Eksistensi Semu Millennial Zaman Now


Oleh: Nindy Nur Rahmawati, S.Pd 
(Aktivis Muslimah)

Ajang unjuk talenta bagi para pemuda tidak pernah lekang bahkan di zaman millineal saat ini dengan berbagai macam balutannya. Mulai dari adu suara, acting, modelling, dance, dll hingga tak terkecuali pemilihan berbagai macam duta dalam aspek-aspek tertentu. Dilansir dari TRIBUNKALTIM.CO (26/02), sebanyak 114 muda mudi Samarinda adu talenta untuk menjadi The Next Duta Wisata Samarinda, dan Putri Pariwisata Samarinda 2019. 

Menjadi suatu label umum pada setiap pagelaran tersebut, yang dituntut kepada para finalis adalah mereka harus memiliki kriteria 3B. Yakni Brain, Beauty dan Behavior. Karna, finalis yang terpilih nantinya diharapkan menjadi penyambung lidah, mengenai informasi pariwisata kepada kaum millenial.

Tidak dapat dipungkiri, pemuda-pemuda terutama pemuda Muslim memiliki segudang potensi dalam berkontribusi untuk perubahan negeri menjadi lebih baik. Tapi yang harus disadari, potensi berharga yang mereka miliki seharusnya tidak dibajak dalam ranah yang justru mengarah pada hal kesia-siaan. Atas dasar materi, lalu meninggalkan sebagian ajaran agama yang telah Allah perintahkan. 

Pandangan hidup materialistik, kehidupan hedonis telah menjangkiti pemuda-pemuda Muslim. Serangan 3F, Food, Fun and Fashion semakin merusak gaya hidup mereka yang tidak dibarengi dengan penancapan akidah yang kokoh dan pemahaman islam yang menyeluruh. Generasi muda yang seharusnya terdepan dalam menjaga dan melindungi Islam di tengah serangan yang luar biasa terhadap agama ini, mereka justru terkungkung oleh sekulerisme. 

Ada pepatah Arab yang mengungkapkan, pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang. Dahulu, ketika Islam menjadi sumber aturan kehidupan baik dalam skala individu, masyarakat maupun negara, perhatian besar diberikan kepada para pemuda, sebab merekalah generasi penerus yang akan memegang kendali peradaban, kebangkitan umat. 

Tak heran, banyak pemuda hebat yang lahir di masa itu. Potensi yang mereka miliki tak sia-sia penyalurannya. Karna setiap individu muslim bertakwa sadar bahwa hidup tidak hanya di dunia saja, tetapi ada kampung akhirat kelak yang menjadi tempat kekal manusia hidup kembali. Ada hari pertanggungjawaban terhadap apa yang telah ia perbuat di dunia. Itulah yang membuat mereka memahami tentang waktu, masa muda, tenaga, pikiran, harta, yang dimiliki akan berakhir sia-sia jika digunakan untuk kesenangan duniawi saja bahkan tenggelam dalam kemaksiatan.  

Menelisik kehidupan pada zaman Rasulullah saw, banyak pemuda yang berani, siap dan bersedia untuk berjihad bersama Rasul pada usia yang muda. Usamah bin Zaid, ketika usianya masih sangat muda, ia datang kepada Rasul untuk menawarkan dirinya agar dapat ikut serta dalam barisan pasukan Perang Uhud. Namun, Rasullullah saw menolaknya karena ia masih terlalu muda untuk berperang. 

Di usianya yang beranjak 15 tahun, ia menghadap kembali pada Rasulullah untuk turut serta dalam peran Khandaq. Kali ini, Rasulullah memperkenankannya. Ia bergabung dalam barisan pasukan. Dalam Perang Mu’tah, Usamah yang berusia 18 tahun turut berperang di bawah komando ayahnya sendiri, Zaid bin Haritsah. Usamah menyaksikan langsung syahidnya ayahnya di medan pertempuran. Adapun Rasulullah saw mengangkat dia sebagai panglima pasukan untuk memerangi pasukan Romawi pada usia yang belum mencapai genap 20 tahun.

Thalhah bin Ubaidillah, mendapat julukan Assyahidul Hayy, atau syahid yang hidup diperolehnya dalam perang Uhud. Ia adalah salah satu mujahid yang senantiasa setia melindungi Rasulullah di tengah sengitnya perang Uhud kala itu. Ia ayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia melompat ke arah Rasulullah yang tubuhnya berdarah. Dipeluknya beliau dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada ditangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengelilinginya.

Usai peperangan, ia ditemukan dalam keadaan pingsan, sedangkan badannya berlumuran darah segar. Puluhan luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing dan lemparan panah memenuhi tubuhnya dan jari tangannya putus.

Begitulah pemuda, di tangannya ada segenggam kunci kemana arah perubahan itu. Kekuatan yang mereka miliki baik dalam gagasan cemerlang, kuatnya fisik, semangat membara dan kemampuan berstrategi seharusnya mampu membawa perubahan negeri. 

Ketika pemuda lain menikmati masa mudanya dengan bersenang-senang, pemuda Muslim pun mempunyai cara bersenang-senang yang berbeda, yang sudah pasti istimewa, yaitu menyerukan Islam dengan berdakwah. Itulah aktivitas emas yang harusnya tidak dilewatkan oleh para pemuda. Tujuan hidup yaitu untuk beribadah kepada Allah, dan misi mengemban dakwah islam ke segala penjuru harusnya telah tertancap pada diri mereka.

Mewujudkan generasi yang demikian memang memerlukan institusi keluarga yang paham akan Islam. Karna keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Maka, kualitas orang tua sangat berpengaruh terhadap output anak-anak itu sendiri. Orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi anak. 

Sedangkan peran Negara bertanggung jawab menciptakan suasana keimanan ditengah-tengah masyarakat dengan menghilangkan segala bentuk hal yang dapat menjerumuskan umat pada kemaksiatan, walhasil berbagai pintu menuju kesana tertutup rapat dengan adanya sanksi hukum yang tegas. Tidak ada perzinaan atau pornografi, tidak ada miras dan narkoba, tidak ada dugem, tidak ada film-film yang mengajak pada kemaksiatan ditampilkan juga tidak ada aktivitas-aktivitas sia-sia lainnya.  Lingkungan yang ada adalah suasana keimanan, ilmu, kerja keras, dakwah dan jihad.

Itulah yang mendukung terbentuknya pemuda Muslim yang memiliki kepribadian Islam, yang mencakup pola pikir dan pola sikap. Ketakwaan mereka terjaga sehingga dengan model kehidupan yang demikian melahirkan peradaban emas dimana produktivitas generasi muda begitu menjulang tinggi menjadi mercusuar peradaban. Itulah ketika Islam tegak menjadi aturan kehidupan satu-satunya dalam bingkai Negara. Betapa banyak sumbangsih ilmu yang manfaatnya sangat dirasakan hingga detik ini.

Sangat kontras, perbedaan penyaluran eksistensi pemuda zaman now dengan pemuda zaman peradaban Islam. Oleh karenanya, sabda Nabi berikut begitu menghujam ke dalam benak yang memberikan pelajaran penting bahwa janganlah kehidupan yang sementara ini diisi dengan aktivitas-aktivitas semu melenakan yang justru membawa pada kesia-siaan sehingga terjungkal dalam kerugian.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi) 

Maka, pemuda Muslim harus menyibukkan diri dalam ketaatan penuh kepada Allah SWT agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan, yaitu dengan memegang teguh Al Qur-‘an dan As Sunnah. Karena, jika tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil. Begitu kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah. 

Potensi pemuda benar-benar terwujud ketika Islam menjadi pijakan dalam beramal dan tolak ukur perbuatan. Karna bukan hanya soal kemaslahatan umat, namun keberkahan yang didapat akan membawa pada Jannah-Nya kelak. 

Saat ini, peran negara belum optimal dalam memberdayakan potensi pemuda. Kini, saatnya pandangan tertuju pada sistem Islam dengan segala keagungannya dalam mencetak pemuda-pemuda yang berdaya, tidak lain tidak bukan hanya dengan sistem Islam yang bernama Khilafah yang mampu mewujudkan hal tersebut. Wallahu ‘alam. [vm]

Belum ada Komentar untuk "Eksistensi Semu Millennial Zaman Now"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...