Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Refleksi Hari Pendidikan Nasional, Tak hanya Seremonial

Ilustrasi/Foto Istimewa


 

Oleh: Khadijah Nelly, M.Pd. (Akademisi dan Pemerhati Dunia Pendidikan)


Setiap tanggal 2 Mei bangsa ini memperingatinya sebagai hari pendidikan nasional, tahun ini peringatan hari pendidikan nasional masih dalam masa wabah pandemi. Di mana hampir seluruh sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi belajar secara online/daring. Berbagai macam persoalan pun bermunculan setahun terakhir dalam dunia pendidikan di masa pandemi, hingga tuntutan untuk kembali belajar tatap muka terus bergema, namun serba dilema sebab tak ada jaminan prokes akan aman dan tak ada klaster baru saat sekolah kemabli dibuka.

Sejak merdeka bangsa inipun memiliki cita-cita yang besar, bahwa tujuan pendidikannya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dimana generasi diharapkan tak hanya cerdas namun memiliki kepribadian yang berimtak kepada Tuhannya, bermoral dan memiliki akhlak terpuji. Namun, bicara masalah pendidikan hari ini akan banyak ditemukan berbagai macam persoalan.

Seperti dilansir dari laman Sainsologi.com ditemukan banyak fakta pendidikan di Indonesia yang bisa membuat hati miris bahkan menangis. Bukan hanya soal sekolahnya yang jelek, melainkan karena sarana prasarana dan juga guru yang jauh dari kata sejahtera, hingga para siswanya yang kini seakan tak memiliki jati diri. Menurut penulis dalam artikel tersebut mengatakan bahwa dia merupakan orang kampung, besar di daerah pegunungan merasakan betul bagaimana pendidikan di daerahnya seperti apa. Namun setelah dia kuliah dan sering berkunjung ke beberapa daerah lain, serta membaca banyak referensi ternyata ada banyak fakta menyedihkan lainnya terkait pendidikan yang ada di Indonesia.

Fakta menyedihkan pertama dari pendidikan Indonesia adalah masih banyak gaji guru yang sangat minim, rata-rata ada sebesar 200 ribu di beberapa perkampungan dan daerah terpencil. Bahkan masih ada juga guru yang tidak mendapatkan pesangon sama sekali ketika ia mengajar dan hanya dengan rasa ikhlas saja mereka mengajar. Bukan hanya guru, bangunan sekolah yang ada di Indonesia juga sangat mengkhawatirkan. Masih banyak di temukan sekolah yang kumuh atau bahkan tidak layak guna, ini ada banyak sekali jumlahnya. Sekolah-sekolah terlihat begitu memprihatinkan, bahkan angka pendidikan saja masih sangat rendah sekali. Sekolah banyak yang menggunakan dinding dari bambu dengan beralaskan tanah.

Tidak meratanya pembangunan di Indonesia membuat banyak anak-anak di Indonesia  yang harus memaksakan diri mereka untuk berangkat sekolah dengan menyeberang jembatan tali. Ini tentu sangat berbahaya sekali, bahkan sangat berisiko. Jika sampai salah injak tali atau bahkan terpeleset saat karena talinya licin, maka sudahlah anak itu pasti akan terjun ke atas sungai. Hanya untuk bisa mendapatkan pendidikan saja anak-anak di Indonesia harus bertaruh dengan nyawanya.

Pendidikan belum merata dan masih jauh tertinggal, namun Indonesia masih menaruh tarif mahal untuk sektor pendidikan. Padahal pendidikan adalah pencipta SDM yang unggul guna menciptakan generasi yang lebih baik untuk membawa negara ini berkembang dengan lebih baik. Namun Management pendidikan Indonesia belum sanggup sampai ke arah sana. Sehingga banyak anak hingga orang tua yang tidak mampu menyelesaikan pendidikannya karena masalah financial untuk membiayai pendidikan anaknya.

Di hampir semua wilayah, khususnya di berbagai wilayah yang masih terpencil angka putus sekolah sangat tinggi sekali. Angka pendidikan rata-rata di daerah-daerah terpencil hanya sampai SD, data itu terjadi pada tahun ke tahun, bahkan yang tidak sekolahpun masih banyak. Alasannya adalah membantu orang tua berkebun. Di sisi lain, kerusakan moral dan akhlak generasi juga tak kalah memprihatinkannya, hari ini ditemui marak terjadinya kenakalan remaja, kasus asusila, free sex, narkoba, tawuran remaja, LGBT, sebab generasi dicetak dengan kurikulum hanya sebatas mengejar materi, ijazah dan masuk dunia kerja, tanpa mengindahkan aspek agama. 

Inilah sederet problem pendidikan negeri ini, karut-marut dunia pendidikan ini harusnya menjadikan para pemangku kebijakan mengevaluasi kembali buruknya sistem pendidikan negeri ini dengan menjadikan momen HARDIKNAS ini sebagai langkah untuk berbenah.

Jika visi pendidikan yang dijalankan bangsa ini hanya berorientasi menjadikan generasi penerus lulus sekedar memperoleh kerjaan atau menjadi karyawan perusahaan sungguh ini sangat miris. Visi pendidikan telah beralih tidak lagi mencetak generasi unggul, baik dalam prestasi, keterampilan, kepribadian, berakhlaq, shalih dan shalihah.

Sekularsime Pangkal Kerusakan

Seringnya berganti kurikulum hingga kebijakan yang berganti-ganti tentu ini akan menimbulkan masalah baru bagi dunia pendidikan. Jika ditelaah, penyebab semua permasalahan ini adalah adanya pengaturan kebijakan dalam sistem pendidikan yang menerapkan sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan dalam tatakelola negeri ini. Penerapan sistem kapitalis-sekuler menjadikan pemerintah memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator, dan katalis semata dalam bidang pendidikan.

Kapitalisme yang melahirkan sekularisme-liberal pada hakikatnya adalah pemisahan agama dari kehidupan, seterusnya akan memisahkan agama dari negara yang juga secara langsung akan memisahkan agama dari pendidikan. Kelahiran sekularisme adalah hasil kompromi, yang menyandarkan kebenaran pada manfaat semata.

Pendidikan negeri diperparah lagi dengan adanya asas dari sistem pendidikan sekuler ini yaitu materialisme. Melihat dari sini sangat nampak sistem kapitalisme sebenarnya konsep ilmiah ala pendidikan sekuler, yang sejatinya hanya menjauhkan manusia dari fitrahnya sebagai mahluk ciptaan Allah SWT. Dan inilah salah satu tujuan pendidikan sekuler menjauhkan kaum muslimin dari agamanya sendiri.

Sehingga dapat dilihat hasil dari pendidikan sekuler hanya akan menghasilkan generasi yang hidupya semata-mata mengejar materi dan ijazah. Begitu lulus mereka belum memiliki skil, kepribadian, keshalihan dan keterampilan. Kebanyakan output pendidikan sekuler lebih bermental korup, terjerumus dalam lembah maksiat, generasi alay dan jauh dari harapan generasi yang akan memajukan negeri dengan karyanya.

Kurikulum pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi tidak lagi bervisi-misi untuk menghasilkan geneasi cemerlang yang hebat dalam hal dunia dan mahir dalam hal akhirat. Pendidikan yang semestinya bervisi membangun kepribadian utuh manusia sebagai hamba Allah khalifah fil ardhi dikerdilkan hanya mencetak manusia bermental buruh.

Tentu ini sangat berbeda jauh dengan bagaimana sistem pendidikan dalam sistem pemerintahan Islam. 

Sistem Islam Solusi Masalah Pendidikan

Dari segi tujuannya pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki: (1) Kepribadian Islam; (2) Menguasai pemikiran Islam dengan handal; (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/IPTEK); (4) Memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Pada tingkat TK-SD, materi kepribadian Islam yang diberikan adalah materi dasar karena mereka berada pada jenjang usia menuju balig. Artinya, mereka lebih banyak diberikan materi yang bersifat pengenalan keimanan. Barulah setelah mencapai usia balig yaitu SMP, SMU, dan PT, materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan).

Hal ini dimaksudkan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatannya dengan syariat Islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadaran yang dimilikinya telah berhasil melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari segala tindak kemaksiatan kepada Allah Swt.

