Belajar Dari Kekalahan Perang Uhud


Refleksi Sejarah atas Jihad Islam Politik  Umat Hari Ini 

Meski telah menjadi fakta sejarah bahwa pasukan Rasulullah mengalami kekalahan di perang Uhud, namun peristiwa itu tidak menyurutkan Rasulullah untuk tetap memberikan semangat kepada kaum muslimin. Setelah memakamkan para mujahid yang gugur di perang Uhud, Rasulullah kembali melakukan demo militer untuk mengobarkan ruh jihad kaum muslimin. 

Bahkan Rasulullah melakukan gerakan untuk menakut nakuti musuh dan memperlihatkan kepada orang-orang Yahudi, munafik dan Arab bahwa kekalahan dalam perang Uhud tidaklah berpengaruh terhadap lemahnya semangat dan kemampuan bertempur kaum muslimin. 

Diawali oleh pendapat para pemuda yang menghendaki pasukan muslim untuk keluar dari Madinah menyongsong musuh, sementara Rasulullah dan para sahabat senior menghendaki sebaliknya, memasukkan musuh ke kota Madinah. Adalah Abdullah bin Ubai bin Salul yang memperkuat pendapat Nabi untuk bertahan di Madinah. 

Rasulullah mengambil keputusan yang berbeda dengan pendapatnya sendiri, yakni melakukan penyerangan terhadap kaum musyrik keluar Madinah. Keputusan Rasulullah justru menimbulkan kegalauan para pemuda yang nota bene penggagas ide tersebut. 

Para pemuda berkata, “ Ya Rasulullah, kami telah memaksakanmu, padahal kami tidak berhak melakukan itu. Jika engkau ingin, maka tetaplah. Mendengar keraguan itu Nabi bersabda, “ Tidak layak bagi seorang Nabi, jika telah mengenakan baju perang, lalu meletakkannya kembali, hingga Allah memberi keputusan antara dirinya dan musuhnya”. 

Namun sayang, Abdullah bin Ubai bin Salul tidak mentaati perintah Rasul, ia membelot dengan membawa sepertiga pasukannya dengan memotong jalan dan kembali ke Madinah. Dengan nada egois, ia berkata, “ Nabi menuruti mereka dan tidak menurutiku. Kita tidak tahu mengapa harus membunuh diri kita di sini, wahai manusia”. 

Ditegaskan oleh Ahmad Ratib ‘Armush bahwa Abdullah bin ‘Ubai bin Salul bukan dari golongan orang beriman, melainkan dari golongan munafik. Mereka memimpin ‘kolom kelima’ dalam istilah modern atas kaum muslimin. Tidak ada seorangpun yang membelot dari perang bersama dirinya kecuali termasuk ke dalam kemunafikan. 

Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu 15 Syawwal 3 Hijriyah atau 625 Masehi melawan pasukan tentara kafir Quraisy yang berjumlah 3000 orang, sementara pasukan kaum muslimin berjumlah 700 orang, sebab 300 orang membelot bersama Abdullah bin ‘Ubai. Rasul memberikan amanah kepada Mus’ab bin ‘Umair. 

Sementara pasukan musuh ada Khalid bin Walid, Abu Sofyan, Hindun bin ‘Utbah, ‘Ikrimah bin Abu Jahal  dibawah pemegang bendera bani Abd ad Dar. Meski jumlah yang tidak seimbang, namun pasukan kaum muslimin mampu mendesak pasukan Quraisy hingga dilihat oleh pasukan panah yang berdiri diatas bukit. 

Sayangnya pasukan pemanah itu melanggar perintah Rasul dengan turun bukit ikut pasukan lainnya mengusir musuh dan mengumpulkan rampasan perang. Saat kritis inilah kemudian dimanfaatkan oleh Khalid bin Walid dengan melakukan intervensi strategis dengan merebut bukit yang ditinggalkan pasukan pemanah. Saat itulah tragedi kekalahan pasukan kaum muslim menjadi sejarah yang sangat memilukan. 

Namun Rasul masih dapat mengendalikan diri, meskipun sahabat-sahabat terbaiknya syahid. Kepemimpinan sejati Rasulullah mampu menyatukan sisa-sisa pasukan setelah kocar kacir karena mendapat kabar gugurnya Rasulullah. Turut bersama Rasulullah Abu Bakar, Umar, Ali, Thalhah, Zubair dan tiga puluh pasukan kaum muslimin. 

Rasulullah dan para sahabat pergi sambil terus berperang habis-habisan. Para sahabat mengerumuni dan melindungi tubuh Rasulullah hingga satu demi satu berguguran. Bahkan Rasulullah mengalami luka akibat serangan musuh. Abu Dujanah dan Sa’ad bin Abi Waqqash berjibaku menghalau panah dan memanah musuh. Pada akhirnya pasukan Quraisy mundur dengan kemenangan sementara atas pasukan kaum muslimin. 

