Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Polemik Moderasi Pengajaran Sejarah Islam


 


Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Ummat)


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)

Firman Allah tersebut merupakan predikat yang seharusnya disandang ummat Islam saat ini. Khoiru ummah atau ummat terbaik melekat pada sosok tiap muslim. Jubah ketaqwaan senantiasa digunakan kapan pun dan bagaimana pun kondisinya. Aktivias menyeru pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar pun seharusnya menghiasi tindak tanduknya dalam seluruh aspek kehidupan, baik kehidupan khusus ataupun kehidupan umum, baik sebagai individu, anggota masyarakat, ataupun rakyat.

Namun kenyataanya, kini gelar khoiru ummah semakin tak tampak dalam diri setiap muslim. Pola pikir kaum muslim terjauhkan dari akidah Islam, tak terkecuali pola sikap pun jauh dari tuntunan Islam. Terlebih syakhsiyah generasi muslim bukanlah syakhsiyah Islam.

Bukan tanpa sebab syakhsiyah Islam jauh dari kehidupan generasi muslim. Sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) menjadi asas yang diberlakukan dalam lingkup atutan negara di bawah komando sistem kapitalisme. Tak heran jika muda-mudi berkelakuan menyimpang dan minus moral.

Belum lagi persoalan di ranah pendidikan yang membentuk karakter mereka. Baru-baru ini medarasi agama dicanangkan di madrasah aliyah, khususunya mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kementerian Agama, Muhammad Zain meminta kepada puluhan guru madrasah mata pelajaran SKI secara daring dalam Workshop Pengembangan Kompetensi Guru Sejarah Kebudayaan Islam MA/MAK untuk mengajarkan Islam yang toleran. Selain itu, ia menekankan pentingnya menyampaikan fakta sejarah secara komprehensif. Targetnya adalah agar peserta didik memahami sejarah Islam masa lalu secara utuh dan akhirnya terbentuk generasi muda yang moderat. Menurutnya, para guru SKI memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan moderasi pengajaran sejarah Islam (kemenag.go.id, 26/2/2021).

Berkumpul dalam workshop tersebut guru Madrasah Aliyah/Madrasah keagamaan yang berasal dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Banten, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Lampung, dan Sumatra Selatan.

Kasubdit Bina GTK MA/MAK, M Sidik Sisdiyanto menyatakan, acara tersebut bertujuan meningkatkan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru madrasah, sekaligus menjadi ruang bagi mereka untuk saling bertukar pengalaman terkait moderasi beragama di madrasah masing-masing.

Tampak workshop tersebut merupakan salah satu cara untuk mengampanyekan moderasi Islam di dunia pendidikan. Salah satu mata pelajaran yang disasar adalah Sejarah Kebudayaan Islam. 

Jika benar demikian, maka ada kemungkinan distorsi sejarah Islam akan dilakukan oleh para guru SKI. Tujuan agar siswa memahami ajaran agama dan mengamalkannya dengan toleran bisa jadi hanya alasan semata. Sementara tujuan utamanya adalah menjauhkan generasi dari Islam kaffah.

Dalam tatanan kehidupan kapitalisme, segala cara akan dilakukan agar ummat Islam jauh dari ajarannya. Cara kasar dengan serangan fisik banyak terjadi di negeri-negeri muslim. Cara halus pun dilakukan melalui kebijakan di segala sektor, seperti moderasi agama yang ada di negeri ini.

Para penguasa muslim yang tunduk pada kapitalisme seolah tidak melihat bahaya yang terus menganga dan siap memangsa generasi. Siapa pun pengikut setia kapitalisme akan menganggap sistem itu bisa memuluskan pemenuhan belantara hawa nafsu mereka dalam urusan materi. Jadi apa pun kebijakan yang diajukan, tentu akan diloloskan.

Anggapan bahwa sejarah kejayaan Islam lahir dari peradaban yang inklusif sebagaimana cara pandang liberal adalah sebuah kesalahan fatal. Tinta emas sejarah kejayaan Islam lebih dari 13 abad tak bisa didistorsi dan disembunyikan. Pasalnya, segala aspek kehidupan diliputi keberkahan, kemuliaan, dan kemajuan yang mengagumkan, bahkan diakui oleh kaum kafir.

Sistem pemerintaha Islam (Khilafah) dalam urusan politiknya, yakni riayah syuunil ummah (memelihara urusan ummat) memberikan jaminan pada tiap rakyat, termasuk nonmuslim (ahludz dzimmah) untuk mengemban akidahnya tanpa ada paksaan, penindasan, ancaman, dan gangguan. Justru, toleransi hakiki tercermin dalam Khilafah. Bahkan, akal, jiwa, darah, dan harta kafir dzimmi dilindungi oleh khalifah.

Jadi, upaya distorsi, baik yang mengaburkan atau menguburkan sejarah kejayaan Islam adalah sia-sia belaka. Sekeras apa pun mereka membuat makar untuk menghalangi cahaya Allah, niscaya mereka hanya akan menemui kepayahan yang tiada berkesudahan.

Tak akan ada yang bisa menghalangi ghiroh ummat Islam yang sadar akan urgensi penerapan syariat Islam kaffah dalam bingkai Khilafah. Perjuangan melanjutkan kehidupan Islam tak akan pudar meski segerombolan kebijakan dilancarkan. 

Hal ini yang membuat negara-negara kafir Barat dan anteknya berupaya menggagalkan perjuangan kaum muslim dengan moderasi pengajaran sejarah Islam. Dengan harapan, ummat akan larut dalam sistem kapitalisme dan rida pada demokrasi. Sehingga, tidak akan ada generasi ekstrem dan radikal.

Kekhawatiran Barat akan munculnya kembali peradaban Islam begitu kentara. Arus kebijakan yang mengerdikan ummat Islam begitu massif. Namun demikian, ummat Islam semakin sadar akan kemuliaan Islam dan wajibnya Khilafah. Sehingga, perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam semakin deras dalam kehidupan. Saatnya kaum muslim bangkit dan kembali ke pangkuan Islam.


Wallahu a'lam bish showab

Posting Komentar untuk "Polemik Moderasi Pengajaran Sejarah Islam"