Api Revolusi di Suriah, Padamkah?


Rakyat Suriah menanggung beban berat dalam pergolakan revolusi selama beberapa tahun terakhir, menanggung masalah rezim tiran, kemiskinan, hegemoni AS dan masalah pengungsian. Human Rights Watch melaporkan Otoritas Yordania segera mendeportasi pengungsi Suriah. Dilansir dari Middle East Monitor, Senin (2/10) orang-orang Suriah tidak diberi kesempatan untuk menolak pemindahan mereka dan Yordania belum mengangap kebutuhan pengungsi sebagai perlindungan internasional.

Semangat revolusi di wilayah ini masih menjadi penghalang besar yang akan menghancurkan semua konspirasi barat dan antek-anteknya. Mereka melakukan konspirasi demi konspirasi, yang tujuannya adalah memalingkan revolusi ini dari jalan Islam, dan berusaha mengaborsinya, kemudian menariknya pada kekuatan politik barat.

Ketika negara-negara barat, rusia dan cina, serta para penguasa bonekanya di kawasan timur tengah melihat perkembangan situasi di Syam, dan terlihat jelas perjuangan pembebasan oleh kelompok revolusi kaum muslimin yang berjuang untuk pembebasan dari rezim, pilar-pilarnya, pemikirannya, dan ketergantungannya, kemudian mengganti rezim Bashar yang dengan sistem Islam yang agung. Hal ini terlihat jelas pada semangat juang kaum muslim yang memiliki ikatan kuat dengan Islam, bahkan menjadikan islam sebagai kepemimpinan pemikiran (qiyâdah fikriyah) bagi revolusi mereka.

Barat benar-benar berusaha untuk memerangi konsep jihad pada diri rakyat Suriah, dan menganggapnya sebagai bagian dari terorisme, sebagaimana yang mereka klaimkan. Dan itulah sifat yang diberikan kepada orang-orang yang melakukan aktivitas berupa jihad fisik dalam membela negerinya, kehormatannya dan kesuciannya. Barat pimpinan amerika bekerja keras mendistorsi reputasi para pengemban dakwah serta mujahidin yang mukhlis.

Kejahatan terus dilakukan oleh amerika terhadap rakyat suriah melalui bonekanya Bashar, AS terus merajut konspirasi keji. Rusia diundang masuk AS untuk ambil peran pengacauan, dan ketakutan Rusia sejalan dengan ketakutan AS yang terus-menerus memberi kesempatan waktu pada Bashar untuk menindas rakyatnya sendiri. Sementara Iran telah menyimpang, dan melakukan kebohongan secara sadar, serta menjauhkan dari kemanusiaan dengan mendukung aksi kriminalitas dan pembantaian secara brutal, bahkan berpartisipasi di dalamnya.  

Assad telah menerapkan politik bumi hangus, “al-asad au nahriqu al-bilad” (mendukung asad atau kami bumihanguskan negeri ini) . Dia mengira, kekejamannya akan menghentikan perlawanan rakyat Suriah. Ternyata tidak. Rakyat Suriah yang mewarisi keberanian, keteguhan, dan kesabaran pahlawan-pahlawan Islam seperti Khalid Bin Walid yang dikubur di tanah As Syam, melakukan perlawanan yang luar biasa. Para mujahidin Suriah, terinspirasi dengan kata-kata mulia pahlawan Islam Khalid Bin Walid sebagaimana yang terdapat dalam kitab al Ishabah karya Al Asqalani,  yang dipatri pusat kota Homs : “Ku mencari kematian, dengan kemungkinan itu bisa didapat, tetapi aku belum ditakdirkan, kecuali mati di atas tempat tidurku. Tidak ada satu perbuatan yang paling aku harapkan, setelah kalimah lailaha illa-llah, ketimbang suatu malam di mana aku bermalam dengan memakai perisai, di bawah cahaya bulan di langit dan guyuran hujan hingga subuh, sampai kami menyerang (dan mengalahkan) kaum kafir.” 

Negara-negara imperialis telah menghabiskan sejumlah besar kekayaan untuk menghadang kebangkitan Islam ideologis di suriah, menempatkan berbagai duri dan pagar besi di depannya agar seruan ini lenyap. Barat juga membangun aliansi dengan beberapa kelompok yang disebut blok muslim moderat, dan memberi mereka jalan seluas-luasnya untuk berpartisipasi politik, serta akses ke gedung-gedung parlemen dan istana para penguasa, dengan harapan terjadi perubahan konsep Islam terkait pemerintahan, juga penyesatan politik dan pemikiran umat Islam, namun semua ini gagal, terbongkar boroknya. Justru hasilnya adalah kebalikan dari apa yang mereka harapkan, dimana Islam ideologis telah mengakar dan berkembang pesat hingga dakwahnya mengkristal dalam diri muslim Suriah. [vm]

Penulis : Ilham Efendi - Resist Invasion Center (RIC)

Belum ada Komentar untuk "Api Revolusi di Suriah, Padamkah?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel