Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Islamofobia Merajalela, Syariat Islam Solusinya

 



Oleh: Afiyah Rasyad, S.S. (Aktivis Peduli Ummat dan Sahabat Visi Muslim Media)

Bak jamur di musim hujan, Islamogobia subur tak terkendalikan. Proyek global Barat untuk memonsterisasi Islam sukse mengantar Islamofobia pada segenap manusia. Sikap anti-Islam masih merajalela. Diskriminasi terhadap kaum muslim pun tak surut meski sebentar saja.

Tak reda penderitaan di Palestina, kini empat anggota keluarga muslim di Kanada meregang nyawa. Islamofobia berkibar di Kanada. Hanya karena mereka muslim, seorang pengemudi sengaja menabrakkan pickup yang dikendarainya. Kejadian berawal tatkala lima anggota keluarga muslim sedang berjalan bersama di sepanjang trotoar. Mereka tengah menunggu untuk menyeberangi persimpangan. Sebuah truk pickup hitam menaiki trotoar dan menabrak keluarga tersebut. Dari lima orang anggota keluarga, sebanyak empat orang dinyatakan tewas (detik.com, 8/6/2021).

Sungguh biadab pengemudi tersebut. Bahkan polisi di Provinsi Ontario, salah satu wilayah di Kanada tempat terjadinya insiden tersebut, mengatakan bahwa seorang pengemudi dengan sengaja menyerang satu keluarga dengan alasan karena mereka muslim. Dewan Nasional Muslim Kanada pun mengatakan “sangat ngeri” dengan serangan mematikan itu (bisnis.com, 8/6/2021).

Sungguh, serangan si pengemudi mengerikan. Serangannya dikecam sebagai Islamofobia, yakni sikap jiwa yang takut secara berlebihan terhadap pemeluk agama Islam. Bahkan, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyatakan bahwa insiden itu “mengerikan” dan menggambarkan sebagai “tindakan kebencian”. Trudeau juga menyampaikan rasa simpatinya pada orang-orang yang dicintai para korban, termasuk korban yang selamat. Dia menyampaikan dalam tweet-nya bahwa Islamofobia tak ada tempat di sisinya.

Sungguh kecaman yang datang dari sosok petinggi negeri Kanada, namun hal itu tak cukup menyelesaikan persoalan Islamofobia. Pembelaan terhadap kaum muslim tak cukup hanya dengan kecaman saja. Persoalan nyawa dalam dunia kapitalisme sangatlah tak berharga. Nyawa melayang karena kebencian tak berdasar hanya diiringi rasa simpati dan kecaman saja. 

Namun, kondisi saat ini dinaungi oleh sistem kapitalisme, maka Islamofobia merajalela, sementara hukum yang diberlakukan tak memberikan efek jera. Sistem kapitalisme hanya menimbulkan kemudharatan demi kemudharatan.

Sistem kapitalisme memberi ruang pada segenap manusia untuk membuat atutan. Dengan demikian, posisi manusia menyaingi Allah Sang Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan, serta hubungannya dengan sebelum dan setelah kehidupan. Selain itu, sistem keadilan dalam kapitalisme tak akan membawa keadilan yang nyata bagi manusia, muslim ataupun nonmuslim.

Islamofobia merajalela karena terpelihara oleh sistem kapitalisme yang berasas sekularisme, yakni memisahkan agama dengan kehidupan. Manusia dibiarkan bebas mengatur kehidupannya tanpa membawa agama. Sistem ini menjunjung tinggi kebebasan tanpa terikat dengan agama. Wajar, jika kebenaran dan cahaya Islam tak tampak. Justru, kebencian tak beralasan pada Islam dan ajarannya, termasuk pada kaum muslim kian bergelora.

Padahal, nyawa manusia dalam pandangan syariat Islam sangatlah berharga. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga sebab: (1) orang yang telah menikah yang berzina, (2) jiwa dengan jiwa (membunuh), (3) orang yang meninggalkan agamanya (murtad), lagi memisahkan diri dari jemaah kaum muslim.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bahkan, dalam Hadis yang lain, Allah begitu menghargai nyawa seorang muslim. Rasulullah saw. bersabda:

“Lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah, daripada terbunuhnya satu orang muslim.” (HR Tirmidzi)

Terang benderang bagaimana Islam menghargai nyawa, terutama nyawa seorang muslim. Selain itu, Islam juga mewajibkan qishosh atau sanksi serupa atas kasus pembunuhan yang disengaja. Hukum qishos ini bisa memberikan efek jera dan mampu mencegah adanya serangan pembunuhan serupa. Selain itu, penjagaan atas nyawa manusia akan dijaga betul oleh negara yang menerapkan syariat Islam secara kafah. Negara itulah yang disebut Khilafah.

Saatnya kaum muslim berjibaku dalam perjuangan yang menghendaki perubahan mendasar dan menyeluruh. Dimana perubahan ini akan membawa kaum muslim untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam. Sehingga, siapa pun akan memandang Islam dan kaum muslim secara jernih.


Wallahu a'lam bishowab.

Posting Komentar untuk "Islamofobia Merajalela, Syariat Islam Solusinya"