Ramadhan 1440 H, Meniti Perubahan Dengan Metode Nubuwwah


Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si 
(Penulis dan Pemerhati Politik Islam)

Dunia masih terus bertanya, "Benarkah perubahan bisa diraih dengan jalan demokrasi?". Sementara janji demokrasi mewujudkan keadilan, penghargaan terhadap manusia dan agama, kesejahteraan, toleransi dan kebhinnekaan nyatanya tak kunjung mewujud. Landasan demokrasi yang akal-akalan semata tak cukup mampu meyakinkan dunia kecuali bagi mereka yang terjatuh dalam sihir demokrasi.

Ambil contoh Indonesia misalnya. Konon Indonesia masih menjadi rujukan ketika membicarakan fair election. Indonesia merupakan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia setelah India dan Amerika Serikat. Indonesia juga dikenal sebagai the biggest one day election in the world dengan data pemilih tahun 2014 sebesar 187 juta pemilih. Jika benar demokrasi adalah jalan perubahan baiklah mari kita nilai bersama.

Berdasarkan data KPU, petugas KPPS yang meninggal dunia pada Pemilu Legislatif 2014 sebanyak 144 orang (saat itu masih 4 surat suara). Sementara mencatat, hingga Jumat (10/5) pagi, jumlah kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) mencapai 469 orang. Komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik mengatakan, selain KPPS yang meninggal, sebanyak 4.602 KPPS jatuh sakit saat bertugas.

Potret lain. Berkaitan dengan lolosnya sejumlah artis ke senayan dinilai peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia ( Formappi), Lucius Karus tak ada secercah harapan bahwa mereka bisa memberikan prestasi baru bagi DPR RI di tengah dominannya parpol lama di parlemen. Sulit mengharapkan dorongan perubahan bisa muncul dari parpol di parlemen yang tak punya komitmen untuk bekerja. 

Ketua Ombudsman RI Amzulian Rifai mengatakan akan mengevaluasi proses pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan itu yang mencakup regulasi, perencanaan, organisasi, rekrutmen, pelatihan, hingga dukungan dan fasilitas untuk anggota KPPS saat menjalankan tugas. Alih-alih bicara bagaimana perubahan pengurusan urusan rakyat yang kompleks, yang ada malah sibuk utak-atik undang-undang pemilu. 

Belum lagi nanti setelah KPU menggelar hasil akhir perhitungan suara, sengketa hasil pemilu pasti berlarut-larut seperti periode lalu. Hasil pesta demokrasi bagai penyelenggaraan event pernikahan spektakuler yang berujung perceraian dan broken home. Masalahnya jika bukan dengan demokrasi lalu dengan metode apa perubahan diraih?

Metode Nubuwwah 

Manusia paling mulia, Muhammad SAW adalah suri tauladan bagi manusia akhir zaman. Keberhasilannya memberi contoh perubahan terbaik bukan sekedar coretan sejarah di atas puing-puing bebatuan. Setiap kisahnya penuh hikmah, langkahnya memberi pelajaran paling berharga.

Muhammad SAW menjejakkan langkah dakwah pertamanya di Mekkah tak kurang 13 tahun lamanya. Kesabarannya membina kaumnya yang jahiliyah menjadi selendang keistiqomahan dakwahnya. Adapun kekuatan utamanya adalah keimanan kepada risalah Rabb Yang Agung. Meski menghadapi propaganda dan aniaya tak sedikitpun Muhammad SAW tergiur untuk berpaling dari jalan kebenaran. 

Perubahan atas dasar Islam dan jalan penyadaran umat tetap dipilihnya sebagai konsekuensi keimanan. Targetnya membangun pemahaman, standarisasi dan keyakinan (mafahim, maqayyis dan qanaat) terhadap Islam untuk menggantikan pemahaman, standarisasi dan keyakinan jahiliyah. Seandainya tidak ada tekanan dan persekusi rezim Quraisy, niscaya Mekkah dalam sekejab menerima Islam. Namun Allah SWT berkehendak lain, bukan karena jalan yang ditempuh Beliau SAW salah arah.

Besarnya tekanan para pemimpin Quraisy terhadap dakwah dan pengembannya menarik Muhammad Rosulullah untuk mengambil langkah lain yang lebih berani, bukan mengalah pada keadaan. Muhammad SAW mendatangi sejumlah pemimpin kabilah dengan dua seruan. Pertama mengajak mereka bersyahadat dan kedua menyeru mereka memberikan nushroh (pertolongan dan kekuasaan) kepada dakwah dengan imbalan Surga dan kemuliaan. Kedua seruan ini dengan prasyarat tanpa syarat, tanpa kompromi dan tanpa kontrak politik.

Tak ada satupun kabilah yang menerima, kecuali setelah datangnya musim haji tahun ke-12 kenabian. Rombongan haji dari Yatsrib, yakni suku Aus dan Khajraj bertemu Baginda SAW dan menerima Islam dengan keridhoan mengharap balasan pahala dari Allah SWT semata. Mereka kembali ke Yatsrib dengan seorang shahabat yakni Mush'ab bin Umair. Dalam sirah nabawiyyah dikatakan dalam waktu 1 tahun dakwah di Yatsrib sampai tidak ada satupun rumah yang di dalamnya tidak disebut satu nama melainkan nama Muhammad SAW. Di Yatsrib, Islam telah menjadi opini umum (ra'yul  'aam) setelah terbangun kesadaran umum (wa'yul 'aam).

Musim haji berikutnya 75 rombongan perwakilan Yatsrib (2 diantaranya wanita) menemui Muhammad SAW dan melangsungkan Bai'at Aqabah 2. Setelah peristiwa penting ini tibalah para shahabat dan muslimin hijrah ke Yatsrib dan puncaknya Muhammad SAW turut hijrah didampingi oleh shahabat senior Abu Bakar as Shiddiq. Maka tegakkan kekuasaan Islam di Yatsrib (Madinah) langsung di bawah pimpinan Muhammad Rosulullah SAW sebagai kepala negara.

Yatsrib menjadi Madinah Al Munawwaroh. Aus dan Khajraj yang dahulu hanya saling berperang kini bersatu dalam kemuliaan. Muhajirin dan Anshor dipersaudarakan, kabilah-kabilah musyrik yang lain tunduk kepada Islam dengan damai di bawah konstitusi Piagam Madinah. Dan nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan! Sebuah sejarah perubahan masyarakat modern berhasil digulirkan tanpa tetesan darah, tanpa people power, tanpa kudeta.

Inilah jalan perubahan yang hakiki, melalui metode umat (thoriqoh umat) dan perlindungan dakwah (thalabun nushroh). Bukan jalan demokrasi yang rumit, berbelit, dan berbuah keadaan pahit. Oleh sebab itu kapan lagi bergegas mengusung perubahan jika tidak di bulan Ramadhan, bulan perjuangan, kawah candradimuka kaum muslimin seluruh dunia digembleng dengan keimanan dan ketaatan dalam keberkahan Rabb Yang Maha Pemurah.

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” [TQS. Ibrahim: 1] [vm]

Belum ada Komentar untuk "Ramadhan 1440 H, Meniti Perubahan Dengan Metode Nubuwwah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...