Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sang Penjaga Al Quran itu Kini Telah Pergi

 



Oleh: Anggun Permatasari


Awan mendung menggelayut di langit ibukota. Bau khas tanah yang basah karena hujan semalam masih menyeruak. Dingin dinding rumah membuat suasana hati menjadi melankolis.

Kuambil gawai untuk melihat pesan yang sejak semalam belum kubuka. Subhanallah, kubaca pesan mengiris hati dari grup rukun tetangga. Isinya mengumumkan tetangga berbeda lima rumah dari kediamanku, suami dan anaknya yang berumur tujuh tahun terkonfirmasi Covid-19. Sebelumnya, satu keluarga yang tinggal berbeda satu gang dari rumahku dijemput ambulans untuk menjalani isolasi di salah satu rumah sakit rujukan.

Tubuhku lemas ketika membaca pesan dari ibuku yang mengabarkan bahwa kerabat kami yang sepekan lalu divonis positif Covid-19 telah berpulang, innalillahi wainna ilaihi rojiun. Belum hilang rasa sedih ini, aku terkejut ketika membuka salah satu grup whatsapp. Kalimat istirja kembali membasahi lidahku. Kali ini diikuti titik air mata yang mengalir di pipi. Yaa Allah, salah seorang ulama hanif dan santun telah Kau panggil pagi ini. Syaikh Ali Saleh Muhammad Ali Muhammad Ali Jaber meninggal dunia.

Lantunan do'a kupanjatkan. Masya Allah, aku sedih. Tapi, ada rasa bahagia dan iri di hati. Bahagia karena beliau yang lembut tutur kata dan baik akhlaknya pergi meninggalkan segudang kebaikan. Iri tersebab merasa khawatir apakah diri ini juga bisa sepertinya. Beliau semasa hidupnya bukan hanya seorang ulama yang gemar menebar kebaikan. Tapi, juga seorang penjaga Al Quran.

Sejak kecil beliau suka membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Ayahnya merupakan memotivator terdepan untuk belajar Al-Qur'an. Keluarga Ali Jaber dikenal sebagai keluarga yang religius. Di Madinah, beliau memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Sebagai anak pertama dari dua belas bersaudara, Syaikh Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Masya Allah, pada usia sebelas tahun, beliau telah hafal 30 juz Al-Qur'an (JPNN.com, 14/1/2021).

Jagat raya berduka, betapa tidak, semua status akun pribadi sahabat dan kerabat mengucap bela sungkawa untuknya. Media sosial dan elektronik ramai memberitakan kepergiannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam bersabda yang artinya: “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Wafatnya ulama adalah musibah, karena ulama adalah pewaris Nabi. Wafatnya ulama berarti hilangnya pewaris Nabi. Bahkan, Rasulullah Saw. menyatakan bahwa tidak bersedih dengan wafatnya ulama pertanda kemunafikan. Imam Al-Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi dalam Kitab Tanqih Al-Qaul mengutip sabda Rasulullah Saw., yang artinya: “Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik, munafik, munafik”.

Rasa sedih yang mendalam yang disyariatkan karena ditinggal wafat seorang ulama bukanlah kesedihan berdasar hawa nafsu semata. Bukan jua karena kehilangan fisiknya. Tapi sejatinya, kesedihan ini karena kehilangan pewaris nabi yang mentrasfer ilmu kepada umat. Kehilangan orang yang membimbing ke jalan kebenaran. Manusia yang dalam dadanya tersimpan beragam ilmu pengetahuan sebagai cahaya dan petunjuk kehidupan. Sehingga wafatnya ulama bermakna kehilangan ilmu pengetahuan.

Rasulullah Saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan al-Imam al-Bukhari dan Muslim, yang artinya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah menanggkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“

Selain itu, ulama sangat berperan besar dalam mencetak generasi Islam yang tangguh. Tidak hanya cerdas dalam memahami Al Quran, cemerlang dalam berpikir, tapi juga semangat dalam membela Islam. Yaa Rabb, semoga akan lahir ulama-ulama berhati mulia, santun dan berbahasa ahsan seperti beliau. Umat sungguh kehilangan sosok yang mencontohkan masyarakat beraktivitas sesuai Al Quran dan asaunnah. Semoga kelak kumpulkan kami dalam firdaus-Mu Yaa Allah, aamiin. 

wallahualam.

Posting Komentar untuk "Sang Penjaga Al Quran itu Kini Telah Pergi"