Hijrah Politik


Oleh : M Amilurrohman MT

Sebagai muslim dan siapapun yang mencintai keadilan, tentu merindukan sosok pemimpin yang adil hadir di tengah kehidupan berbangsa bernegara kita. Kita merindukan sosok Abu Bakar dengan kebijaksanaannya, sosok Umar bin Khatab dengan ketegasannya, sosok Utsman bin Affan dengan kedermawanannya, sosok Ali bin Abi Thalib dengan kecerdasannya dan sosok sosok Khalifah adil lainnya sesudah mereka.

Namun, kerinduan itu masih belum menemukan obatnya. Orang-orang yang kita gadang-gadang akan menjadi sosok sosok yang adil itu - meski disadari tidak akan seadil Khulafaur Rasyidin - pada akhirnya satu persatu berkhianat karena setelah menjadi pemimpin justru melahirkan kebijaksanaan demi kebijaksanaan yang tidak bijaksana karena bukan hukum Allah yang dijadikan pedoman. 

Terakhir, sosok yang digadang gadang melalui ijtima ulama 1-3 pada akhirnya mengambil rekonsiliasi dengan rezim sebagai langkah politiknya. Terserah itu mau disebut strategi atau siasat, tapi bagi muslim yang menjadikan Rasul dan sahabat sebagai teladannya, tidak boleh ada rekonsiliasi dimana hasilnya adalah pembiaran kriminalisasi ajaran Islam, kedzaliman, kecurangan dan tewasnya para korban kejahatan kemanusiaan selama pesta demokrasi. Sungguh semua itu adalah kejahatan dimana solusinya adalah ditegakkan hukum seadil-adilnya sehingga kejahatan itu mendapatkan balasan yang setimpal dan tidak berkelanjutan.

Demikianlah, umat Islam kembali lagi dikecewakan. Segala waktu, tenaga, harta bahkan nyawa yang telah dikorbankan pada akhirnya berakhir pada pengkhianatan atas amanat dan kepercayaan yang sepenuhnya telah diberikan. Jangankan tentang amanat penerapan Islam secara kaffah, bahkan hanya sebatas amanat untuk terus melawan segala macam kecurangan pun tidak bisa direalisasikan melalui jalan demokrasi yang begitu setia umat ini terus jalankan. 

Sejatinya sosok yang sepenuhnya benar benar meneladani kepemimpinan Rasulullah dan para sahabat itu benar-benar ada di negeri ini. Tapi mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan di alam demokrasi, dan memang demokrasi tidaklah bisa mengakomodir seluruh apa yang diteladankan dan diwasiatkan oleh nabi. Jangankan syariat Allah, apa yang dijanjikan capres cawapres selama kampanye saja tidak bisa dijalankan sepenuhnya. Maka, apa yang bisa kita harapkan pada demokrasi selain kekecewaan demi kekecewaan?! Hanyalah para penjahat politik lah yang akan merasakan nikmatnya demokrasi di atas penderitaan rakyat dengan segala kebijakan dzalim yang dilahirkannya!!

Sudah waktunya umat Islam memiliki agenda politik yang terlepas dari demokrasi. Agenda yang telah diteladankan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin berikut jalan yang harus dilalui untuk mencapainya. 
Agenda itu adalah tegaknya Khilafah Islam sebagai satu satunya institusi yang jelas digariskan dalam Qur'an, Sunnah dan Ijma' Sahabat. Dan jalan yang harus dilakukan adalah dakwah politik berjamaah.

Maka jangan biarkan hanya Hizbut Tahrir saja yang menyuarakannya secara lantang. Segenap kaum muslimin terutama ulama dan tokoh tokoh Islam dengan segala latar belakang profesi dan gerakannya, harus bahu membahu turut aktif menyuarakannya pula. Dengan begitulah kaum muslimin yang berada di belakang mereka, akan sambut menyambut ikut menyuarakannya pula sehingga terbentuklah kesadaran umum bahwa agenda kita adalah merealisasikan apa yang dijanjikan Allah melalui lisan mulia Rasulullah, tegaknya Khilafah di atas manhaj kenabian.

Inilah agenda politik yang tidak akan dibajak oleh elit politik demi kepentingannya dan tidak akan berujung pada kekecewaan. Kalau pun berujung kematian sebelum merasakan hasil perjuangan, tidak akan kecewa dan tidak akan percuma karena setiap tetes keringat bahkan darah yang mengalir dalam perjuangan di jalan Allah akan dicatat sebagai ibadah dan akan disempurnakan pahalanya. Itulah yang terpenting. Dan itulah yang akan menjadi semangat yang tidak akan pernah melemah dan bisa diestafetkan pada generasi selanjutnya.

Hingga pada satu keadaan, jalan dakwah politik kolektif turut mengantarkan pada kesadaran pada elit politik dan militer yang masih ada keikhlasan di dalam dadanya. Entah melalui lisan siapa, hanyalah Allah yang tahu sementara tugas kita hanyalah terus menerus berdakwah sampai datang pertolongan Allah. Maka bila telah bertemu kesadaran umat Islam di bawah komando ulama dengan kesadaran elit politik dan militer yang ikhlas, tegaklah khilafah dengan diangkatnya Khalifah menggantikan kediktatoran yang semakin menjadi jadi. Semoga kaum muslimin di Indonesia inilah kaum yang dipilih Allah mendapatkan kehormatan merealisasikan janji-Nya. Aamiin. [vm]

Belum ada Komentar untuk "Hijrah Politik"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...