Jika Kabinet Gaduh, Rakyat Bisa Tak Terurus ; Nasehat Untuk Kabinet Baru


Oleh : Ahmad Sastra

Rasulullah bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Bukhari, No. 6015)

Sungguh benarlah ucapan Rasulullah sholallahu’alaihi wa sallam di atas. “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Amanah yang paling pertama dan utama bagi manusia ialah amanah ketaatan kepada Allah, Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam semesta dengan segenap isinya. 

Manusia hadir ke muka bumi ini telah diserahkan amanah untuk berperan sebagai khalifah yang diwajibkan membangun dan memelihara kehidupan di dunia berdasarkan aturan dan hukum Yang Memberi Amanah, yaitu Allah SWT.

Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia kini diamanahkan kepada kabinet baru yang dipimpin oleh Jokowi. Meski menuai banyak polemik, namun jajaran kabinet beserta wakilnya telah ditetapkan. Banyak pengamat yang mempersoalkan susunan kabinet yang ada, baik dari sisi komposisi maupun dari sisi kompetensi. 

Kegaduhan muncul bukan hanya dari internal antar menteri, partai-partai pengusung Jokowi yang tak dapat kursi, bahkan rakyatpun merasa was-was atas kabinet bentukan Jokowi itu. Sumber kegaduhan dimulai dari bagi-bagi kursi khas demokrasi usai pesta. Bahkan ada yang melakukan sumpah serapah hingga ancaman kualat segala. Kegaduhan juga mencuat  ketika isu radikalisme kembali dimunculkan, sontak kaum muslimin yang tertuduh merasa didiskriminasi. 

Kegaduhan kabinet ini dirasakan oleh Jokowi, makanya dia meminta menteri-menterinya untuk tunduk pada kesepakatan rapat atau sidang kabinet yang bakal diikuti di waktu mendatang. Ia pun melarang jajaran menterinya menyampaikan pernyataan yang kontradiktif terhadap hasil rapat dan justru berlawanan antarkementerian.

Jokowi mewati-wanti agar tidak ada kesan bahwa ada ketidaksepemahaman antarmenteri dalam Kabinet Indonesia Maju. "Kalau sudah diputuskan di dalam rapat, jangan sampai di luar masih diributkan lagi. Silakan ramainya di dalam rapat. Mau debat di dalam rapat saya dengarkan. Tapi kalau sudah diputuskan, dengan segala risiko harus kita laksanakan," ujar presiden dalam sidang kabinet perdana yang digelar di Istana Merdeka, Republika Kamis (24/10).

Jokowi berkaca pada Kabinet Indonesia Kerja yang lalu, saat ada beberapa menterinya justru menyampaikan pendapat yang saling bertolak belakang. Jokowi tidak ingin adanya kebijakan yang saling berlawanan antarkementerian. "Tidak ada visi misi menteri. Yang ada adalah visi misi presiden dan wapres. Ini tolong dicatat karena dalam lima tahun yang lalu ada 1,2,3 menteri yang masih belum paham mengenai ini," katanya. 

Kembali kepada pesan Rasulullah diatas bahwa jika kegaduhan kabinet baru dikarenakan oleh komposisi bagi-bagi kursi dengan mengabaikan kompetensi, maka amanah yang diberikan kepada orang yang bukan ahlinya akan melahirkan kehancuran negeri ini. Amanat terbesar adalah tugas kekhalifahan yakni mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara dengan landasan hukum Allah dan RasulNya. 

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaha : 124) 

Dalam Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia, ayat ini ditafsirkan dengan “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, tidak menerima, dan mewujudkannya, maka sungguh baginya kehidupan yang sengsara lagi sempit di dunia ini dan di alam kubur, dan Kami akan menggiringnya di padang Mahsyar hari Kiamat kelak dalam keadaan buta; tidak bisa melihat dan tidak memiliki hujah."

Ciri orang beriman adalah yang patuh kepada ketetapan (baca: hukum) Allah dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman, demikian pula perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara lantas masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Ayat ini bersifat umum mencakup segala permasalahan. Yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan hukum atas suatu perkara, maka tidak boleh bagi seorang pun untuk menyelisihinya dan tidak ada lagi alternatif lain bagi siapapun dalam hal ini, tidak ada lagi pendapat atau ucapan -yang benar- selain itu.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/423] cet. Dar Thaibah). 

Nah oleh karena itu, ada beberapa catatan penting untuk kabinet baru ini. Pertama, jangan pernah menyelisihi hukum Allah dalam mengurus urusan rakyat, sebab akan menghasilkan kesempitan hidup di negeri ini. Ingat, ideologi kapitalisme demokrasi dan komunisme ateis adalah ideologi setan sumber kerusakan.  

Kedua, jangan pernah melakukan diskrinimasi kepada kaum muslimin yang beriman dan bertaqwa, sebab keimanan dan ketaqwaan justru yang akan mendatangkan keberkahan hidup di negeri ini. Ingatlah firman Allah, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96).

Ketiga, berikan amanah kepada orang-orang yang punya keahlian di bidangnya, bukan karena kedekatan semata-mata, apalagi hanya karena mengurung dirinya dalam pilpres, sebab ketidakahlian akan berujung kepada kehancuran. Keempat, ingat seluruh amanah yang ada di pundak akan diperhitungkan dan diadili di pengadilan akherat oleh Allah SWT, maka jangan pernah berkhianat kepada Allah, RasulNya dan seluruh rakyat. 

Kelima, jangan gaduh hanya gara-gara tidak kebagian kursi, sebab kursi dalam sistem demokrasi adalah sebuah musibah besar bagi orang-orang beriman. Bagaimana bisa seorang muslim akan punya hujjah di hadapan Allah, saat diberikan amanah kursi, tapi tidak digunakan untuk mewujudkan hukum Allah dan RasulNya. 

Mestinya bangsa ini malu dan takut kepada Allah, sebab pemilu 2019 telah menelan ratusan korban meninggal dunia, sementara para pemimpin justru sibuk berebut kursi setelah dinyatakan menang pemilu. Jangan sampai kegaduhan yang tidak produktif ini justru menjadikan rakyat tidak terurus. 

Padahal meninggalnya ratusan rakyat itu harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak. Maka, jika para pemimpin negeri ini sudah tidak takut kepada Allah, tidak taat kepada hukum Allah dan menzolimi kaum muslimin, maka entah apa yang akan terjadi pada negeri ini. Tidak akan mungkin datang keberkahan dan pertolongan di negeri ini, jika Tuhan Sang Pemberi Keberkahan dan pertolongan justru diabaikan. [www.visimuslim.org]

Belum ada Komentar untuk "Jika Kabinet Gaduh, Rakyat Bisa Tak Terurus ; Nasehat Untuk Kabinet Baru"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...