Ghouta Berdarah, Siapa Sang Pembela?


Ghouta timur, daerah pinggiran Damaskus Suriah, kondisinya saat ini tak ubahnya seperti " Neraka" di muka bumi. Rezim Bassar Assad dengan dibantu dan didukung oleh sekutunya Rusia secara kejam menyerang membabi buta dengan menggunakan bom artileri dan jenis senjata lainnya. Meskipun serangan itu dilakukan dan di klaim untuk menyerang dan menumpas kelompok pemberontak ternyata juga membunuh ratusan warga sipil di Ghouta. Bangunan- bangunan hancur, nyawa pun melayang tertimbun reruntuhan. 

Kelompok observatorium suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM), kamis (22/2) mengatakan, serangan selama lima hari di Ghouta timur telah menyebabkan lebih dari 400 orang tewas. Jumlah tersebut tak hanya mencakup orang dewasa tetapi juga anak- anak, (Republika.co.id, 27/2/18).

   Derita umat Islam di Ghouta, melayang nyawa di setiap detiknya, belum mampu menggerakkan para penguasa muslim untuk membela Ghuota. Kalau begitu, Kita patut bertanya, Siapa yang akan membela mereka?, Siapa yang akan memenuhi jeritan dan tangisan anak- anak Ghouta?. Apakah masih bisa berharap kepada lembaga Internasional PBB atau negara- negara Uni Eropa? Atau kepada para penguasa Arab di negeri- negeri muslim?

     Uni Eropa meminta gencatan senjata dengan segera. PBB menyerukan semua pihak yang berperang agar menghentikan pertempuran, begitu pula dengan para penguasa-penguasa Arab di negeri muslim. Mereka tidak mempunyai sedikitpun keberanian kecuali sekedar mengutuk, mengecam dan meminta untuk segera dilakukan gencatan senjata. Para penguasa muslim tidak berani untuk melakukan tindakan nyata dengan mengerahkan pasukan militer dan menghentikan serangan brutal rezim Bassar Assad dan sekutunya.

  Tragedi yang tak pernah sepi menimpa umat Islam, pembantaian yang senantiasa berulang dan berlanjut, bagaimana tragedi ini bisa dihentikan?. Sejatinya, solusi hakiki dari konflik yang terjadi di Suriah, juga di negeri- negeri Islam yang lain adalah dengan mewujudkan kembali kekuasaan Islam sebagai Perisai untuk menjaga dan melindungi kaum muslimin. Rasulullah SAW bersabda: " Imam (Khalifah) itu laksana perisai, kaum muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya" ( HR. Muslim)

Sejarah telah membuktikan, Adalah Kholifah al Mu' tashim Billah, dengan berani segera memenuhi panggilan dan jeritan seorang wanita mulia yang ditawan, disiksa dan dinistakan oleh raja Amuriyah. Sang Khalifah segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum muslimin ke kota Amuriyah, Kota Amuriyah berhasil di takhlukkan dan wanita mulia yang di tahan berhasil di bebaskan.

Saat ini betapa umat Islam membutuhkan sosok pemimpin seperti Khalifah Al Mu' tashim Billah, umat membutuhkan Khilafah, karena hanya Khilafah yang mampu menyelamatkan umat Islam dimanapun berada, Khalifah yang akan menjadi perisai dan pelindung kaum muslimin. Rasul SAW bersabda: " Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian" (HR. Muslim). Wallaahu a' lam. [vm]

Penulis : Afaf Nurul Inayah

Belum ada Komentar untuk "Ghouta Berdarah, Siapa Sang Pembela?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel