Setiap Politisi Cerdas Sadar Hakikat AS


Jerman menganggap Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai tantangan lebih besar bagi kebijakan luar negerinya dari pada pemimpin-pemimpin otoriter di Korea Utara, Rusia atau Turki.

Kesimpulan ini didapat dari hasil jajak pendapat Koerber Foundation. Yang memuncaki keprihatian luar negeri Jerman adalah masalah pengungsi dengan 26 persen responden mengkhawatirkan kemampuan Jerman dalam mengatasi banjir pencari suaka. 

Hubungan dengan Trump dan AS menduduki peringkat kedua dengan 19 persen menganggapnya sebagai tantangan terbesar Jerman, diikuti Turki 17 persen, Korea Utara 10 persen dan Rusia 8 persen. 

Sejak berkuasa Januari silam Trump telah membuat gerah Jerman, mulai mundur dari kesepakatan iklim Paris, menolak ratifikasi perjanjian nuklir Iran dan mengkritik surplus perdagangan Jerman serta sumbangan Jerman untuk NATO, demikian Reuters. (https://www.antaranews.com/berita/669062/bagi-jerman-trump-lebih-berbahaya-dari-pada-korut-rusia)

Komentar

Setiap pengamat ataupun politisi sadar mengerti bahwa Jerman adalah sebuah Negara yang bangkit untuk menjadi adidaya baru, juga paham bahwa Amerika mengelola situasi internasional saat ini telah menghasilkan kerusakan politik dan moral, juga kerusakan material. Baik AS dan Jerman adalah sesame Negara kapitalis yang berseteru, rezim AS khususnya telah memiliki hubungan yang rapuh dengan Negara-negara yang ditarik menjadi pengikutnya agar sejalan dengan kepentingan-kepentingan politik dan ekonominya.

AS maupun negara-negara kolonial memiliki watak yang sama, yang tidak membagi negara lemah mana pun yang mereka tempati kepada rival politik mereka, dan mereka memiliki ikatan yang sama dalam kebijakan politik, phobia terhadap Islam dan Muslim. AS memanfaatkan rezim bonekanya yang telah kehilangan orientasi ideologisnya untuk melakukan pengorbanan dengan mengorbankan Islam dan Muslim, dan meminta perlindungan kepada solusi-solusi AS, tidak menyadari bahwa itu adalah mengaborsi harapan rakyat, lalu rezim boneka lari Amerika.

Kebijakan luar negeri AS telah memporakporandakan beberapa negeri muslim, padahal Islam telah berada di Amerika sejak abad ke 9, jauh sebelum menjadi tempat berlindung bagi orang-orang yang lari dari penganiayaan agama dari Eropa, meninggalkan Eropa untuk memulai kehidupan baru di 'dunia baru' Amerika. Tragis ketika Amerika Serikat diubah menjadi kapitalis dan menjadi fanatik dan benci Islam. Namun pada masa Trump, tindakan kriminal didiskriminasi, penembak pembunuh massal di Nevada tidak menerima kemarahan moral dari Trump dan para pendukungnya. Kebencian hanya diperuntukkan bagi umat Islam dan Islam.

Klaim menipu ditebar Amerika Serikat dan NATO-nya sedang terjadi untuk dunia muslim, lihatlah ulahnya di Iraq dan Afghanistan. AS menebarkan klaim demokrasi, kebebasan berekspresi, HAM, hak perempuan, penghapusan kemiskinan, pembangunan negara dan rekonstruksi, semuanya telah dialami selama belasan tahun, yang kesemuanya tidak lebih dari sekedar perang terus-menerus, ketidakamanan, pembunuhan, provokasi, korupsi, pelacuran, kemiskinan, penyuapan dan keterlibatan kekuatan regional di Afghanistan. 

AS sendiri menghitung umur mereka dan terus menunda kebangkitan kekuatan Islam, kondisi seperti itu akan terus berlanjut, dan kita akan digunakan sebagai bahan bakar dalam kompetisi regional dan internasional. Ini seharusnya benar-benar menjadi refleksi dan pemikiran bagi kaum muslimin untuk memahami betapa bahayanya AS bagi agama, harta, darah dan tanah air. Selama bertahun-tahun, dalam kendali AS, umat Islam telah dipola mengalami perang, kekacauan, dan hasutan dari pengkhianat, yang membuat situasi makin terpuruk. Penting bagi kaum muslimin terlibat secara internal dan kuat untuk tidak menerapkan narasi AS.

Umat Islam punya konsep Islam, tampilkan ke dalam praktik dan sampai pada realisasi fakta, ketika penyatuan konsep Islam pada diri kaum muslim untuk mengelola dunia, maka mereka menjadi adidaya kembali, sebagai kekuatan Timur dan Barat, menghapus kekuatan haus darah AS yang telah menikmati SDA, darah dan merendahkan martabat mereka. [vm]

Penulis : Umar syarifudin (Pengamat Poltik Internasional)

Belum ada Komentar untuk "Setiap Politisi Cerdas Sadar Hakikat AS"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel