Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Palestine Will Not Go Down!



Oleh: Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)


Seperti dilansir laman Anadolu Agency, serangan terbaru menargetkan sebuah apartemen di bagian barat Kota Gaza. Akibatnya dua warga sipil terbunuh dan melukai enam lainnya.

Sebelumnya, serangan telah menghantam sebuah rumah di barat Jalur Gaza dan menewaskan tiga orang termasuk seorang wanita dan seorang penyandang cacat. Hal ini dilaporkan oleh seorang pejabat dari tim Pertahanan Sipil kepada Anadolu Agency.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan salah satu dari sembilan anak yang tewas dalam serangan itu adalah seorang gadis berusia 10 tahun. Sementara yang lainnya adalah anak laki-laki dari berbagai usia.

Tentara Israel mengumumkan peluncuran Operasi Penjaga Tembok pada Senin malam melawan Jalur Gaza. Pihaknya juga mengumumkan bahwa serangan udara telah dilakukan di daerah kantong, dari mana banyak roket telah ditembakkan ke Israel selatan.

Konflik antara Palestina dan Israel adalah konflik laten, yang mudah meletus karena alasan mendasar : persoalan aqidah. Pembunuhan tiga pelajar Yahudi bulan lalu dan pembunuhan seorang remaja Palestina yang diduga sebagai serangan balas dendam bukanlah sebab konflik di hari-hari ini, namun peristiwa itu hanya menjadi pemicu konflik. Dalam teologi Yahudi, Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan (The Promised Land ). Tidak ada bangsa yang berhak menduduki Palestina kecuali umat pilihan Tuhan, yakni Israel. Para rabi Yahudi pun menciptakan mitos-mitos agar diaspora Yahudi di seluruh dunia bercita-cita kembali pulang ke tempat mereka seharusnya tinggal. Karena aqidah yang menjadi akar masalah, maka penyelesaiannyapun harus sesuai tatanan keimanan, bukan sekedar menggelar proses perundingan perdamaian guna mencapai visi dua negara yang hidup berdampingan (two states solution).

Solusi paripurna yang seharusnya ditawarkan untuk menyelesaikan konflik Palestina adalah memunculkan kekuatan hegemoni Islam yang akan sanggup bertindak tegas, menghilangkan semua penghalang yang menghina kemuliaan Islam dan umatnya. Hanya dengan mendirikan kembali Khilafah Islamiyyah yang tegak atas dorongan wahyu Allah dan menempuh jalan terjal perjuangan sebagaimana yang diamanahkan oleh Baginda Rasulullah Muhamad SAW. Apalagi, realitas sejarah membuktikan bahwa Israel laknatullah bisa kembali berkuasa karena makar kafir yang makin kuat saat kedigdayaan Khilafah Utsmaniyyah mulai meredup.

Masa menjelang keruntuhan Khilafah Utsmaniyyah pada tahun 1878 menjadi penanda keberanian gerakan Zionis modern yang mulai bermunculan di Eropa Timur untuk memulangkan Yahudi ke tanah yang dijanjikan. Melalui Deklarasi Balfour yang diteken pada 2 November 1917, Inggris mendukung penciptaan rumah Yahudi di Palestina, apalagi ketika deklarasi itu diterima oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1922. Aneksasi itu menimbukan konflik bersenjata sejak 1945, dan terus berlangsung hingga kini. Sebenarnya masalah Palestina telah dibahas PBB sejak 1947, yang berujung pada pembentukan sebuah komite oleh Majelis Umum. Namun karena komite dibuat atas rancangan kaum kafir, maka solusinya adalah pembagian Palestina menjadi negara Arab dan Yahudi. Awalnya Liga Arab menolak pembagian itu dengan alasan bahwa Zionis tidak memiliki hak di tanah Palestina. Penolakan itu diabaikan, dan Israel secara resmi diakui sebagai negara pada tahun 1948. Dalam waktu singkat, Israel telah menguasai wilayah yang makin besar. Palestina diusulkan menjadi tanah air mereka dan jika itu tidak cukup, mereka akan menduduki beberapa daerah Arab dengan paksa. Pada tahun 1949, Israel memiliki wilayah yang dua kali lebih luas dari usulan PBB.

Berbagai perang yang terjadi, baik antara Israel dan dunia Arab pada awalnya, dan kemudian -karena tipu daya Barat-, musuh Israel tinggal para mujahidin yang berada di sekitar Palestina, selalu berakhir dengan persetujuan damai. Sejak persetujuan gencatan senjata 3 April 1949, kesepakatan Camp David l 17 September 1978 antara Israel-Arab, kesepakatan Oslo antara PLO -Israel 13 September 1993, hingga kesepatan gencatan senjata di jalur Gaza 21 November 2012, semuanya tidak menuntaskan problem Palestina. Israel tetap bangsa kera yang tidak mampu menaati komitmen.

Biarpun puluhan resolusi telah dikeluarkan oleh PBB dan DK PBB, dengan angkuhnya Israel tidak mau tunduk dan mengikutinya, termasuk beberapa resolusi yang mengarah two states solution. Tragisnya, puluhan resolusi PBB untuk Palestina turut dimentahkan AS melalui hak veto. Amerika turut menggunakan veto untuk membenarkan Israel mengembangkan nuklir, yang jelas bertentangan dengan resolusi PBB 242, yang menjadikan kawasan Timur Tengah bebas nuklir.