Dari peristiwa sejarah kekalahan perang Uhud ini dapat diambil setidaknya empat pelajaran untuk perjuangan politik Islam umat hari ini :

Pertama, perang Uhud menjelaskan bahwa kemenangan Islam itu tidak terkait dengan jumlah. Buktinya jumlah pasukan kaum muslim di perang Badar lebih sedikit, tapi justru menang, sementara di perang Uhud dengan jumlah lebih banyak justru kalah. Sebab kemenangan adalah hak dan pertolongan Allah semata. 

Kedua, perang Uhud menjelaskan pentingnya membersihkan barisan kaum muslimin dari orang-orang munafik dan yang beraqidah lemah.  Barisan pejuang politik Islam hari inipun harus bersih dari gerombolan munafikun, sebab mereka lebih berbahaya dibanding kaum kafir sekalipun.

Ketiga, perang Uhud mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa sunnah kehidupan [sebab akibat] itu tidak dapat digantikan. Ketika kaum muslimin mengambil sebab-sebab kemenangan, maka akan menang. Sebaliknya, jika sebab-sebab kemenangan diabaikan, maka kekalahan yang akan didapat. 

Keempat, perang Uhud mengajarkan kepada kaum muslimin pentingnya disiplin militer dan memegang teguh perintah pemimpin, bagaimanapun kondisi dan situasinya. Para sahabat sadar bahwa kekalahan perang Uhud diawali oleh ketidakpatuhan pasukan panah atas perintah Rasulullah. 

Kelima, perang Uhud mengajarkan pentingnya konsisten dengan niat sejak awal. Disorientasi pasukan panah untuk segera mengambil harta rampasan perang merupakan kelemahan kelemahan fatal bagi pasukan kaum muslimin. Penyakit al wahn, cinta dunia dan takut mati telah menjadi virus ganas yang melemahkan dan melumpuhkan kaum muslimin hari ini.  

Allah telah memberikan penjelasan atas fakta sejarah perang Uhud ini dalam al Qur’an. Ada beberapa ayat berikut berkaitan dengan kemunafikan dan disorientasi yang mengakibatkan kekelahan kaum muslimin : 

Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal [QS Ali Imran : 121-122]. 

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman [QS Ali Imran : 152].

Saat ini kaum muslimin secara politis jelas mengalami kekalahan, namun kondisi ini penting, agar umat Islam mengetahui mana musuh mana kawan. Jika bagi orang awam kalah itu penting, apalagi bagi para pejuang dakwah dan politik Islam, sebab mereka lebih harus mengetahui siapa saja yang ikhlas dan siapa yang tidak ikhlas dari para pendukung dakwah dan perjuangan ini.

Kekalahan perang Uhud menyingkap bagi Rasulullah dan para sahabatnya tentang siapa yang benar-benar beriman dan munafik. Sebab setelah itu, orang-orang munafik tidak akan berani kembali lagi. 

Berdasarkan dimensi politis, kekalahan kaum muslimin pada peperangan dan perjuangan politik manapun adalah sebuah keharusan. Sebab kemenangan hanya akan dicapai saat telah dipisahkan dengan jelas, mana yang baik dan mana yang buruk, mana pejuang dan mana pecundang, mana orang amanah dan mana pengkhianat, mana pendukung perjuangan dan mana penghalang. 

Keburukan itu harus dijauhkan dari perjuangan politik Islam umat hari ini, sehingga yang berjuang hanyalah orang-orang yang ikhlas karena Allah, meskipun sedikit jumlahnya, namun justru itu yang akan mendatangkan pertolongan Allah. 

Berapa banyak jumlah yang sedikit dapat mengalahkan jumlah yang besar atas izin Allah. Sejarah peperangan Rasulullah membuktikan hal ini. Tinggal kita mau belajar dari sejarah ini atau tidak. Cara yang benar dalam perjuangan politik lebih baik dari sekedar jumlah yang banyak tapi menempuh cara yangn salah. 

Sementara fakta membuktikan  bahwa demokrasi adalah jalan perjuangan yang sarat dengan kemunafikan. Demokrasi itu sendiri adalah sistem Barat yang akan menyeret muslim menjadi para pecundang dan pengkhianat agama. Jika kemunafikan adalah penghalang kemenangan Islam, maka demokrasi  lebih dari sekedar kemunafikan. Maka tinggalkan demokrasi dan segera berjalan dia atas manhaj yang benar dalam perjuangan Islam. Semoga Allah segera memenangkan agama ini, meskipun harta, tenaga, dan jiwa ini harus menjadi taruhannya.[vm]

Penulis : Ahmad Sastra

0 Response to " Belajar Dari Kekalahan Perang Uhud"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel