Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mati Rasa Penanganan Corona Di Indonesia



Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Kelakuan para penguasa semakin hari semakin aneh. Ketika dulu penuh semangat ingin memerangi Corona sekarang malah pesimis dan ketakutan.

Baru kali ini di kalangan penguasa ada sikap ingin bersahabat dengan penyakit. Sehingga ungkapan-ungkapan pasrah bermunculan.

Mulai dari hidup berdamai dengan Corona. Terus ada ungkapan mungkin akan hidup selamanya dengan corona.

Lalu, Anggap saja Corona itu istrimu. Padahal corona itu bukan istri yang setia namun lebih mirip binatang buas. Bisakah manusia hidup sekandang dengan singa misalnya? Hanya dengan asumsi anggap saja singa itu istrimu? Pernyataan yang blunder.

Ada juga pejabat daerah yang berdalih tak ingin menyerah dengan kondisi. Lebih baik mati menghadapi Corona daripada membiarkan rakyatnya mati kelaparan. Ini juga pernyataan yang kurang intelek.

Sebab daerah akan lebih sulit menghadapi serangan Corona daripada bertahan dengan kebijakan stay at home. Apakah daerahnya siap menghadapi lonjakan pasien positif Corona jika fasilitas kesehatannya minim, jumlah tenaga medis kurang dan devisa daerah yang sedikit? Jika ini terjadi tentu akan sangat menguras kas daerah.

Mengenai masalah kelaparan sebenarnya masuk ke dalam tanggung jawab pemerintah. Pemerintah daerah wajib mengupayakan agar bisa mendapatkan logistik untuk warganya. Bisa dengan cara mengajukan ke pemerintah pusat. Mengingat devisa negara bisa ditingkatkan jika SDA diambil alih oleh negara. Jika masyarakat terpenuhi keperluan sandang, pangan dan papan tentu tidak akan ada peningkatan kriminalitas seperti yang diklaim akibat covid-19.

Kebijakan A new normal life juga mendapatkan kritikan dari banyak pihak. Itu bukan terobosan baru. Lebih mirip dengan kebijakan herd immunity dimana yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan tersingkirkan.

Anggota komisi IX DPR RI fraksi PKS, Netty Prasetiyani mengkritisi wacana kebijakan kenormalan baru (New Normal). Menurutnya, kebijakan itu terburu-buru, karena tren virus corona di Tanah Air belum bisa dikendalikan.

"Kebijakan New Normal ini harus ditolak karena sangat terburu-buru dan mengkhawatirkan, kasus Covid-19 di negara kita juga masih tinggi dan belum ada tanda-tanda penurunan yang signifikan. Data per Selasa 26 Mei 2020 saja ada 415 kasus baru dengan total 23.165 pasien positif di seluruh Indonesia," Katanya kepada Okezone seperti yang dilansir oleh RakyatNTT.com (28/5/2020).

Sepertinya penyakit "IndonesiaTerserah" telah menjangkiti elit penguasa. Entah karena ingin memuluskan kepentingan bisnis kapitalis tertentu sehingga social distancing ingin dilonggarkan (baca: dilenyapkan)? Atau kah sudah buntut dengan ide-ide cemerlang.

Seorang pemimpin harusnya peka bukan mati rasa. Optimis bukan pesimis. Seorang pemimpin harusnya menunjukkan wibawanya.

Seorang pemimpin harus berfikir seperti seorang Ayah yang rela berbuat apa saja demi menyelamatkan anak istrinya dengan cara yang halal. Walau pun harus kehilangan materi. Sebab prinsip seorang Ayah adalah materi bisa dicari namun nyawa keluarga adalah yang paling utama.

Seorang pemimpin layaknya seorang Ayah harusnya khawatir akan diminta pertanggung jawabannya di hari akhirat di depan Allah SWT. Hendaknya setiap Pemimpin meniru sikap pemimpin Islam.

Khalifah Umar bin Khattab ra, misalnya, pernah ketakutan ada jalan raya di wilayah Khilafah yang rusak. Kerikilnya lepas kemudian seekor keledai terperosok karenanya. Lalu keledai itu akan menuntutnya di akhirat.

Itu baru keledai. Belum lagi memikirkan nasib seluruh umatnya. Menjadi pemimpin itu tidak gampang, bukan untuk dipuji.

Menjadi pemimpin itu adalah menjaga amanat Allah SWT. Menjaga agar tidak ada warganya yang dizholomi. Walhasil kepemimpinan seperti itu yang mencetak pemimpin-pemimpin besar dalam Islam.

Pemimpin yang seperti Khalifah Umar bin Khattab yang selalu blusukan di tengah-tengah masyarakat. Pemimpin yang tegas menghadapi wabah dan melakukan lock down.

Pemimpin yang tidak takut terhadap musuh dan penyakit. Pemimpin yang rela makan roti kering dioles madu ketika musim paceklik menghantam negerinya.

Pemimpin seperti ini yang berhasil membawa Peradaban Islam mulia di mata kawan mau pun lawan. Pemimpin yang tidak sekuler dan kapitalis. Pemimpin yang seperti ini lah yang dirindukan dan ingin diadakan oleh umat. []

Bumi Allah SWT, 28 Mei 2020

Posting Komentar untuk "Mati Rasa Penanganan Corona Di Indonesia"