Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teguhlah!


Oleh : Taufik Setia Permana Aktivis Mahasiswa Malang

“Wajib bagi kita untuk teguh menghadapi kesewenang-wenangan dan menolak tunduk di hadapannya. Bahkan kekejian akan membuat kita bertambah kuat. Sebagaimana, semakin besarnya bara api, membuat besi baja murni makin mengeras dan kokoh. menentang para agen yang terus mengeksploitasi kita, mereka berkhidmat pada kepentingan musuh-musuh kita, dan berusaha membuat kita takluk di hadapan musuh-musuh kita.” Kata Ustadz Umar Syarifudin – Pengasuh Majlis Taklim al Ukhuwah.

Kurang sigapnya POLRI dalam menangani kasus ini menyebabkan meletusnya aksi jilid III yang diikuti lebih dari 7 juta kaum muslimin. Aksi ini sekaligus menjadi aksi paling besar daripada aksi jilid I yang diikuti 2 juta kaum muslimin. Pada aksi jilid II pihak keamanan tidak mengizinkan kaum muslimin untuk turun ke jalan.

Dalam aksi jilid III yang digawangi GNPF-MUI mampu menggetarkan tanah ibu kota dengan dengungan takbir yang digelorakan sebagai simbol keagungan umat Islam. Namun ada beberapa hal yang perlu dicermati oleh kaum muslimin, kita perlu melihat kedepan yang terjadi pada umat ini dan kita perlu menerka dan meraba apa yang kita harus lakukan demi kamslahatan umat ini sehingga tidak ada lagi kasus-kasus penistaan yang merendahakan agama Islam.

Melihat gelora semangat yang bergulir dan ukhwah sesama kaum muslimin semakin erat maka perlu di kawal arah pergerakan tersebut. Semua kaum muslimin sepakat arah pergerakan yang semestinya bukan hanya ganti rezim lalu tanam rezim pada akhirnya tidak membuahkan solusi yang hakiki. Pengawalan arah pergerakan ini tidak lain memurnikan arah pemikiran yang sesuai dengan aqidah Islam, bukan semata pada asobiyyah, dan bukan sebatas tangkap serta penjarakan ahok. 

Jihad Revolusi pada faktanya terdapat banyak multi tafsir pasalnya umat ini belum terlalu memahami makna di balik arah revolusi tersebut. Hal ini dibuktikan orang yang turun aksi di jilid I dan III memiliki banyak background, ada yang dari pihak nasionalis, ada yang dari pihak masyarakat non-muslim yang kebetulan tidak sepakat dengan ahok, ada kelompok-kelompok sekuler, dan ada kelompok-kelompok parpol yang hanya mencari opini publik.Sungguh, penulis sangat mengkhawatirkan kondisi umat ini apabila ada jihad revolusi tanpa adanya kesepahaman antar umat islam dengan umat-umat yang lainnya terkait arah revolusi tersebut, ini dapat mengakibatkan caosh yang mengerikan.

Maka kita perlu bercermin pada aksi revolusi tahun 1998 dan aksi pengkudetaan di Mesir. Aksi revolusi 1998 yang digawangi oleh pergerakan mahasiswa seluruh Indonesia yang menyuarakan revolusi ternyata hanya sebatas debu yang berterbangan, hal ini diakibatkan masih buramnya konsep solusi yang harus diterapkan untuk negeri ini. Sehingga terjadi kesepakatan hanya copot rezim, ganti rezim, dan tanam rezim yang sejatinya seperti memberikan air rucun ditambah dengan racun. Buramnya makna revolusi juga terjadi pada negara Mesir yang pada saat itu di pimpin oleh presiden Mursi. Mursi menang pada pemilu tahun 2012 mengalahkan Ahmed Shafik mantan perdana menteri masa jabatan Hosni Mubarak.

Pada masa pemerintahan Mursi yang menjunjung tinggi Islam sebagai supremasi hukum utama dan memenggal penggunaan hukum konstitusi demokrasi, disamping itu tetap bermesraan dengan Amerika, hingga pada satu tuntutan Mursi gagal memenuhi kemauan Amerika sehingga menyebabkan kemarahan dikalangan militer yang dikomandoi oleh Jenderal Abdel-Fattah el-Sissi. Sehingga pada 30 Juni Mursi dilengserkan dan digantikan oleh Jendral el-Sissi.

Perlu kaum muslimin mengambil ibrah dari peristiwa yang terjadi pada perpolitikan ala demokrasi bar-bar ini. People power merupakan menjadi hal center ketika menyuarakan perubahan pada sistem. Rakyat yang asing dengan revolusi bisa menjadi blunder bagi penggagasnya. Revolusi jihad yang didengungkan sekarang ini memiliki makna ganda yang mampu diarahkan kemana saja oleh latar belakang orang yang berkepentingan. Bila disalah arahkan maka bisa jadi revolusi jihad malah justru memoles sistem bar-bar ini dan memarginkan kaum muslimin. Tentu segala usaha yang kita lakukan belakangan ini tidak ingin sia-sia begitu saja. 

Maka apabila melihat dari makna aksi Revolusi Jihad harus diarahkan ke arah yang semestinya yaitu kembali pada aqidah Islamiyyah.Para tokoh Islam di dukung para ulama saling membahu menyuarakan dan memahamkan syarita islam ditengah-tengah umat yang bermacam pikiran, disamping itu tetap memperjuangkan revolusi jihad membebaskan sistem demokrasi bar-ber menuju Khilafah Islamiyyah. Niscaya, jika hal tersebut dilakukan tidak akan ada lagi penista-penista agama agung ini.

Perbedaan fikrah menjadi tabir keputus asaan umat ini, namun Allah memperlihatkan dari beberapa aksi digelar telah menjadi bukti bahwa walaupun berbeda dalam memahami uslub dakwah sejatinya umat ini bisa disatukan dalam satu tujuan. Sehingga peran organisasi Islam haruslah satu fikrah dan tariqah aqidah Islam sebagai solusi hakiki. Ketika umat terpahamkan mengenai syariat Islam maka umat sendiri-lah yang menjunjung syariah Islam dan memperjuangkan peneggakan Khilafah ala minhaj nubuwah. Semangat kaum muslimin yang sekarang ini sedang menggelora harus dikobarkan terus-menerus serta tetap mengawal arah opini agar umat ini tidak terjatuh dalam jurang kebathilan. [VM]

Posting Komentar untuk "Teguhlah!"

close