Singa, Anjing dan Kambing ; Sebuah Analogi Watak Manusia dalam Al Qur’an dan As Sunnah


Oleh : Ahmad Sastra 

Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS Al A’raf : 176).

Ayat analogis ini memberikan petunjuk bahwa seekor anjing akan tunduk patuh kepada siapapun yang telah memberikan makan, meskipun kepada seorang penjahat sekalipun. Manusia yang berkarakter anjing tidak mau tunduk kepada kepada ayat-ayat Allah, dihalau ataupun tidak, anjing akan tetap menjulurkan lidahnya. 

Jika ada manusia bermental anjing, maka negaranya akan sangat mudah dijajah dan dikuasai oleh penjajah. Sebab penjajah sangat tahu karakter anjing. Maka sang penjajah akan terus memberikan makan dan minum sang anjing, hingga hewan tunduk patuh kepada sang majikan. 

Sementara majikannya adalah penjajah yang jahat, maka tidak lama, negara itu akan dikuasai penjajah dan rakyat hanya akan menjadi jongosnya. Sementara penjajah akan menguasai undang-undang, media dan politik. Jika rakyat melawan, maka penjajah akan menggunakan anjing-anjing lokal untuk menghabisi rakyat. 

Betapa hinanya manusia yang memiliki karkater anjing. Anjing adalah analogi sempurna bagi manusia bermental penjilat. Manusia penjilat adalah kaum munafik yang lapar dan diberikan makan oleh kaum kafir. Kaum munafik rela mengkhianati Allah, Rasulullah dan kaum muslimin demi memenuhi syahwatnya. Hawa nafsu duniawi telah mengusai kaum munafik hingga mereka diperbudak oleh dunia. 

Kaum munafik adalah mereka yang mulutnya mengaku beriman, tapi hatinya menolak ayat-ayat Allah dengan keras, memusuhi kaum muslimin dan bermesraan dengan kaum kafir yang telah memberikan dunia. Allah menegaskan kaum munafik adalah mereka menuhankan thogut dan yang menghalangi perjuangan Islam karena hawa nafsunya. 

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS Al Jasiyah : 23) 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS An Nisa’ : 60)

Yang selalu memusuhi Nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan Abu Barzah seorang tukang tenung di masa Nabi. Termasuk Thaghut juga yakni orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu dan berhala-berhala.

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.(QS An Nisa’ : 61). 

Orang-orang munafik akan mendapat azab dari Allah, “Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang Amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. dan (neraka Jahannam) Itulah sejahat-jahat tempat kembali” (QS Al Fath : 6) 

Lebih ironis lagi apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW  dalam sabdanya tentang hakim akhir zaman yang bermental anjing. Rasulullah bersabda, nanti akan datang di akhir zaman menjelang kiamat, kemudian kata Nabi, pemimpin-pemimpin manusia ketika itu seperti singa, menteri-menteri mereka itu ibarat srigala dan hakim-hakim mereka itu ibarat anjing gila, manusia yang hidup ketika itu umpama kambing-kambing tanpa pedoman. 

Hadis ini menggambarkan pada suatu saat akan datang pemimpin-pemimpin yang seperti singa. Singa adalah binatang buas yang sering menerkam mangsanya tanpa ampun untuk dimangsa, dicabik-cabik dan dimakan dengan rakusnya. Sementara hakimnya seperti anjing yang memutuskan perkara berdasarkan hawa nafsunya karena telah mendapat uang sogokan. Singa yang buas dan rakus ditambah hakim yang hobbinya menjilat, maka rakyat hanya akan menjadi kumpulan  kambing yang terlunta-lunta karena dizolimi tak ada yang membela. 

Memang kabar tentang akhir zaman cukup mengerikan. Selain hadirnya pemimpin jahat seperti singa, hakim seperti anjing, bahkan Rasulullah juga bersabda bahwa akhir zaman juga akan datang pemimpin yang bodoh dan dungu, dimana para pengkhianat dipercaya dan orang jujur justru dikhianati. 

Rasulullah bersabda, Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan, sedangkan orang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu ruwaibidhan berbicara. Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud ruwaibidhah ?”. Rasulullah menjawab, “Orang dungu yang turut campur dalam urusan masyarakat luas”. (HR Ibnu Majah dalam as Sunan [4042], diriwayatkan juga oleh Abu Abdillah Al Hakim dalam al Mustadrak  [4/465, 512], Ahmad bin Hanbal dalam al Musnad [2/291], hadis ini disahihkan Al Albani dalam as Shahihah [1887] as Syamilah). 

Jika telah lahir singa, anjing dan kedunguan, maka apa jadinya sebuah bangsa dan rakyat. Yang akan muncul di suatu bangsa adalah kezoliman dan azab. Jika demikian, maka tingga menunggu kehancuran sebuah peradaban suatu bangsa. 

Menurut Sosiolog muslim, Ibnu Khaldun, suatu peradaban akan runtuh disebabkan oleh lima hal. Pertama, ketidakadilan, yang menyebabkan jarak antara orang kaya dan miskin begitu lebar. Kedua, merajalelanya penindasan, yang kuat menindas yang lemah. Ketiga, runtuhnya adab atau moralitas para pemimpin negara. Keempat, pemimpin yang tertutup, tidak bisa dinasehati, meski berbuat salah. Kelima, bencana alam besar-besaran.  Ironisnya, kelima indikator ini ada di negeri ini. [vm]

Belum ada Komentar untuk "Singa, Anjing dan Kambing ; Sebuah Analogi Watak Manusia dalam Al Qur’an dan As Sunnah "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...