Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mensos Risma Setop Bansos Tunai, PKS: Jika Alasan Anggaran, Tidak Masuk Akal



Jakarta, Visi Muslim- Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKS, Bukhori Yusuf menyesalkan keputusan Menteri Sosial yang tidak memperpanjang Bantuan Sosial Tunai (BST) yang akan berakhir pada April 2021. Ia menilai, keputusan tersebut tidak masuk akal.

Sebelumnya, Direktur Anggaran Pembangunan Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Keuangan saat dihubungi Tempo, Minggu 11 April 2021, mengatakan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) belum menerima usulan apapun dari Menteri Sosial untuk kebutuhan anggaran perpanjangan program ini. Padahal, masih menurutnya, Kemenkeu bisa saja menyesuaikan anggaran untuk perpanjangan program BST ini sepanjang ada usulan.

“Mensos tidak bisa memutuskan sepihak tanpa melalui konsultasi bersama kami lebih dahulu di Komisi VIII DPR. Jika alasannya karena tidak ada anggaran, saya pikir tidak masuk akal mengingat pemerintah justru menaikan alokasi anggaran untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada 2021,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Menteri Keuangan menyampaikan alokasi anggaran PEN tahun 2021 melonjak hingga mencapai 699,43 triliun. Angka ini meningkat sebesar Rp 295,4 triliun dari pagu PEN saat kali pertama disampaikan pemerintah di awal tahun 2021, yakni Rp 403,9 triliun.

Anggota Komisi Sosial ini meminta Menteri Sosial untuk mempertimbangkan kembali keputusan untuk tidak memperpanjang BST tersebut. Pasalnya, ada dua alasan utama kenapa model bantuan ini layak dipertahankan.

Pertama, intervensi pemerintah melalui kebijakan perlindungan sosial terbukti berhasil menekan jumlah kemiskinan akibat pandemi Covid-19. Program perlindungan sosial pemerintah selama pandemi tidak hanya menyentuh 40% lapisan masyarakat bawah, tetapi sukses menjangkau hingga 60% lapisan masyarakat bawah sehingga mampu menahan bertambahnya angka kemiskinan.

Bahkan, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, menyatakan program pelindungan sosial selama pandemi telah mampu melindungi masyarakat miskin dan rentan miskin dengan menahan mereka di level 10%. Tanpa perlindungan sosial, Bank Dunia bahkan memprediksi angka kemiskinan bisa mencapai 11,8%.

Kedua, kebijakan anyar Mensos Risma ini akan menjadi kontraproduktif dengan upaya pemerintah selama ini dalam menekan angka kemiskinan. Atau dengan kata lain, potensi meledaknya angka kemiskinan sangat terbuka lebar bila bantuan ini dihapus.

Rilis BPS pada 15 Februari 2021 menunjukan jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta terhadap Maret 2020 yang berjumlah 26,42 juta orang. Kendati demikian, kenaikan yang terjadi tidak setinggi sebagaimana prediksi Bank Dunia yang berkisar 11%. Kenaikan di angka BPS hanya 0,97%.

“Oleh karena itu, saya meminta Menteri Sosial untuk konsisten memelihara sense of crisis dalam situasi ini. Dengan tetap mempertahankan BST, ini akan menjadi kado indah bagi masyarakat menyambut Ramadhan kali ini,” imbuhnya.

Mensos, demikian politisi PKS melanjutkan, harus segera mengusulkan kebutuhan anggaran perpanjangan program ini kepada Menteri Keuangan. Tidak cukup disitu, kami juga akan mendukung Presiden untuk mempertahankan kelanjutan program yang baik ini, yakni dengan menyetujui usulan perpanjangan program dalam rapat kabinet, pungkasnya. [] fajar.co.id




Posting Komentar untuk "Mensos Risma Setop Bansos Tunai, PKS: Jika Alasan Anggaran, Tidak Masuk Akal"

close