Utang yang Menantang


Oleh : Isnawati

Utang bukanlah hal yang asing di masa-masa sulit seperti saat ini, bahkan mungkin kita sendiri juga mengalaminya. Menjadi   berat dan rumit  jika sampai terlilit. Lilitan utang juga melilit negara dan sampai saat ini tidak menemukan solusi yang tuntas, justru semakin bertambah karena kebutuhan yang harus dipenuhi diantaranya untuk pendidikan.

Pinjaman senilai U$$ 250 juta atau setara Rp 3,5 triliun dengan asumsi kurs 14 ribu per dollar AS telah disetujui Bank Dunia guna mendukung peningkatan mutu madrasah dasar dan menengah dengan program realizing Educations Promise.

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Rodrigo A Chaves mengungkapkan untuk memperkuat sumber daya manusia dan meningkatkan mutu sistem pendidikan membutuhkan komponen penting untuk membantu anak-anak Indonesia memperoleh hasil pendidikan yang lebih baik sehingga sukses di pasar tenaga kerja, ujarnya. (CNN 28 Juni 2019)

Bagi sebagian kalangan pinjaman untuk pengembangan madrasah menjadi kabar yang menggembirakan seakan-akan menjadi jalan terwujudnya kemajuan pendidikan Islam, padahal utang luar negeri adalah solusi yang menantang.

Mekanisme pembayaran yang ada mengandung riba, solusi yang menantang dosa pasti memberatkan. Prinsip utang luar negeri adalah no free luch penuh intrik dan jebakan.

Seperti kita ketahui bersama dalam mengatasi utang,  negara hanya menggantungkan pada penghasilan pajak untuk diolah dengan baik agar sejalan dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur dan kegiatan produktif lainnya termasuk peningkatan mutu pendidikan.

Peningkatan mutu pendidikan dengan jalan utang keluar negeri ibaratnya masuk ke sarang harimau sebab utang tersebut sejatinya merupakan proses sistematis yang dilakukan oleh negara-negara maju untuk menjerumuskan dalam perangkap neoliberalisme dengan berbagai macam konspirasinya. Gencarnya promosi-promosi moderisasi beragama yang merupakan target terhadap radikalisme dan ekstrimisme adalah salah satu cara berkonspirasi agar mendapat dukungan dari berbagai kalangan dan situasi ini menjadi angin segar bagi bank dunia.

Bank dunia bersedia mencairkan dana pinjaman yang besar dengan tujuan agar kebijakan-kebijakan pendidikan lahir dari negara kreditur tempat kita berhutang secara leluasa, alhasil tujuan pendidikanpun beralih dari mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi corong-corong kurikulum pendidikan menuju liberalisme sekulerisme. Pendidikan Islam yang seharusnya mencerminkan ke Islamannya dengan karakter yang khas dan militansi yang kuat, berusaha diporak porandakan dengan jalan pemberian utang sebagai pengikat, dengan dalih peningkatan kualitas anak didik dan mutu pendidikan. 

Komitmen mencetak generasi yang beradap tinggi telah hilang tanpa harapan, keharusan patuh terhadap idiologi kapitalisme telah menjebak negeri ini pada ketidak berdayaan. 

Utang luar negeri adalah solusi yang menantang, mendorong pada hilangnya kedaulatan negeri, seharusnya menyelesaikan masalah tapi justru menambah beban bagi negeri ini. Utang masuk ke Indonesia membawa dampak kecarut marutan, perekonomian rusak begitu juga pendidikan. 

Pendidikan adalah landasan dan paradikma utama dalam mempercepat pembangunan bangsa, pengembangan kebijakan bidang pendidikan malah diserahkan pada asing  dengan  utang ribawi.

Utang ribawi adalah solusi yang benar-benar menantang, Menghilangkan keberkahan dalam mencetak generasi sebagai pondasi bangsa.

Perubahan yang menyeluruh harus segera dilakukan, dimulai dari menggunakan landasan pijakan yang benar yaitu Islam, memperbaiki tujuan, menggunakan cara sesuai syariat Islam, agar terwujud  peningkatan perluasan dan pemerataan pendidikan, peningkatkan mutu dan relevansi pendidikan. 

Ketaatan pada Sang pemilik kehidupan kunci dasar yang akan menghantarkan pada keberkahan dalam membangun sebuah peradaban menuju kemandirian bangsa. Sudah waktunya bangsa ini kembali kefitrahnya yaitu kebenaran Islam.

"Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka dalam keadaan kacau balau." ( QS. Qaf : 5 ). Wallahu a`lam bishswab. [vm]

Belum ada Komentar untuk "Utang yang Menantang"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...