Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hiroshima dan Nagasaki Hancur Karena Bom Atom. Negara Hancur Karena Pajak yang Tinggi



Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)


Pada perang Dunia Kedua Amerika Serikat dengan tujuan mengalahkan musuhnya menghalalkan berbagai cara. Dua buah bom dijatuhkan ke Kota Hiroshima dan Nagasaki. Begitu banyak rakyat tak bersalah kehilangan nyawanya.

Ada 129.000 jiwa melayang. Padahal mereka bukan tentara Jepang yang turun di medan perang. AS kala itu melumpuhkan Jepang yang dalam persepsi zaman sekarang sudah layak disebut aksi terorisme.

Selain penggunaan bom atom ada hal lain yang tidak kalah berbahayanya. Ibnu Khaldun (732-808 H/ 1332-1408), Bapak Ilmu Pemerintahan Dunia mengatakan, "Di antara tanda sebuah negara akan hancur adalah semakin besar dan beraneka ragamnya pajak yang dipungut dari rakyatnya. Pajak merupakan beban bagi sebuah negara jika dipungut melebihi kemampuan rakyatnya.

Pendapat Ibnu Khaldun memang menyentuh realitas kehidupan masyarakat dimana manusia pada dasarnya ingin hidup bahagia dengan banyak pendapatan dan minim pengeluaran. Hal yang manusiawi. Revolusi Prancis menunjukkan bagaimana sebuah kerajaan hancur karena menerapkan pajak yang tinggi.

Kerajaan Prancis melakukan pemerasan dengan memberlakukan peraturan pembayaran pajak yang di luar batas kewajaran untuk menutupi kerugian akibat perang. Saat utu pemerintahan feodal Prancis membagu masyarakat dalam 3 kelas, yaitu raja dan bangsawan (golongan-1), tuan tanah dan pemuka agama (golongan-2), serta rakyat biasa (golongan-3). Ada diskriminasi pembayaran pajak.

Golongan pertama dan kedua tidak diwajibkan membayar pajak, sedangkan golongan ketiga wajib. Selain membayar pajak kepada negara, warga golongan ke-3 ini juga terkadang harus membayarkan pajak kepada tuan tanah.

Akumulasi kesenjangan sosial dan ketidakpuasaan rakyat memaksa golongan ke-1 dan ke-2 untuk wajib juga membayar pajak. Aspirasi mereka ditolak, hasilnua Revolusi Sistem meletus pada Juli 1789.

Penjarahan, kerusuhan, dan pembakaran terjadi di penjuru kota. Tentara Kerajaan melakukan penembakan kepada beberapa warganya. Masyarakat semakin panas dan menyerang Penjara Bastille pada 14 Juli 1789. Mereka membebaskan tahanan dan merampas persenjataan.

Raja dan bangsawan ditahan. Sekularisme yang merasuk kedalam tiga asas Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, persamaan dan persaudaraan) menjadi slogan perubahan di berbagai negara di Eropa. Itulah sekelumit penjajahan via pajak. Maka jika ada pajak yang dinaikkan dan diperbanyak hanya menambah peluang hancurnya sebuah negara.

Padahal dalam Islam pajak bukan sumber pendapatan utama. Masih ada pos pemasukan lain bagi negara tanpa menambab beban rakyat dengan pajak. Ketika sistem kekhilafahan tegak maka SDA bisa diambil alih dan hasilnya untuk kemakmuran rakyat.

Tanpa pajak! Pajak hanya bisa digunakan ketika kondisi kas negara (baitul mal) benar-benar kosong. Ketika pendapatan dari Sumber Daya Alam, ghanimah, dll tidak ada dan mencukupi. Selama masih ada penghasilannya, negara akan mampu membiayai operasionalnya dan melayani hajat hidup rakyatnya.

Tidak seperti negara sekuler zaman sekarang. Dimana SDA dikuasai kapitalis. Kapitalis, segelintir orang atau perusahaan, semakin kaya. Sedangkan yang miskin semakin melarat.

Sudahlah melarat, penghasilan tak ada karena banyak yang pengangguran. Yang bekerja atau berdagang, penghasilannya minim akibat Corona.

Sedangkan kapitalis besar diringankan atau dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Penerimaan pajak negara berkurang dan lagu rakyat kecil yang harus membayar pajak.

Pajak baru ingin dimunculkan seperti pajak sembako, pendidikan, rumah bersalin, jasa medis, penyiaran. Seolah-olah negara sedang diarahkan untuk menjadi negara super pajak. Semua dijadikan bahan pajak.

Ini kezhaliman yang dipelihara oleh demokrasi dan watak asli dari kapitalisme. Oleh karena itu, wajib bagi para pengemban dakwah untuk terus menyuarakan opini Islam. Mereka harus membina umat dengan pemikiran Islam agar rakyat mencampakkan sistem sekuler ini ke tong sampah peradaban. 

Mari bersatu, bergerak tegakkan sistem Islam. Sistem yang pernah menaungi dunia dengan kebahagiaan dan kemakmuran selama 14 abad dalam luas wilayah 2/3 dunia. Prestasi ini jauh melebihi Revolusi Prancis yang berdarah-darah. Sistem Islam tanpa kekerasan dan terbukti menyelematkan umat manusia. []

Posting Komentar untuk "Hiroshima dan Nagasaki Hancur Karena Bom Atom. Negara Hancur Karena Pajak yang Tinggi"