Kurikulum dibangun berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqâfah Islam dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, mendapat porsi yang besar, tentu saja harus disesuaikan dengan waktu bagi ilmu-ilmu lainnya.

Sementara materi ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya seperti kapitalisme-sosialisme disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan cacat-celanya dan ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia dan bertentangan dengan Islam.

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (PITEK, keahlian, dan keterampilan).

Dalam proses pengajaran, yang menjadi faktor terpenting adanya keberadaan peranan guru yang bukan saja sebagai penyampai materi pelajaran, namun sebagai pembimbing dalam memberikan keteladanan yang baik.

Seorang guru dituntut harus memiliki kekuatan akhlak yang mulia agar menjadi teladan bagi peserta didik sekaligus profesional. Untuk menjadi profesional, maka guru harus mendapatkan pengayaan guru dari sisi metodologi, mendapatkan sarana dan prasarana yang memadai, mendapatkan jaminan kesejahteraan sebagai tenaga profesional, yang ini semua wajib disediakan negara.

Dalam sistem negara Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah dan bahkan gratis.

Maka tugas negara juga wajib menyiapkan sarana prasarana, peralatan dan infrastruktur untuk mendukung terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Sehingga dapat dipastikan sistem pendidikan Islam mampu menciptakan SDM yang handal sekaligus tinggi dalam nilai agama.

Sepanjang sejarah keemasan Islam masa kepemimpinan Islam telah membuktikan keberhasilan pendidikan Islam selama 13 abad lebih lamanya, yang kemudian banyak menghasikan ilmuan-ilmuan terkemuka seperti Ibnu Sina (bapak kedokteran), Alzahrawi (bapak ilmu bedah), Al Khawarismi (penemu aljabar), Abbas Ibn Firnas (penemu pesawat pertama), Ibn Al Haytam (bapak optik), Jabir Ibn Hayyan (ahli kimia).

Dan masih banyak lagi ilmuan-ilmuan muslim yang bukan hanya ahli dalam akademik atau ilmu pengetahuan namun mereka juga adalah orang-orang yang sangat ahli dalam agama. Sejarah juga mencatat pada masa kejayaan Islam, masa kekhilafaan umaiyyah di Spanyol. Cordova pada masa itu dikenal dengan pusat ilmu pengetahuan.

Cordova mengalami kemajuan pesat dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan intelektual. Bukan hanya ummat Islam yang menjadi mahasiswa di Universitas ini, banyak mahasiswa dari berbagai negara datang termasuk mahasiswa kristen dari Eropa. Cordova di masa itu dikenal dengan “the greatest center of learning“ di Eropa.

Kejayaan Cordova banyak menginspirasi penulis barat dan banyak digambarkan oleh ahli sejarah ataupun politik sebagai cikal bakal pembawa kemajuan bagi barat di masa sekarang. Dan perlu dipahami bahwa Universitas Cordova hanya salah satu dari banyak keberhasilan Islam dalam dunia pendidikan dan ini membuktikan sistem pendidikan Islam itu pernah ada dan berhasil dalam memajukan pendidikan.

Artinya, dalam sistem pendidikan Islam akan menghasilkan output yang siap kerja dan terampil. Namun mereka juga memiliki kepribadian Islam yang akan menjadikannya shalih dan shalihah, jauh dari perilaku menyimpang dan asusila. Nah, ini sebenarnya yang diperlukan oleh bangsa ini. Kerusakan generasi harusnya diberi solusi yang mampu mencetak mereka jadi generasi yang unggul dalam segala bidang, bukan berorientasi hanya pada materi dan dunia.

Di sinilah Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, semestinya menjadikan pendidikan Islam di masa kepemimpinan Islam sebagai contoh dalam memperbaiki sistem pendidikan yang bobrok hari ini di negeri tercinta. Mengapa negeri harus berkiblat pada sistem barat kapitalis yang nyata-nyata hanya merusak generasi dan masa depan bangsa? Sudah saatnya mengambil dan menerapkan sistem Islam dalam bernegara untuk keberkahan dan menjadikan generasi bangsa sebagai penerus peradaban emas.

 

Wallahu a’lam bish shawab

  

Posting Komentar untuk "Refleksi Hari Pendidikan Nasional, Tak hanya Seremonial"