NKRI HARGA MATI


Oleh : Bhakti Aditya

Sebelum membaca tulisan ini, saya mengajak anda semua sama-sama mengosongkan gelas. Sebab, tanpa gelas kosong, anda hanya akan mengadili tulisan ini dengan sudut pandang anda sendiri.

Saya, anda, dan kita semua memiliki keyakinan yang sama. Buktinya, anda sudah mulai membaca tulisan saya di paragraf ini. Dari apa yang anda lakukan, saya bisa simpulkan, anda adalah salah satu manusia Indonesia yang mencintai negerinya. Iya, sama seperti saya.

Kecintaan saya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah terpatri sejak saya mulai memahami sesuatu. Seingat saya, sejak kelas 2 SMP, dimana saat itu saya merupakan bagian dari Pasukan Penggalang Khusus (Pasgasus) Pramuka di salah satu SMP di daerah saya, sekitar tahun 2004/2005. Dari ekskul ini, saya belajar tentang taqwa, cinta tanah air, patuh kepada orang tua, jiwa patriotisme dan bersahaja, kepedulian, menyelesaikan masalah dengan musyawarah, membekali diri dengan keterampilan, tentang tanggungjawab, serta menyucikan fikiran, perkataan, dan perbuatan.

Sejak menjadi Pratama Putra (semacam ketua ekskul tersebut), saya juga dipilih untuk mengikuti Jambore Pramuka. Dari skala kecamatan, hingga saya terpilih untuk mewakili Kota saya mengikuti Jambore Nasional. Meskipun saat itu akhirnya yang berangkat menunaikan tugas tersebut adalah adik kelas saya, karena saya harus mengikuti UN yang waktunya bertepatan dengan Jambore Nasional tersebut.

Selain di dunia Pramuka, saya juga terlibat aktif dalam lomba baris berbaris, saat itu saya terpilih menjadi Komandan Peleton, memimpin teman-teman untuk mempersembahkan penampilan terbaik dalam lomba baris-berbaris.

Nampaknya jiwa patriotik itu terus tumbuh dalam diri saya, bahkan hingga saat ini. Didikan cinta tanah air yang sejati, tentang ketaqwaan, tentang pengabdian kepada orang tua dan negara, telah berhasil menjaga saya dari pergaulan bebas yang saat itu sebenarnya sudah sangat parah. Selain saya yakin, selamatnya saya dari rusaknya pergaulan remaja saat itu adalah hasil dari do'a-do'a ibu saya.

Jiwa patriotik ini pula yang mendorong saya untuk terus berkarya dan berperan untuk negeri yang sangat saya cintai ini. Namun, akhirnya saya harus mengelus dada dan menerima kenyataan, ternyata jiwa patriotik dan karya saya saja tidak cukup untuk mengubah negeri kesayangan ini yang ternyata sudah sangat bobrok dan porak poranda.

Bersyukur, sejak dini akhirnya saya tau kondisi sebenarnya bangsa dan negara kita. Kesadaran ini sangat dipengaruhi oleh ilmu, teori-teori, dan fakta yang saya dapatkan dari Sekolah ilmu dan praktik Kesejahteraan Sosial. Selain itu, benturan pemikiran pun saya dapatkan dari keaktifan saya dalam kajian-kajian strategis dan ilmiyah tentang sosial dan politik Indonesia dan dunia internasional. Sampai saya menemukan Ideologi Islam sebagai solusi atas cinta yang kandas ini dan atas kebobrokan sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia tercinta.

NKRI bagi saya adalah bagian yang tak terpisahkan dari kecintaan saya terhadap seluruh tanah kaum muslimin yang hari ini berada dalam gelapnya penjajahan. Saya tak ingin cinta ini hanya berupa ucapan tak bernilai. Atau sekedar "saya NKRI saya Pancasila". Slogan kosong minim pembuktian itu bagi saya bukan lah wujud dari kecintaan kita terhadap NKRI.

Kepedulian kita nampaknya mesti digeser ke tempat yang semestinya. Mulai menggali persoalan asasi negeri kepulauan yang kaya suku dan budaya ini. Bagi saya, wujud kecintaan itu adalah membenci penjajahan atas nama apa pun. Menolak bentuk privatisasi aset rakyat. Mencaci dan memusuhi penguasa-penguasa congkak yang zhalim. Menawarkan Islam sebagai solusi tuntas atas persoalan negeri yang tak kian mereda.

NKRI bagi saya bukan sekedar koar-koar "NKRI Harga Mati", sudahlah tak punya solusi, mencaci pula mereka yang membawa ide perubahan yang lebih hakiki. Manusia semacam ini tidak layak menyandang gelar cinta tanah air. Apalagi justru perangainya menunjukkan bahwa dia berada di kubu penjajah dan penguasa anteknya yang begitu zhalim. Mereka yang seperti itu, lebih layak disebut anjing-anjing penjilat dan sampah peradaban.

NKRI bagi saya saat ini adalah perjuangan mewujudkan Negara Khilafah Rasyidah Islamiyyah. Bukan sekedar NKRI Bersyariah.

Terserah kepada anda, NKRI bagi anda bisa jadi bukan NKRI bagi saya. Tapi NKRI tetaplah akan berjaya pada waktunya. Iya, saat menerapkan syariah Islam dan berada di bawah naungan Khilafah. Dengan izin Alloh SWT., waktu itu segera tiba. InsyaaAlloh. Walloohu'alam. [vm]

Belum ada Komentar untuk "NKRI HARGA MATI"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...