Polemik Ibu Kota Israel


Pengakuan Jerussalem sebagai ibukota Israel merupakan sebuah keniscayaan dari kebijakan politik AS. Jika selama ini presiden presiden baru hanya sebatas bantuan militer, bantuan ekonomi dan dukungan politik atas eksistensi Israel. Maka untuk melengkapi dukungan itu, AS mengakui Jerussalem sebagai ibukota Israel. Keputusan yang dibuat pada tanggal 6 Desember 2017 oleh Donald Trump. 

Bisa jadi ini adalah mimpi besar Israel dengan Zionisme. Sebuah harapan yang sudah terpatri sejak berdirinya Negara Israel pada zamannya Theodore Hertzl. Syahwat penjajahan yang mereka terus kembangkan selama ini adalah memang untuk itu, yakni merebut ‘Tanah Yang Dijanjikan’ dalam doktrin zionisme. Dimana mereka berhasrat untuk meluaskan wilayahnya ke seluruh Palestina. Bahkan melebar dari Mesir hingga Irak. Hanya tertulis dalam lambang bendera mereka. Dimana garis atas menandakan Sungai Nil dan di bawah adalah sungai Eufrat. 

Dan sejak 1948 hingga 2017 wilayah yang dikuasai semakin besar dan luas. Dan untuk itu mereka terus mengusir dan membunuhi warga palestina. Sementara wilayah Palestina terus menyusut hingga hanya tersisa kecil dan itu pun terpisah jarak dan politis. Yakni Tepi Barat dan Gaza. 

AS melihat kondisi Timur tengah yang sudah dikondisikan sejak naiknya Raja Salman sebagai mitra setia AS. Loyalitas KSA bisa dilihat pada perang Yaman beberapa tahun silam. Juga kerjasama KSA dalam kontra terorisme, bahkan untuk itu KSA dengan gagah berani mencopoti Pejabat pejabat tinggi yang dekat dengan penguasa sebelumnya. Semua dengan alas an terorisme. di Mesir, AS cukup kuat dengan dukungan dari Al Sisi. Pasca aksi pembantai Sinai. Mesir semakin memperkuat serangan terhadap aksi terorisme. meski disinyalir serangan ini direkayasa militer Mesir untuk menarik dana pemberantasan Terorisme dari luar negeri. 

Di Turki meski ada Erdogan, tetapi dia tidak hanya kambing congek yang hanya mengembik dengan kutukan kutukan tak berguna. Semua dilakukan untuk menjalankan drama rekayasa permusuhan terhadap AS, tetapi nyatanya tidak. Iran dengan Presiden Rohani adalah mitra strategis AS sejak Revolusi Iran 1979. Meski pada penampakannya seolah bermusuhan, tetapi hakikatnya adalah teman di balik layar. 

Indonesia sebagai Negara muslim terbesar di dunia pun hanya bisa melihat. Itu pun jika  Jokowi tahu apa yang terjadi di Paletina. Sungguh keberadaan Indonesia nyaris tak bisa diharapkan. Karena selama ini Indonesia tak berkutik dibawah ketiak AS.

Maka berbekal keyakinan itulah, Donald Trump mantap tanpa keraguan sedikit pun pada dirinya untuk secara terbuka mengumumkan Ibu kota Israel yang Baru, Jerussalem. Karena dia yakin tidak akan penentangan sedikit pun dari negeri negeri Islam di Timur tengah. Sesuatu yang tidak pernah atau belum berani dilakukan oleh Presiden Presdien AS sebelumnya. Mengingat kondisi AS tidak sekuat hari ini dibawah Donald Trump. 

Kalau pun Erdogan teriak teriak mengutuk, itu semua hanya sandiwara sering dilakukan selama ini. Begitu pun negeri negeri lainnya hanya terdiam tak bergeming dengan pelecehan AS terhadap Palestina.  Sungguh sekat imanjiner nasionalisme yang di tahbiskan pada perjanjian Sykes-Pycot 1916 telah menjadikan dunia Islam tak berdaya. Bagai tubuh yang termutilasi. Tidak lagi merasakan penderitaan negeri negeri muslim lainnya. 

Fakta pelecehan dunia Islam dengan pengakuan Jerussalem sebagai ibukota Israel telah mengangkangi dunia Islam dengan kehinaan. Ini semakin manambah daftar panjang buruknya nasionalisme di dunia islam. Belum hilang dalam ingatan kita bagaimana Rohingya di bantai tanpa pembelaan, Umat Islam Mesir dibantai saat sedang shalat Jumat dan dunia pun bungkam. Yaman sampai hari ini masih dilanda perang atas arahan AS. 

