusiran yang dilakukan atas saudara-saudara mereka?

Di manakah pemimpin dan tentara umat Islam yang mengaku sebagai saudara seakidah mereka berada pada saat ini? Di manakah Jokowi dan seluruh pemimpin Islam di dunia pada saat ini? Bukankah militer mereka seharusnya diseru untuk melakukan Jihad ke atas mereka yang menghalang dan memusuhi Islam secara nyata dan terbuka? 

Tragedi demi tragedi menujukkan , penguasa negeri-negeri Islam, termasuk presiden Jokowi tidak sungguh-sungguh peduli terhadap nasib umat Islam. Padahal Jokowi adalah presiden negeri muslim terbesar di Asia Tenggara yang seharusnya menggunakan powernya untuk menghentikan kebiadaban ini.

Penguasa muslim lain seperti Malaysia,Brunai di Asia Tenggara dan kawasan dunia lainnya juga tidak melakukan aksi kongkrit. Sementera Bangladesh malah menolak untuk membantu kaum Muslim yang tiba di negara itu. Negara ini bahkan mengembalikan  dan menutup perbatasan untuk saudara Muslimnya. [VM]

Posting Komentar untuk "Islam Memerintahkan Umat Islam dan Jokowi Untuk Memerdekakan Muslim Myanmar"

close