Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Covid-19 Pergi, Khilafah Tegak Kembali



Oleh: Anggun Permatasari 


Pandemi Covid 19 yang berasal dari Wuhan, Cina telah menelan banyak korban jiwa. Virus yang termasuk keluarga besar Coronavirus berhasil meluluhlantakkan hegemoni negara-negara besar.

Merujuk data real time, Coronavirus COVID-19 Global Cases by the CSSE at Johns Hopkins University, tercatat ada 662.073 kasus hingga Minggu (29/3/2020) pagi. Dari ratusan ribu kasus tersebut, 139.426 orang dilaporkan sembuh. (Kompas.com) 

Sementara korban jiwa akibat virus yang pertama kali menyebar di Kota Wuhan, China tersebut mencapai 30.780. Adapun jumlah negara yang mengonfirmasi terjangkit virus corona mencapai 200 negara. (Kompas.com)

Kecemasan global terhadap pertumbuhan ekonomi menimbulkan sentimen negatif pasar. Devaluasi yuan yang mengejutkan merupakan pukulan telak bagi Cina. Sepuluh negara ekonomi terbesar di dunia akan mengalami perlambatan.

Kawasan Eropa dan Jepang mengalami resesi, dan pertumbuhan AS turun menjadi 0,5 persen. Risiko inflasi tanpa mempercepat pertumbuhan membuat kondisi perekonomian dunia semakin buruk. (Bisnis.com)

Di Indonesia nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat menembus level Rp 16.000 per Dollar Amerika Serikat. Pemerintah telah melakukan rapat koordinasi dengan BI dan OJK untuk membuat policy response. (Wartaekonomi.co.id) 

Pemerintah akan memberikan stimulus fiskal, memberikan insentif sektorial, meningkatkan bantuan sosial, meningkatkan insentif perumahan rakyat, dan mendorong pariwisata, dan Bank Indonesia membuat lima kebijakan untuk menjaga dan melindungi ekonomi nasional dari gangguan wabah corona. (Wartaekonomi.co.id)

Penguasa tidak menerapkan kebijakan "lockdown" yang dicontohkan Rasulullah Saw. dan para khalifah sesudahnya untuk menghadang penyebaran virus. Walaupun korban terus bertambah rezim malah sibuk memikirkan kondisi perekonomian negara yang porak-poranda akibat pandemi Covid. 

Sementara APD (Alat Pelindung Diri) yang menjadi standar keamanan bagi para dokter dan nakes yang menangani tidak dicukupi. Dengan berbekal APD seadanya, penguasa seakan mengantarkan tenaga medis ke lembah kematian. 

Pastinya, tiada seorangpun yang membayangkan dunia akan "hibernasi" seperti sekarang ini. Kota-kota besar seperti New York, Tokyo, Abu Dhabi tidak ramai seperti biasanya. Hiruk-pikuk dunia hiburan kini seakan mati akibat Corona effect.

Covid 19 ibarat tentara khusus yang didatangkan Allah Swt. sebagai senjata untuk melenyapkan kesombongan orang-orang kafir, fasik dan munafik. Pelurunya tidak mengenal pangkat, jabatan dan status sosial. Membuat dunia yang biasa hingar bingar menjadi sepi seperti tidak berpenghuni.

Bagi kaum Muslim hendaknya wabah Covid 19 ini dijadikan momen muhasabah. Sikap sabar, tawakal disertai dengan ikhtiar yang maksimal adalah sikap yang dicontohkan nabi Saw. dalam menghadapi wabah Covid 19.

Rasulullah Saw. bersabda: "Adzab yang Allah kirim kepada orang yang Dia kehendaki. Allah jadikan thaun sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang di negerinya mewabah thaun lalu ia tetap berada di situ dengan sabar dan berharap pahala, ia tahu tidak ada musibah yang menimpanya kecuali apa yg telah Allah tetapkan bagi dirinya melainkan baginya pahala seperti pahala seorang syahid.” (HR. Al-Bukhari)

Namun, bagi kebanyakan orang yang telah terpapar sistem hidup ala kapitalisme dan sekulerisme wabah ini adalah momok yang menakutkan. Virus wahn (cinta dunia takut mati) yang sudah lebih dulu menjangkiti jiwa dan raganya membuat dirinya dihantui kepanikan. 

Saat ini hampir seluruh negara di dunia sibuk dengan urusan negaranya masing-masing. Covid 19 bisa jadi adalah bagian dari skenario Allah menjelang kebangkitan kembali kepemimpinan umat Islam dalam bingkai Khilafah. Demikian pula awal tumbangnya para pemimpin komprador yang bercokol di negeri-negeri muslim.

Bagi negara-negara pembebek masalah menjadi semakin kompleks karena terdampak oleh luluhnya ekonomi 'para majikan'. Di dalam negeri, tingkat kepercayaan masyarakat semakin menurun seiring kebijakan tidak manusiawi dalam meriayah ketika wabah melanda. Mereka harus mencari sendiri solusi untuk bertahan hidup di tengah badai pandemi Corona.

Di tengah kerepotan menghadapi Covid 19 tentunya negara kafir penjajah juga diliputi kekhawatiran akan bangkitnya kaum muslimin di seluruh dunia. Segala bentuk penindasan, perampasan kekayaan, pengusiran dan pembantaian sadis terhadap kaum Muslim kian mendorong umat Islam di seluruh bagian bumi menyerukan untuk bersatu.

Melihat fenomena tersebut, umat mulai sadar bahwa kembali pada hukum Allah Swt. adalah obat mujarab keluar dari bencana ini. Perjuangan menegakkan kembali negara Khilafah merupakan perkara utama yang harus mereka utamakan. Karena hanya dengan kepemimpinan global yang memiliki solusi paripurnalah pandemi Covid 19 bisa teratasi.

Saat ini, rakyat membutuhkan kehadiran pemimpin yang mengutamakan keselamatan rakyat dibandingkan kepentingan ekonomi apalagi bisnis. Rasulullah saw. bersabda: "Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat).(HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)"

Hanya negara Khilafah yang mampu menegakkan hukum-hukum Islam yang paripurna secara sempurna, menyatukan negeri-negeri Islam di seluruh belahan dunia dan  kaum Muslim di muka bumi. Hanya solusi Islam yang bisa mengatasi pandemi tanpa membuat rakyat terbebani. Wallahualam. []

Posting Komentar untuk "Covid-19 Pergi, Khilafah Tegak Kembali"