Kemewahan Hidup dan Kedurhakaan Kepada Allah Menyebabkan Kehancuran Sebuah Negeri


'belajar dari kisah kehancuran kaum terdahulu'
Oleh : Ahmad Sastra

Dalam Al Qur’an ada banyak ayat yang mendokumentasikan kisah-kisah kaum terdahulu untuk menjadi pelajaran kita hari ini. Salah satunya adalah kisah-kisah kehancuran kaum terdahulu yang kebanyakan dikarenakan penentangan mereka terhadap hukum dan syariat Allah SWT yang dibawa pada Nabi dan Rasul saat itu.  Kisah pertama adalah kisah kaum Nabi Nuh as. 

Kaum nabi Nuh dibinasakan oleh Allah SWT karena mereka mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, berbuat zalim kepada rakyatnya, menyesatkan masyarakat,  menzalimi  dan bertindak sewenang-wenang kepada rakyat miskin.

Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, Maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.  Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma'siat lagi sangat kafir. (QS Nuh : 24-27) 

Kisah kedua adalah kisah kehancuran kaum kaum ‘Ad. Kaum ‘Ad adalah kaum yang memiliki peradaban luar biasa. Gedung-gedung menjulang tinggi. Namun, penguasanya zalim, sewenang-wenang, bermewah-mewahan, kejam dan bengis terhadap orang yang lemah, dan tidak mau tunduk pada syariah Allah. Allah membinasakan dan menghancurkan kaum ‘Ad mereka.

Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar".  Mereka menjawab: "Adalah sama saja bagi Kami, Apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama Kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu. dan Kami sekali-kali tidak akan di "azab".  Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. dan Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS As Syu’ara : 135-140).

Kisah ketiga adalah kisah kehancuran kaum Tsamud yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama dengan kaum ‘Ad. Mereka memiliki keahlian untuk membangun rumah dan istana yang megah di kaki-kaki bukit yang datar. Orang-orang yang memiliki kelebihan kekayaan dijadikan panutan dan pimpinan yang disegani sekalipun perilaku kesehariannya zalim, menyimpang dan semena-mena. 

Dengan harta, penguasa mempertahankan kekuasaan. Kolega yang mendukung mereka diberi imbalan harta dan santunan bekal hidup. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau tunduk pada kemaksiatan mereka, menentang kezaliman dan kesewenang-wenangan mereka justru dimusuhi, dihina, difitnah, bahkan diburu dan ditindas.

Alasan yang digunakan adalah ‘mengganggu keamanan dalam negeri’. Kaum ini akhirnya harus dibinasakan Allah SWT akibat penolakan, pengingkaran, penentangan dan permusuhan mereka terhadap rasul yang diutus kepada mereka. Jika mereka mengulangi sikap yang sama, berarti mereka telah merelakan diri mereka mendapatkan azab serupa. Ada lagi kisah  lain, yaitu Fir’aun. 

Dia berkuasa dengan kekuatan ekonomi, ditopang oleh Qarun. Penentangannya terhadap syariah Allah, kesombongannya, dan kezalimannya terhadap rakyatnya menjadikan jalan menuju kehancuran bangsanya. Begitu juga kehancuran bangsa-bangsa lain seperti kaum Luth dan Madyan.

Ada empat faktor  yang menyebabkan murka Allah terhadap kaum terdahulu hingga Allah kehancuran dan membinasakan mereka. Pertama adalah ketidaktaatan pada syariah Allah SWT untuk diterapkan dalam kehidupan mereka. Kedua kehidupan para pemimpin dan pejabat yang bermewah-mewah sementara rakyatnya miskin dan menderita. 

Ketiga kezaliman kepada rakyat kecil dengan memutuskan berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil.  Keempat mengingkari kebenaran yang didakwahkan  oleh para utusan Allah, bahkan mereka memusuhi, menghina, memburu dan menindas para utusan Allah yang berdakwah kepada mereka. 

Keempat ciri yang dimiliki kaum terdahulu sehingga menyebabkan murka Allah dengan menghancurkan dan membinasakan kini telah melanda bangsa kita, Indonesia. Lihatlah tatkala rakyat di negeri ini semakin terhimpit dan tercekik karena kemiskinan. Hingga ada rakyat kecil yang bunuh diri karena tak tahan menerika tekanan ekonomi. Alih-alih peduli kepada masyarakat miskin, di tengah derita ini pemerintah justru memperlihatkan hidup mewah.
  
Entah sudah berapa triliun uang rakyat yang telah dikorupsi oleh para penguasa, pemimpin dan para pegawai pemerintah. Uang hasil korupsi mereka gunakan untuk membeli rumah dan kendaraan serta hidup bermewah-mewah. Ironisnya,  disaat yang sama rakyat tercekik lapar dan miskin. Padahal kemewahan penguasa diatas penderitaan rakyat inilah yang merupakan cikal bakal kehancuran suatu bangsa. 

Sistem sekuler liberal yang diadopsi oleh pemerintah telah mengakibatkan segala kerusakan masyarakat. Di negeri ini perzinahan dan pelacuran dilokalisasi dan dilindungi sebab mereka dianggap pekerja, perjudian diatur, jual beli menuman keras dilegalkan, praktek ribawi dilegalkan, praktek homoseksual dan lesbianisme dianggap sebagai hak asasi manusia, aliran sesat ahmadiyah dilindungi, hiburan malam yang mengumbar aurat perempuan diizinkan. Sistem sekulerisme dan liberalisme telah melegalkan perilaku menyimpang yang dilarang oleh Allah SWT atas nama kebebasan dan hak asasi manusia. 

Sesungguhnya para nabi dan Rasul diutus Allah untuk menawarkan sebuah sistem kehidupan Islam yang jika diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan menciptakan kebajikan, kebenaran, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan dunia akherat. Sebaliknya jika suatu bangsa abai terhadap hukum dan perungatan Allah, maka kesempitan hidup yang akan dialami. 

Kesempitan, kesusahan, kezaliman, kemaksiatan, kejahatan dan dan ketidakadilan hidup yang kita rasakan di negeri ini sungguh karena pemerintah abai terhadap hukum dan syariat Allah. 

Allah berfirman :  Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thahaa : 124)

Dengan demikian, kemewahan, kezaliman, dan penentangan terhadap kebenaran syariat Allah SWT tengah terjadi di negeri ini. Apa artinya? Negeri Muslim terbesar ini tengah berjalan secara sengaja di jalan menuju kehancuran sebagaimana kaum-kaum terdahulu. 

Mari kita melakukan dakwah dan mengingatkan kepada pemerintah agar mereka kembali kepada syariat Allah dalam mengelola negeri ini , sebagaimana telah disampaikan dan dipraktekkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, sebelum azab Allah menimpa kita semua. 

Allah berfirman : Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS Al Isra’ : 16).

Hanya hukum Allah lah yang akan bisa menyelesaikan segala problem kehidupan manusia. Sistem Islam adalah solusi tunggal dan terbaik yang berasal dari Allah sang maha benar dan adil, bukan sistem hidup manusia, seperti sekulerisme dan  liberalisme sebagaimana diterapkan di negeri ini.  

Saatnya negeri ini keluar dari hukum kufur dan  mengimani serta  bertaqwa kepada semua hukum dan aturan Allah SWT dalam bingkai daulah Islam, jika negeri ini ingin selamat dan hidup penuh keberkahan. 

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96).[vm]

Belum ada Komentar untuk "Kemewahan Hidup dan Kedurhakaan Kepada Allah Menyebabkan Kehancuran Sebuah Negeri"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...