Pemimpin yang Dirindu


Tahun politik merupakan sebutan tahun 2019. Karena ditahun ini, diselenggarakan pemilihan orang nomor satu di Indonesia. Debat calon presiden pun telah dilakukan 2 kali dengan harapan masyarakat bisa mengetahui sosok calon pemimpin yang akan dipilih.

Ada yang menarik untuk ditanggapi pada debat capres ke dua beberapa hari lalu. Pernyataan dari capres no 1 menarik Said Didu sebagai mantan Staf Khusus Menteri ESDM untuk mengungkap bahwa data yang disampaikan Jokowi itu keliru.

"Ada beberapa kebohongan dg lantang di kemukakan pada debat capres ke 2. 
1) data produksi sawit
2) data impor jagung
3) data kebakaran hutan

Padahal tdk masuk akal patahana tdk mengetahui data yg benar.
Semoga bukan krn terbiasa," tulis Said Didu di laman Twitternya.

Data kebohongan presiden @jokowi dlm debat :
1) impor jagung 2018. 180.000 ton - Fakta 700.000 ton
2) produksi sawit : 46 jt ton - fakta 34,5 jt ton
3) tdk ada kebakaran hutan - Fakta 16.100 ha
4) Hukum lungkungan tdk ada - Rp 18,9 t blm bayar
5) impor beras
turun - jelas naik

(Tribunnews.com, 18 Februari  2019)

Debat capres kedua telah selesai dilakukan. Sekarang justru terjadi debat panjang diantara pendukung masing-masing calon. Perang argumen antar pendukung terus berlanjut entah sampai kapan. Ternyata debat capres tidak bisa membuat masyarakat semakin percaya dengan calon yang akan dipilih. Bahkan tanggapan beberapa tokoh yang berbeda membuat masyarakat semakin bingung dan sulit menentukan pilihan. Kriteria pemimpin yang seperti apa yang sebenarnya diinginkan rakyat?

Rakyat tidak butuh janji dan pencitraan, rakyat merindukan pemimpin yang benar-benar menjadi junnah (perisai). Menangkis bahaya yang merusak, baik itu kerusakan aqidah, pendapat - pendapat sesat dan kerusakan perilaku.

Rakyat merindukan sosok seperti Umar bin Abdul Aziz, guna mengatur urusan umat ini menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukan pemimpin yang hadir lewat pencitraan, atau pemimpin yang hanya datang bila ada kepentingan.

Rasulullah saw. bersabda: 

"Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga untuknya" (HR al-Bukhari dan Muslim).

Penipuan tersebut antara lain bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat. Setiap penguasa yang melakukan hal ini dipandang telah menipu dan berkhianat kepada umat (Lihat: Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).

Hanya sosok pemimpin yang mampu menjadi imam sholat untuk rakyatnya. Apapun yang keluar dari lisannya tak pernah luput dari  firman Tuhanya dan sunnah RasulNya. Segala hal yang mengakibatkan kerusakan menjadi beban pikirannya untuk diluruskan dan dirubahnya. Kebijakan yang dikeluarkan tak menyengsarakan rakyatnya. Sungguh jabatan benar-benar dipahami sebagai amanah yang kelak dimintai pertanggung jawaban dihadapan penciptanya. Sesuatu yang menjadi penyesalan kelak diakherat jika tidak diemban dengan baik. Punya jiwa merdeka yang tidak bisa dan mau disetir oleh apapun atau siapapun selain kebenaran.

Sang Kholifah dengan sistemnya kekhilafahan akan terwujud sesuai janjiNya. Dan kewajiban  kaum muslimin mengupayakannya. Ajaran pewaris nabi yang sungguh tidak pantas untuk ditakuti, pengembannya dipersekusi dan dikriminalisasi kecuali buat mereka yang benci dan tak mengerti.

Yang tak mengerti silahkan mengkaji, yang benci mengapa anda benci?

Yang mempejuangkan lanjutkan. Semoga iatiqomah sampai kematian datang. 

Dimana kau wahai sang Khalifah. Kami merindukanmu. [vm]

Pengirim : Mentik Puji Lestari (Freelance writer, muslimah peduli generasi)

Belum ada Komentar untuk "Pemimpin yang Dirindu"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...