Sampai kapankah umat ini sadar bahwa nasionalisme adalah busuk, sebagaimana sabda Nabi. Yang melarang seorang Shahabat memanggil shahabat yang lain dengan sebutan kesukuan. Seraya beliau bersabda :

دعوها فانها منتنة 
“Tinggalkanlah itu ( seruan ashobiyyah ) karena sesungguhnya itu adalah bangkai (HR. Bukhari Hadits No. 4950 ).

AS sadar tidak akan mungkin bagi mereka untuk mengahadapi Islam secara fisik dan militer. Maka cara jitu adalah membenturkan diaantara negeri negeri islam untuk saling serang dan curiga. Dan pada mamasang sekat sekat imejiner nasionalisme di batas batas negara yang disepakati oleh negera negara pemenang perang dunia pertama. 

Ashobiyyah adalah kecintaan kepada suku dan kelompoknya seraya merendahkan kelompok dan suku lainnya. Sejelan dengan itu adalah nasionalisme. Sebuah pemahaman yang menjadikan kecintaan kepada tanah air diatas segalanya. Sehingga untuk perlu mempertahankannya dari serang negara lain meski itu sama secara agama. Dalam tataran sejarah kita dapati banyak negeri Muslim berperang demi menjaga batas batas imajiner nasionalisme. Indonesia –Malaysia, Kuwait-Iraq, Iran-Iraq, KSA-Yaman adalah sejumlah negara yang pernah berperang karena Nsionalisme. 

Palestina yang dikelilingi negeri negeri muslim tidak sanggup dibebaskan. Padahal untuk menghadapi negara kecil Israel. Semua karena Nasionalisme arab yang memebelenggu mereka. Meski dalam pentas sejarah kita mengenal Perang Enam Hari pada 1967 dan perang Yom Kippur yang terjadi pada 6 – 26 Oktober 1973. tetapi semua adalah rekayasa AS dengan memanfaatkan Mesir, Suriah dan negara negara timur tengah untuk menciptakan mithos Isreal sebagai negara kuat. Maka sejak saat itu hampir tak terdengar perang melawan Israel oleh dunia islam. Karena mithos telah tertanam kuat. 

Melihat kondisi ini sebagai muslim kita marah, sedih dan kecewa. Tetapi masih ada optimis dalam diri ini. Bahwa dunia ini memang sedang menuju perubahan kepada Islam. Symthom itu terlihat jelas di berbagai negeri, dari Merauke hingga Maroko. Indonesia mungkin yang paling fenomenal dengan aksi 212 yang berhasil mengumpulkan 7 Juta massa. Reuni 212 dengan 7,5 juta berhasil mengopinikan panji Rasulullah dan Khilafah bergema di sepanjang acara. Revolusi Suriah sampai hari masih bergolak dengan isu khilafahnya. Mesir berhasil mengantarkan Muhammad Mursi di Tampuk kekuasaan meski kemudian di kudeta, tetapi pergolakan kepada Islam itu ada di sana. 

Peristiwa AS yang meresmikan Jerussalem sebagai ibu kota Israel juga semakin menunjukkan bahwa perubahan kepada Khilafah. Hal ini semakin menyadarkan umat ini bahwa AS adalah musuh Islam. Semakin mendekatkan kepada fase kebangkitan islam. Melengkapi sejarah terbentuknya khilafah baru. Dimana dalam Al Quds adalah Ibu Kota Khilafah. Dan pembabasan Al Quds akan dipimpin oleh khilafah ala Minhajin Nubuwwah. 

apa yang terjadi di Indoensia,  Rohingya, Suriah, KSA, kashmir, India, Pakistan, Uzbekistan seolah membentuk garis kurva hingga kemudian terbentuk titik persinggungan dengan tegaknya Khilafah. Dan untuk itu barat, jauh jauh hari telah memprediksinya. Bahkan kecenderungan kepada tegaknya Khilafah dengan tegas disebutkan dalam Mapping Global World 2020. 

Sungguh hanya khilafah lah yang bisa membebaskan Palestina. Sebagaimana dulu awalnya palestina juga lepas karena hancurnya khilafah. Dia akan menghimpun seluruh kekuatan untuk menghancurkan dan merebut kembali Palestina dari Tangan Israel. Sama halnya dengan dengan Shalahuddin Al Ayyubi yang merebut kembali Palestina. Allahu Akbar. [vm]

Penulis : Muhammad Ayyubi (Pengamat Politik Internasional)

Belum ada Komentar untuk "Polemik Ibu Kota Israel"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel