Politik Kekuasaan dan Permainan Cepat Antara Inggris dan Uni Eropa

Inggris dan UE
Inggris dan Uni Eropa mengalami jalan buntu terkait ketentuan Brexit dalam perundingan di Brussel, Senin (4/12). "Meski kami berupaya sebaik mungkin dan kami bersama tim kami melakukan kemajuan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir mengenai isu terakhir keluarnya (Inggris dari UE), masih belum memungkinkan mencapai kesepakatan penuh pada hari ini," ujar Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker kepada awak media usai bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Theresa May, demikian dilansir dari AFP. 

Komentar

Baik Inggris maupun UE, kedua belah pihak bersaing dalam permainan cepat mengasumsikan sikap epik intrik geopolitik. Menyoroti Brexit, warga Inggris melihat dalam perspektif ‘apakah keuntungan menjadi bagian dari entitas supra nasional lebih berharga daripada melakukannya sendiri?” Ini tidak berbeda dengan kalkulus menjadi bagian dari institusi nasional supra manapun apakah itu PBB, WTO atau NATO. Pada dasarnya ini tentang kedaulatan, publik Inggris sendiri terbelah percaya pada kedaulatan absolut atau kedaulatan relatif. Namun dari perspektif yang lebih jernih, perdebatan ini memiliki beberapa aspek menarik, terlepas dari isu inti yang sebenarnya tidak relevan.

Alasan inti masalahnya tidak relevan adalah apakah elit Uni Eropa di Brussels maupun elite Inggris, pandangan mereka sama. Prioritas pelayanan mereka ditujukan untuk elit kapitalis, orang kaya bukan orang miskin, perusahaan multinasional bukan usaha kecil. Elit di negara-negara bangsa sama sekali tidak berhubungan saat para birokrat berada di Brussels. Mereka membatasi diri pada ibu kota mereka dan beroperasi dalam kepompong dan fantasi mereka sendiri; sesekali berkeliaran untuk melihat konstituen mereka dalam kesempatan foto yang telah diatur sebelumnya. Di negara-negara barat, ada celah legitimasi di mana orang-orang percaya bahwa sistem tersebut dicurangi, bahwa politisi berada dalam daftar gaji khusus dan memakluni bahwa kedaulatan untuk ‘rakyat kecil’ adalah sebuah kisah dari mitologi Yunani.

Sangat tidak mungkin EU27 - EU tanpa Inggris - akan bertahan dalam bentuknya sekarang. Untuk satu, Inggris tidak akan pernah mentolerir kekuatan kontinental yang kuat. Hal yang sama berlaku untuk Amerika dan Rusia - keduanya akan berusaha untuk meluruskan lingkungan pengaruh mereka sendiri. Lalu ada selera populisme yang sesungguhnya, yang cenderung mendorong hiper-nasionalisme yang akan merusak benua itu.

Menilik sejarah, Politik dominasi selalu menjadi ciri politik Eropa, dan banyak orang Eropa salah percaya bahwa sekarang Uni Eropa dibentuk sepenuhnya oleh mereka. Sarjana Amerika, Kagan telah dengan tepat menekankan bahwa tanpa keamanan Amerika, Uni Eropa tidak akan ada. Kecerdikan Amerika dan uang sangat penting bagi proyek Eropa. Tujuan utama Amerika adalah untuk melawan ekspansionisme Soviet dan Eropa yang bersatu yang berkembang dengan kapitalisme adalah tembok raksasa yang berat terhadap komunisme Rusia.

Monnet yang didukung oleh Marshall Plan di Amerika merancang usaha untuk mengubah Komunitas Batubara dan Baja Eropa (European Coal and Steel Community) menjadi blok terpadu yang dapat bertahan melawan Uni Soviet. Fakta kegagalan Eropa melawan Uni soviet memberikan dorongan yang diperlukan untuk Perjanjian Roma pada tahun 1957, yang menetapkan dasar untuk percobaan integrasi Eropa.

UE sendiri tidak dirancang untuk menjadi entitas supra nasional yang koheren. Inggris bukanlah anggota pendiri Uni Eropa dan berulang kali ditolak oleh Presiden Prancis yang menduga bahwa agenda Inggris tidak sesuai dengan prinsip-prinsip organisasi. Prancis yang berada di jantung proyek menginginkan Eropa yang kuat untuk menjatuhkan Amerika, Jerman dan Inggris. Namun kontradiksi UE terlalu banyak diantaranya Serikat ekonomi tanpa serikat politik, pasar bebas tanpa mata uang bersama, dan kebijakan luar negeri tanpa penegakan hukum hanyalah beberapa kontradiksi mencolok yang kita lihat sekarang. Setelah hampir enam dekade, Uni Eropa makin layu, rapuh dan lebih xenofobia di masa tuanya sebelum kematiannya. 

Terlepas dari gagasan Eropa, Islam telah memainkan peran penting dalam membentuk peradaban Barat. Poin interaksi antara Islam dan Barat tergambar dalam sejarah dan politik kekhilafahan pernah masuk di jantung Eropa - memberi Eropa kekuatan intelektual yang diperlukan untuk bangkit kembali. Betapapun kerasnya Eropa mencoba menyamarkan masa lalu Islamnya, Islam akan memainkan peran penting di masa depan Eropa. Meskipun ada kekuatan yang bersaing untuk keunggulan di benua ini, tantangan Islam tidak jauh. Eropa saat ini menikmati permainan dengan sejumlah besar isu Islam, mulai dari keamanan hingga akomodasi umat Islam yang tinggal di Barat. Isu kembalinya kekhalifahan digunakan untuk menekan kepentingan umat Islam saat ini. Sedangkan Sarjana Prancis, Boualem Sansal sudah memprediksi kemunculan Eropa dan meramalkan Islam akan menguasai dunia pada tahun 2084. [vm]

Penulis : Umar Syarifudin (Pengamat Poltik Internasional)

0 Response to " Politik Kekuasaan dan Permainan Cepat Antara Inggris dan Uni Eropa"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel