Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Let’s Uninstall Skullbreaker Challenge


Oleh: Ratna Kurniawati (Aktivis Muslimah Kota Malang)

Belakangan ini, Skullbreaker Challenge memang sangatlah popular dan viral.  Nama tantangan skullbreaker challenge berasal dari bahasa Spanyol yaitu 'Rompcráneos' yang artinya "pemecah tengkorak".

Adapun cara bermain challenge ini yaitu dengan mengharuskan tiga orang bediri sejajar menyamping. Dua orang di sisi kanan dan kiri, akan terlebih dahulu melompat hingga kakinya mendarat kembali ke lantai. Setelah mereka mendarat, orang yang berada di posisi tengah kemudian melompat. Di saat bersamaan, kedua rekan yang ada di sampingnya akan menjegal kaki orang di tengah hingga terjatuh. Korban yang terjatuh biasanya akan jadi bahan lelucon. Namun, aktivitas ini justru membahayakan karena bisa menyebabkan cedera, gegar otak, patah tulang, dan bahkan meninggal dunia.

Dikutip dari liputan 6.com seorang siswa di salah satu sekolah menengah di Cherry Hill, New Jersey, Amerika Serikat menderita gegar otak gara-gara melakukan tantangan yang sedang viral di Tiktok. Mengutip laman Fox News, Kamis (27/2/2020), distrik sekolah di Florida telah memperingatkan orangtua mengenai tren ini. Dokter juga mengatakan bahwa skullbreaker challenge bukanlah suatu lelucon karena dapat menyebabkan cedera serius. Hingga saat ini, TikTok sudah memberikan tanggapan bahwa mereka akan terus menghapus video tantangan ini dari platform-nya.

Sebelum challenge ini mewabah ada beberapa challenge unfaedah lainnya yang menantang maut, muncul Bird Box Challenge, sebuah tantangan yang terinspirasi dari adegan drama thriller, dimana peran utamanya menggunakan penutup mata bersama kedua anaknya melewati tempat berbahaya seperti hutan atau lainnya. Choking game, challenge ini disebut-sebut cara 'giting tanpa obat', menciptakan rasa euforia dengan memotong pasokan oksigen otak, biasanya dengan mengikatkan benda-benda seperti dasi atau syal di leher seseorang kemudian dilonggarkan tepat sebelum peserta pingsan. Tahun 2018, Condom Snorting Challenge, di mana seseorang diharuskan memasukkan kondom ke dalam hidung mereka dan mengeluarkannya melalui mulut. Momo Challenge adalah challenge di mana seseorang harus mengirim pesan dan menerima sederet tantangan yang pada akhirnya berujung tindak kekerasan bahkan tindakan bunuh diri. (m.detik.com, 17/02/20). Mirisnya, tantangan unfaedah yang viral di aplikasi TikTok ini, juga ditiru oleh remaja termasuk anak-anak sekolah, dan kebanyakan dilakukan di sekolah sambil direkam dengan ponsel lalu diunggah ke media sosial. 

Perkembangan teknologi yang sangat pesat memang akan berimplikasi terhadap perubahan gaya hidup masa kini, menjalar ke dalam mental-mental penggunanya. Sistem kapitalis memanfaatkan hubungan tersebut hanya untuk mengeruk keuntungan semata, tanpa peduli pada aturan agama. Jerat kapitalis meracuni kehidupan remaja hingga menganggap bahwa kebahagiaan hidup diukur dari popularitas dan berlimpahnya materi. Mengikuti tren, telah membuat banyak remaja cenderung “amnesia” ketika popularitas jadi ambisi. Kebebasan berbuat tanpa batas, benar atau salah yang penting “eksis”. Berlomba-lomba mengejar kesenangan dunia terhanyut dalam kehidupan hedonis yang bikin depresi. Pada akhirnya, bukan menemukan kebahagiaan sejati, malah maut menanti.
Bukan hanya itu, pendidikan ala kapitalisme hanya menciptakan generasi unggul dalam akademik, tapi minim dalam nilai keimanan dan ketakwaan individu. 

Terlebih akses informasi digital menyajikan ruang yang sangat luas dan bebas untuk berinteraksi dengan siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Berinteraksi dengan beragam gagasan, budaya, gaya hidup, dan sebagainya. Termasuk konten pornografi, cyber bullying dan challenge, Sistem kapitalis berpadu dengan lingkungan sekuler, seperti tumbu – entuk tutup artinya klop. Membangun tujuan dan cita-cita hidup sebatas materi dan kebebasan meraih kesenangan semata.

Sedangkan di dalam Islam, permainan atau olahraga dimaksudkan bukan hanya sebagai kegemaran, tetapi persiapan diri untuk dapat terlibat dalam upaya membela agama-Nya dan termasuk bagian dari perintah untuk diamalkan.
Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri dalam kitabnya Minhajul Muslim menerangkan bawa permainan atau olahraga pada masa awal Islam dikenal dengan istilah furusiyah yang meliputi cabang kepandaian menunggang kuda sebagai kemampuan untuk memelihara hak, mempertahankan dan membela diri. Selain itu, furusiyah juga dimaksudkan untuk menguatkan tubuh dan meningkatkan kemampuan jihad di jalan Allah.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal [8]: 60).

Adapun permainan yang pernah dilakukan Rasulullah Saw, di antaranya beliau pernah adu lari dengan istrinya Aisyah ra dan menggelar adu ketangkasan berkuda dengan menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai penanggung jawab, sementara Suraqah bin Malik sebagai juri garis.

Sedangkan pendidikan di dalam Islam akan diarahkan pada pembentukan kepribadian individu yang tangguh. Dimana aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) peserta didik diarahkan dengan landasan Islam. Negara akan mengawasi dengan ketat pemahaman umat. Agar tak ada satu pun tsaqafah asing yang membahayakan akidah dapat berkembang dan menjamur ditengah-tengah umat. Memiliki kesadaran bahwa setiap aktivitas mereka hanya berharap memperoleh pahala dari Allah Swt sehingga mereka tidak mudah terjerumus dalam aktivitas yang sia-sia yang hanya akan membawa keburukan pada kehidupan dunia dan akhirat. Wallahu a'lam bish shawab. []

Posting Komentar untuk "Let’s Uninstall Skullbreaker Challenge"