Sedangkan solusi dua negara menjadi penawaran paripurna bagi Barat sebagai kelanjutan ‘kolonisasi’ Palestina sekaligus menghambat perjuangan penegakan Khilafah yang tumbuh di kawasan Syam. Barat tidak segan memberikan Palestina negara -walaupun hingga saat ini Palestina hanya diakui sebagai otoritas- jika ada antek mereka yang mampu membendung militansi gerakan pro Khilafah. Pernyataan Lord Cromer (1841–1917), mantan Gubernur Inggris yang berkedudukan di Mesir dan Sudan menegaskan hal itu. Cromer berkata, “Inggris siap untuk memberikan kemerdekaan kepada semua koloninya, ketika terdapat generasi intelek yang telah terdidik dengan nilai-nilai Barat dan siap untuk mengambil alih administrasi, tapi kami tidak akan membiarkan mereka mendirikan negara Islam bahkan untuk yang kedua kalinya.” Inggris tahu persis jika Khilafah kembali tegak untuk kedua kalinya, habislah hegemoni AS, Eropa dan Israel, sekaligus menghilangkan Palestina dari permainan isu politik mereka.

Karena itu, solusi paripurna bagi konflik Palestina haruslah kembali pada tuntunan iman, yakni pendirian Khilafah Islamiyyah. Hanya Khilafah yang mampu memobilisasi potensi kekuatan militer yang dimiliki dunia Islam. Hanya Khilafah yang mampu mengembalikan rasa aman para perempuan, kaum renta dan anak-anak Palestina yang sudah cukup lama hilang dalam kehidupan mereka. Hanya dengan Khilafah, penganut Nasrani dan Yahudi di tanah suci Yerusalem akan hidup dengan tentram sebagaimana kaum Muslim, seperti masa Amirul Mu’minin Umar bin Khoththob dan Salahuddin al-Ayyubi yang berjaya menaklukkan kota Baitul Maqdis.

Karen Amstrong -seorang orientalis- telah melukiskannya dengan indah. “Umar setia kepada visi Islam yang terbuka. Berbeda dengan orang-orang Yahudi dan Kristen, Muslim tidak pernah mengecualikan orang lain dari kesucian Yerusalem. ” Al-’Uhda al-’Umariyyah adalah dokumen yang dibuat Umar sebagai Khalifah untuk memberikan jaminan keselamatan kepada Yahudi dan Nasrani terhadap keselamatan penduduk Aelia (Baitul Maqdis) pada waktu itu. Karen Armstrong menambahkan bahwa di bawah pemerintahan Islam bermula era masyarakat yang hidup dalam keadaan berbilang agama. “The Muslims had established a system that enabled Jews, Christians and Muslims to live in Jerusalem together for the first time.”

Urgensitas pendirian Khilafah juga akan menyelamatkan Palestina dari intaian penjajahan ekonomi kafir kapitalis sebagaimana yang diderita kawasan Asia Tenggara. Ironisnya, justru Indonesia -yang merasa sebagai saudara dekat Palestina-turut menjebaknya dalam jajahan lingkaran bisnis korporasi global. Pertemuan CEAPAD telah dimanfaatkan sebagai ajang untuk mengukur potensi bisnis Palestina. Pada forum CEAPAD ke-2 pada 1-2 Maret 2014, Kemenlu RI menggelar pertemuan pebisnis dan pameran dagang produk-produk Palestina. Indonesia sendiri telah berkontribusi nyata dengan membantu melatih sekitar 1.200 warga Palestina, dengan nominal US$10 juta atau Rp118 miliar dalam kurun periode 2008-2013.

CEAPAD secara khusus digagas oleh Pemerintah Jepang setelah PM Palestina saat itu, Salam Fayyad, mendesak negara-negara donor di kawasan Asia Timur untuk membagi kekayaan dan pengetahuan mereka untuk pembangunan bangsa Palestina dalam kunjungannya ke Jepang pada 14 Februari 2013. Sepertinya Fayyad sadar, agar bisa diterima dalam pergaulan internasional, mereka juga harus terlibat dalam komunitas ekonomi global (baca: penjajahan era pasar bebas). Potensi Palestina juga dilirik Bank Dunia yang pada bulan September 2012 menyerukan negara-negara donor untuk campur tangan dan menyelamatkan Otoritas Palestina dari kehancuran. Bank Dunia menggarisbawahi pentingnya penguasaan Israel di Area C Tepi Barat untuk pembangunan ekonomi sektor swasta. Jadi, dunia internasional ikut mengarahkan Israel agar serius menggarap jajahan dengan cara baru melalui eksploitasi ekonomi, tanpa meninggalkan cara lama yang barbar dan kejam. Agar kelak Palestinapun bisa menjadi pasar potensial bagi berbagai produk dan jasa, tidak hanya senjata saja.  []

Posting Komentar untuk "Palestine Will Not Go Down!"