Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Takwa Solusi Corona?



Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Member Revowriter dan WCWH)

Allah Swt. berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

Ramadan telah berlalu, pertanda hari nan Fitri telah tiba. Saatnya umat Islam bersuka cita menyambut hari kemenangan tiba. Walau dalam kondisi pandemi, umat Islam tetap menyambut hari kemenangan dengan gemuruh takbir di beberapa daerah yang masih terbebas covid-19. Namun bagi daerah yang red zone mungkin masih bisa menikmati gemuruh takbir secara virtual.

Begitulah potret umat Islam, saat diberi nikmat senang maka bersyukur. Namun saat diberi ujian bersabar dengan hati yang lapang karena semua berbuah pahala. Lebaran tahun ini memang berbeda dengan tahun lalu. Tak ada mudik ke kampung halaman bertemu sanak saudara dan keluarga besar. Juga tak bisa sillaturahmi secara langsung karena kondisi pandemi. 

Namun, umat Islam masih bisa bersilaturahmi virtual jarak jauh dengan menggunakan alat teknologi dan aplikasi yang ada. Alhamdulillah teknologi bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Saat perayaan lebaran, Jokowi menekankan kondisi lebaran saat ini berbeda tidak seperti biasa demi kepentingan semua masyarakat. Dan yakin cobaan ini bisa dilewati bersama-sama. (Kumparannews, 23/05/20). Insya Allah umat Islam sepakat bahwa ini adalah ujian yang harus dilewati tentu dengan keimanan dan kesabaran.
Akan tetapi, ada kalimat yang menggelitik ketika Jokowi mengatakan, "Jika Allah benar-benar menghendaki dan jika kita bisa menerimanya dengan ikhlas dan dalam takwa dan tawakal, sesungguhnya hal tersebut akan membuat berkah, membuahkan hikmah, rezeki, dan juga hidayah. Dan berharap hari kemenangan bagi umat muslim ini bisa dijadikan momentum bagi bersatunya bangsa." Bahkan Jokowi berdoa, semoga Allah SWT meridai ikhtiar kita bersama, untuk mencegah penyebaran pandemi covid-19 dan memberi kekuatan pada kita untuk menjadi pemenangnya. (Tempo.co. 24/05/20)

Bahasa dan istilah di dalam Islam  hanya dijadikan pemanis dalam segala kebijakan yang bukan diambil dari Islam, seperti ikhlas, takwa dan tawakal, hikmah, berkah dan hidayah. Jika istilah ini diambil dan dipakai maka mengapa aturan Islam yang begitu sempurna tidak dipakai? Jika ditelaah apa sebenarnya makna takwa yang bisa mengantarkan umat Islam pada solusi terutama penanganan wabah saat ini?

Secara etimologi takwa berasal dari kata waqa – yaqi – wiqayah yang artinya menjaga diri, melindungi, menghindari dan menjauhi ( kamus Al Munawir halaman 1577). Sedangkan pengertian secara terminologi, takwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa ( percikaniman.org.) Dan pengertian ini populer di kalangan para ulama

Takwa diulang dalam Alquran sebanyak 259 kali dengan makna yang cukup beragam, di antaranya: memelihara, menghindari, menjauhi, menutupi, dan menyembunyikan. Ibnu Qayyim berkata, “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-janji-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.

Jadi takwa adalah kemauan untuk taat setaat-taatnya dalam menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa mendorong seseorang agar melaksanakan dan menerapkan aturan Islam secara kaafah karena hal ini adalah perintah-Nya (QS. Al-Baqarah: 208). Takwa yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya baik individu, masyarakat dan negara. Karena Baginda Rasul pun telah mencontohkannya dengan mendirikan negara di Madinah dan menerapkan aturan Islam kaafah atas dorongan taat.

Firman Allah Swt.

"... dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya." (TQS. An-Najm: 3)


"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."  (TQS. Al-Hasyr: 7)

Dalam konteks saat ini jika ingin mendapat berkah, hikmah dan hidayah tiada lain ketika aturan Allah Swt. yang diterapkan di muka bumi. Apalagi diuji makhluk kecil yang Allah kirim ke muka bumi, tidak ada solusi  selain mengikuti apa yang Rasul contohkan dalam menangani wabah. Tidak hanya itu, melainkan harus sepaket dengan menerapkan aturan Allah secara kaafah.

Karena akan berkaitan dengan aturan yang lain, misalnya sistem ekonomi yang akan menangani krisis yang terjadi akibat wabah. Bertanggung jawab terhadap jalannya kembali roda perekonomian dan pemenuhan kebutuhan rakyat terutama di red zone. Lebih utama penanganan pasien yang terinfeksi dan pemenuhan semua fasilitas yang dibutuhkan oleh rumah sakit atau tenaga medis. Serta mendorong dan memfasilitasi tenaga medis agar segera menemukan vaksin.

Kaidah di dalam Islam, agar apa yang dilakukan mendapat  rida Allah harus memenuhi dua hal yaitu pertama, niat ketika melakukan apapun hanya karena Allah bukan manusia atau yang lain, misal pencitraan dan lain sebagainya. Kedua cara yang digunakan harus mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasul saw. Jika dua hal ini tidak dilakukan maka jangan berharap akan mendapat rida-Nya. Dan dua hal ini akan didapat jika aturan Allah benar-benar diterapkan secara total.
Maka jangan terbawa rayuan manis label Islam tapi digunakan hanya untuk stempel aturan selain Islam yang digunakan. Umat harus cerdas mana kalimat yang benar dan tepat sesuai tempatnya, mana kalimat yang digunakan hanya untuk meninabobokan bahkan mengelabui umat. Saatnya Islam yang memimpin dunia menggantikan kapitalisme saat ini. Karena kapitalisme terbukti gagal menangani wabah dan krisis. Jika istilah-istilah dalam Islam saja dipakai mengapa aturannya tidak?


Allahu A'lam Bi Ash Shawab

Posting Komentar untuk "Takwa Solusi Corona?"