Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Culdesac Pangan Kita



 


Oleh: Ragil Rahayu, SE

Kisruh pangan tak henti-henti mendera kita. Mulai dari pengusaha tahu dan tempe yang mogok produksi karena harga kedelai meroket. Lalu pedagang daging sapi protes karena harga beli dari negara pemasok makin tinggi. Yang terbaru adalah aksi buang telur sebagai protes karena harga telur anjlok. Belum lagi harga cabai dan bawang yang naik-turunnya bikin petani dan para emak ketar-ketir. 

Masalah pangan ini bukan perkara baru. Kita sudah berkali-kali mengalaminya. Namun kembali terjadi dan terus terulang hingga hari ini dan bisa jadi hingga sekian tahun ke depan. Mimpi swasembada kini makin setinggi langit, hingga seolah mustahil diwujudkan dalam realita. Sementara keran impor dibuka lebar hingga menggerojok pasar. Petani dan produsen lokal gigit jari, sedangkan para mafia impor berpesta-pora. 

Kondisi ini mirip dengan kurva culdesac yang dibahas pakar marketing Seth Godin dalam buku The Dip. Culdesac secara harfiah berarti jalan buntu. Seth Godin menulis, "Culdesac is a situation where you work and work and work and nothing much changes." Sudah kerja, kerja dan kerja, tapi tidak ada perubahan berarti. Artinya, kerja yang dilakukan tidak efektif untuk membuat perubahan. 

Demikianlah masalah pangan kita. Swasembada kedelai hanya pernah terjadi tahun 1992. Swasembada beras hanya pada tahun 1984-1985. Swasembada daging sapi belum pernah terjadi. Untuk telur dan daging ayam kita memang swasembada, tapi harga yang terus melejit membuat sumber protein ini kian menguras kantong. Lantas, apa solusinya?

Saatnya "Quit"

Kurva culdesac awalnya datar, terus datar, namun akhirnya menurun dan jatuh pada kegagalan. Melihat prospektif ini, kita tidak boleh diam saja. Harus ada upaya untuk menghentikannya, yaitu "quit" atau berhenti. Yaitu menghentikan kebijakan yang dilakukan selama ini yang ternyata tidak efektif dan justru menjerumuskan pada kegagalan. Wujud kegagalannya berupa mahalnya bahan pangan, banjir produk impor, maraknya kasus malnutrisi di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini. Kemiskinan ekstrem pun terjadi.

Sistem ekonomi kapitalisme telah menjadikan komoditas pangan diserahkan pada mekanisme pasar. Sementara pasar dikuasai pedagang besar (kapitalis) yang memainkan harga sesukanya demi keuntungan yang besar. Model negara korporatokrasi terus membuka impor demi kepentingan pengusaha importir. Padahal pasar bisa jadi sudah jenuh, seperti kasus beras yang menumpuk di gudang Bulog karena over supply. Semuanya ini merupakan kebijakan ala kapitalisme. 

Sistem ekonomi kapitalisme ini harus kita hentikan dan diganti dengan sistem ekonomi yang menyejahterakan yaitu sistem Islam. Islam menempatkan pangan pada posisi strategis yaitu kebutuhan dasar (hajat asasi) yang wajib dipenuhi. Islam memiliki serangkaian syariat untuk mewujudkan pemenuhan ini.

Swasembada Penuh

Sistem Islam, yakni Khilafah Islamiyah, wajib mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. Yakni Khilafah mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Khilafah tidak boleh tergantung pada impor, karena bisa menjadi jalan musuh menguasai kaum muslimin. Hal tersebut merupakan keharaman. 

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141)

Untuk mewujudkan ayat ini,  Khilafah akan mewujudkan swasembada penuh pada komoditas pangan vital seperti padi-padian, aneka daging, telur dan lain-lain, agar tidak menjadi jalan musuh mendikte umat Islam. Sedangkan komoditas pangan yang bersifat komplementer/pelengkap boleh impor karena tidak mempengaruhi kedaulatan pangan. 

Khilafah memastikan ketersediaan pangan dari hulu hingga hilir. Yaitu sejak penanaman dan peternakan, hingga distribusi ke rakyat. Khilafah tidak boleh menyerahkan urusan ini pada swasta, apalagi swasta asing. Monopoli dan penimbunan dilarang dan para mafia yang melakukannya akan diberi sanksi yang menjerakan. 

Prof. Fahmi Amhar menjelaskan bahwa terdapat lima prinsip pokok yang diterapkan Khilafah Islamiyah untuk mewujudkan ketahanan pangan, yakni:

1. Optimalisasi produksi, yaitu mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang dapat menghasilkan bahan pangan pokok.

2. Adaptasi gaya hidup, agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi pangan.

3. Manajemen logistik, dimana masalah pangan beserta yang menyertainya dikendalikan penuh oleh pemerintah. Memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara saat ketersediaan berkurang.

4. Prediksi iklim, yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim.

5. Mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan.

Ketika hal ini diterapkan di bawah sistem Khilafah, terwujud ‘revolusi pertanian muslim yang berhasil meningkatkan panen hingga 100% pada tanah yang sama. Revolusi ini ditunjang juga dengan berbagai hukum pertanahan Islam sehingga orang yang memproduktifkan tanah mendapat insentif. Khilafah bahkan mengalami surplus pangan hingga memiliki cadangan di gudang untuk jangka waktu lama dan bisa dihibahkan sebagai bantuan sosial pada negara lain yang membutuhkan. Hal ini seperti bantuan Khilafah pada Irlandia dan Amerika. Demikianlah berkah ketika menerapkan syariat untuk mengurusi pangan. Tidak seperti saat ini, culdesac, maju kena, mundur kena. Wallahu a'lam bishshawab.

Posting Komentar untuk "Culdesac Pangan Kita"