Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ustaz M. Ismail Yusanto: Indonesia Tengah Dibawa Kepada Dua Arah yang Sangat Harus Diwaspadai




Jakarta, Visi Muslim-   Di balik keteledoran hilangnya nama pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari di dalam buku Kamus Sejarah Indonesia, Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto melihat Indonesia kini tengah dibawa kepada dua arah yang sangat harus diwaspadai.

"Ini siapa di balik semua ini? Saya melihat, Indonesia sekarang ini tengah dibawa kepada dua arah yang saya kira sangat-sangat harus diwaspadai," tuturnya dalam Diskusi Di Balik Hilangnya Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari dalam Kamus... di saluran YouTube Pusat Kajian Analisis dan Data (PKAD), Rabu (21/4/2021). 

Pertama, kapitalisme liberal. Yaitu, kapitalisme liberal yang nampak dari oligarki pemilik modal. Menurutnya, munculnya Undang-undang Omnibus Law, UU minerba, juga Perppu Covid-19 tidak bisa dipisahkan dari adanya kapitalisme liberal. Ia mengungkapkan bahwa kini mereka sedang bekerja mengeruk kekayaan Indonesia. 

"Dan ini sedang bekerja, mereka menggasak, menggaruk kekayaan yang ada di negeri kita, termasuk pendanaan yang ada untuk sebuah substicated corruption," ungkapnya. 

Kedua, sekuler radikal. Menurutnya, kelompok yang kedua tersebut menginginkan agar Indonesia seperti di masa Orde Lama, yaitu sintesis antara nasionalisme, agama, dan komunis. "Menginginkan Indonesia itu seperti Indonesia yang dibayangkan pada masa Orde Lama dulu. Yaitu, sintesis antara nasionalisme, agama dan komunis," terangnya. 

Ia menjelaskan, keadaan tersebut tengah berlangsung dan seolah-olah berulang. Ia melihat, kaum nasionalis sebagaimana yang tengah berkuasa, dan agama yang dimaksud kelompok sekuler radikal ini ialah agama moderat. 

"Agama yang tipis tipis saja. Agama ini, kalau dulu tidak muncul, tapi sekarang muncul. Dulu belum dipakai, tapi sekarang dipakai. Yaitu, yang disebut dengan moderasi, moderasi agama, atau agama yang moderat," ungkapnya. 

Kondisi tersebut menurutnya, menjadikan syariat Islam seharusnya hadir sebagai yang mengatur, namun realitas sebaliknya, justru diatur. Menurutnya, Islam yang boleh hadir itu ialah Islam yang diatur kadarnya. 

"Jadi, Islam yang boleh hadir itu ialah Islam yang diatur kadarnya. Islam yang diatur berapa cc-nya (ukurannya). Itu mereka yang menetapkan. ‘You boleh Islam, tapi yang tidak beleh lebih dari ini (ukuran yang dibuat), kalau lebih dari ini disebut radikal'," imbuhnya. 

Sementara itu, terkait komunis, pembacaan terhadap buku Kamus Sejarah Indonesia itu menurutnya, bisa membawa pembaca ke arah itu. Ia menduga, kelompok sekuler radikal tersebut tengah membuat framing bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) bukan pelaku (pemberontakan), tetapi sebagai korban. 

"Saya kira pembacaan kita terhadap buku tadi itu bisa membawa ke sana. Bagaimana mereka sekarang membuat framing bahwa PKI ini bukan pelaku, tetapi korban," ungkapnya. 

Karena itu, ia menerangkan, keteledoran hilangnya nama K.H. Hasyim Asy'ari dalam Kamus Sejarah Indonesia itu sebagai exit strategy bagi kelompok itu ketika terpojok karena ketahuan. Sementara, ketika tidak ketahuan berarti sebuah keberhasilan bagi mereka.. 

"Kalau maling itu kepergok, (mengatakan), 'itu saya mau ngecek meteran.' Tapi, kalau enggak konangan (ketahuan), diambillah motor itu. Saya kira kita mesti mencurigai sampai ke sana," pungkasnya.[] Saptaningtyas


Posting Komentar untuk "Ustaz M. Ismail Yusanto: Indonesia Tengah Dibawa Kepada Dua Arah yang Sangat Harus Diwaspadai"