"ECONOMICS SLOWBALISATION", Sebuah Harapan Atau Awal Kehancuran?


Oleh: Aulia Rahmah 
(Founder Komunitas Lingkar Iman dan Tsaqofah)

Beberapa waktu yang lalu, media berita asal Inggris The Economist mengeluarkan kritikan keras untuk Indonesia. Mereka menilai laju perekonomian di negara ini perlu ditingkatkan lagi, salah satunya dari faktor investasi yang dinilai akan menyumbang andil besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Akan tetapi, The Economist mengritisi pemerintah Indonesia saat ini dalam beberapa hal, yang pertama saat ini merupakan tahun politik, yang membuat para investor masih menahan untuk berinvestasi sembari menunggu siapa presiden terpilih dan apa kebijakan ekonominya. Kedua, pembangunan infrastruktur memang menjadi kunci. Namun, dalam anggaran tahun lalu The Economist menilai, pemerintah telah "berubah arah". Fokusnya kini telah terbagi dengan anggaran pembelanjaan subsidi, sehingga membuat anggaran belanja modal untuk infrastruktur justru menurun. Dan yang ketiga adalah regulasi pemerintah yang terkesan "maju-mundur". Pemerintah dalam mengeluarkan peraturan terkesan plin-plan. (finance.detik.com, 25/01/2019)

Atas beberapa hambatan di atas, mengakibatkan banyak investor yang ragu untuk berinvestasi di Indonesia. Namun kemudian kritikan ini dibantah oleh Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika yang memaparkan data-data dan bukti bahwa ekonomi Indonesia masih mengalami peningkatan meskipun sangat sedikit. Tidak mengherankan memang, jika ekonomi negeri ini mengalami stagnasi karena beberapa tahun ke belakang pertumbuhan ekonomi dunia memang sedang mengalami perlambatan. Dikutip dari kolom berita The Economist (24/01/2019), mereka menyatakan "Globalisation has given way to a new era of sluggishness. Adapting a term coined by a Dutch writer, we call it slowbalisation." 

Slowbalisation menjadi sebuah fenomena yang cukup meresahkan para pegiat ekonomi global. Karena setidaknya sejak tahun 2011 pertumbuhan ekonomi dunia mulai melambat. (finance.detik.com, 26/01/2019) Hingga saat ini pun, kondisi ekonomi global masih fluktuatif, belum terlihat tanda-tanda akan membaik serta mencapai posisi yang stabil.

Jika kondisi ekonomi secara global saja sudah penuh dengan ketidakpastian, bagaimana nasib rakyat kemudian? Akankah rakyat bisa menikmati kesejahteraan hidup dalam kondisi seperti ini? Rakyat elit yang punya akses modal tentu tidak masalah, namun di Indonesia saja masih ada lebih dari 80% rakyat yang tidak punya daya untuk mencapai kemapanan ekonomi. Jangankan untuk memikirkan angka-angka semu pertumbuhan ekonomi negara, untuk mendapat panganan layak pun sulit, selalu memicu tangis jerit. Maka sebenarnya demi siapa sistem ekonomi ini dijalankan? Perbaikan hidup siapa yang diperjuangkan. Bukan kebaikan yang tercipta, justru kerusakan yang makin nyata di depan mata.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanah disia-siakan?‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari)

Sistem ekonomi Kapitalis yang saat ini dijalankan memang sejatinya tidak pernah berpihak pada rakyat. Para penguasa negeri dan para kapital sebenarnya hanya sibuk untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sangat kecil kesadarannya untuk benar-benar peduli akan nasib rakyat kecil yang perlu dijamin, dilindungi, dan dijaga kehidupannya oleh kepemimpinannya. Maka sudah saatnya kita mengalihkan sistem kehidupan yang tidak manusiawi ini kepada sistem yang lebih alamiah dan sesuai fitrah. Sistem ini tentu hanya datang dari Allah SWT, Dzat yang Maha Mengetahui segala kelebihan dan kekurangan makhluk-Nya. Ialah yang paling ahli dalam mengatur kehidupan manusia. Tidak kah kita ingin, hidup sejahtera di dalam sebuah negeri yang bergelar "Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr"? Sebuah negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun. Namun, hanya negeri yang didiami oleh pemimpin dan rakyat yang bertakwa yang bisa meraih gelar ini. Oleh karena itu, mari kita kembali kepada aturan Allah SWT yang menyeluruh dan sempurna, mengadopsi hukum syara' sebagai pedoman dalam menjalankan seluruh aspek kehidupan.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.S. Al-Maidah 50) [vm]

Belum ada Komentar untuk ""ECONOMICS SLOWBALISATION", Sebuah Harapan Atau Awal Kehancuran?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...