Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perekonomian Meroket Era Dua Khalifah




Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Masalah demi masalah silih berganti melanda negeri tercinta. Sampai kapankah masalah-masalah itu bisa selesai? Masyarakat terus teraniaya dalam sistem kapitalistik dengan kebijakan-kebijakan yang zhalim.

Hidup bukan semakin mudah malah semakin susah. Utang negara sempat mencapai Rp.6.000 Trilyun. Pajak semakin banyak, meningkat pungutannya dan beragam.

Iuran kesehatan hampir tiap tahun naik 100%. BUMN banyak yang tekor. Padahal harapan negara ada pada BUMN yang bisa menghasilkan pendapatan untuk negara. 

Para koruptor belum juga jera melakukan aksi korupsinya. Sekelas Harun Masiku hingga detik ini belum juga ditemukan hanya dengan alasan HM tidak memiliki handphone.

Biaya pendidikan pun mahal dan pelayanannya tidak bisa maksimal via online. Kuota internet yang mahal per bulanan menjadi keluh kesah banyak orang tua.

Beban rakyat kecil semakin susah apalagi diketahui ada rencana pajak produk sembako di tahun depan melalui Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12%. Padahal saat ini barang sembako tidak kena pajak. Beras, daging, hingga telur bakal dikenakan PPN ini sebagaimana tertuang dalam draft RUU Perubahan Kelima Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Beban utang luar negeri sangat besar, biaya kesehatan dan pendidikan mahal, penghasilan masyarakat berkurang. Perusahaan dan Usaha Masyarakat banyak yang gulung tikar. PHK dimana-mana.

Rakyat semakin susah tetapi sembako yang merupakan keperluan hidup sehari-hari dipajaki. Penjual dan pembeli mengeluh. 

Bingung memenuhi hajat hidupnya disaat beban hidup semakin berat. Rakyat tidak mengetahui bahwa akar berbagai masalah di negeri ini adalah efek diterapkannya sistem hidup sekuler di bawah naungan kapitalisme.

Para kapitalis semakin kaya dan dipermudah sedangkan rakyat kecil semakin tertekan. Ini berbeda pada zaman Kekhilafahan Islam dimana sekularisme tidak dikenal.

Syariat Islam menyatu dalam kehidupan sehari-hari Umat Islam. Mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan mendapat ridho Ilahi. Mereka mencapai zaman keemasan dengan menerapkan ajaran Islam secara Kaffah.

Misalnya era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab ra Umat Islam mampu menguasai jazirah Arab dan menundukkan dua imperium besar Romawi dan Persia. Palestina pun dibebaskan dari penjajahan.

Bagaimana dengan kesejahteraan rakyat? Semuanya sejahtera karena tidak ada yang korupsi. Khalifah Umar memproteksi negaranya dengan sisem anti korupsi yang sangat kuat.

Setiap pejabat yang korupsi disanksi keras. Selain itu pemasukan negara melimpah dari beberapa pos syar'i semisal Ghanimah, Kharaj, jizyah, zakat dll.

Hasilnya Kekhilafahan mampu menggaji pegawainya. Sekelas Guru mendapatkan gaji 30 juta per bulan. Bandingkan dengan salahsatu gaji guru honorer Paud di NTT hanya Rp.100.000 per bulan.

Tidak ada rakyat yang sangat miskin melarat. Setelah itu pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, rakyat malah semakin makmur. Yang paling miskin di wilayah Khilafah adalah yang memiliki sebuah rumah, lahan dan hewan tunggangan.

Pada masanya, serigala tak mau memangsa domba. Serigala berteman dengan domba. Sebab serigala pun mendapatkan perhatian dari negara. 

Pada masanya pula zakat pernah ditolak di benua Afrika yang kala itu masuk wilayah Khilafah Islam. Sebab disana tidak ditemukan adanya orang yang berhak menerima zakat. Bandingkan dengan keadaan sekarang dimana banyak sekali orang yang memerlukan lebih dari sekedar zakat yakni sembako, biaya pendidikan dan kesehatan yang murah dan bahkan sebisa mungkin gratis.

Layanan pendidikan dan kesehatan memang digratiskan semasa Khilafah berjaya. Bahkan banyak orang dari Eropa masuk ke Khilafah untuk mendapatkan layanan gratis ini. Banyak juga yang bukan warga Khilafah menuntut ilmu di kampus-kampus Khilafah.

Calon Paus pun ada yang menjadi mahasiswanya. Jadi tugas pengemban dakwah sekarang adalah memaksimalkan pembinaan kepada Umat agar mereka paham akan keagungan ajaran Islam.

Opini tentang Islam harus terus disebarluaskan. Agar Umat paham dan menjauhi sistem sekuler yang selama ini menjadi biang kerok atas kesusahan masyarakat.

Meskipun sulit karena Umat telah terkontaminasi pemikirannya oleh sistem sekuler. Dan negaranya dikuasai kapitalis besar. Tetapi janji Allah SWT dan Rasulnya bahwa Khilafah akan segera tegak.

Itu benar. Para pengemban dakwah harus menyambutnya dengan melaksanakan proses dakwah semaksimal mungkin. Sehingga kejayaan Islam akan terulang kembali seperti dulu. []

Bumi Allah SWT, 26 Syawal 1442H / 9 Juni 2021


#DenganPenaMembelahDunia

#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan 

Posting Komentar untuk "Perekonomian Meroket Era Dua Khalifah"