Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Waspada Ritel Ambruk, Pertanda Rapor Merah Perekonomian?




Oleh: Desi Wulan Sari (Pegiat Literasi dan Pengamat Publik)

Kondisi berduka bagi perekonomian negeri ini terus bertambah. Dampak awal pandemik yang mengurangi pendapatan para pelaku ekonomi rakyat kini kian merambah kepada pelaku ekonomi skala nasional. Namun, bukan hanya sekali ini masalah gulung tikar dialami ritel besar, sebelumnya Matahari Dept. Store, Golden Truly, Gramedia, Centro Dept. Store, dan Kinokuniya sudah banyak yang menutup gerainya. Dan baru-baru ini ritel nasional “Giant” mulai mengikiuti jejak mereka mereka menutup gerainya secara keseluruhan per 1 Juli 2021 mendatang (cnnindonesia.com, 26/5/2021).

Melihat trend penurunan gerak pertumbuhan ekonomi tersebut, apakah yang sedang terjadi dengan negeri kita ini? Bayak pengamat politik dan ekonomi mulai merasa gerah dan insecure atas langkah-langkah pengusaha yang menutup gerai-gerai besar ritel tersebut. Karena dampak penutupan gerai besar ini akan menimbulkan persoalan besar pula dari sisi ekonomi dan sosial masyarakat akibat gulung tikarnya perusahaan tersebut. 

Penutupan gerai ritel Giant menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey akan berdampak hebat mulai dari pemerintah itu sendiri dengan hilangnya pendapatan negara dari retribusi pendapatan daerah melalui pajak reklame, air, bangunan dll. (liputan6.com, 25/5/2021).

Kondisi ini menjadi rapor merah bagi pemerintah negeri. Karena setiap kondisi dan realita yang terjadi di lapangan merupakan tanggung jawab negara. Bagaimana negara memiliki kekuasaan melalui kebijakan dan aturan-aturan hukum terkait investasi, penanaman modal, dan jalannya usaha nasional hingga global. Bahkan keprihatinan di rapor merah ini semakin dirasakan dengan meningkatnya potensi kehilangan daya beli di wilayah terimbas dari pekerja yang di PHK massal, dampak sosial akibat kesulitan ekonomi rakyat, 

Seandainya saja negara menjalankan fungsinya dalam mengurus urusan rakyat, maka hal-hal krusial seperti ambruknya ritel nasional tidak sakan sampai terjadi. Namun, tidak dapat dipungkiri saat sistem ekonomi kapitalis mengatur urusan negara, maka kesengsaraan rakyat akan terasa meningkat. Inilah yang dirasakan rakyat negeri hari ini. Sistem ekonomi kapitalis tidak akan pernah mengurusi kesejahteraan apalagi kemakmjuran rakyatnya, yang ada mereka hanya mementingkan kepentingan kelompok sendiri dengan menjalankan ekonomi global yang fokus pada keuntungan mereka semata. Roda produksi besar-besaran akan terus di genjot agar hasil materi yang didapat pun semakin besar. Itulah tujuan kemakmuran bagi kapitalis.

Lantas siapakah yang mampu memberkan solusi dari setiap hantaman ekonomi nasonal, termasuk urusan ritel yang gulung tkar? 

Islam Solusi Terbaik 

islam memiliki sistem ekonomi yang mampu memberikan solusi, sebagaimana Rasulullah SAW, para kulafur Rasyidin dan para khalifah di masa Daulah Islam selalu mengunakan sistem ekonomi Islam dalam mengatur perekonomian negara. Maka jika sistem ekonomi Islam diterapkan kemungkinan masalah seperti penutupan gerai ritel besar yang berdampak pada stabilitas hidup rakyat sangat kecil kemungkinan terjadi. 

Prinsip dasar ekonomi Islam adalah mengedepankan penyerapan pasar domestik dan sangat didukung oleh negara dalam rangka memenuhi kebutuhan individu masyarakatnya. Sistem mata uang yan digunaka pun tergolong stabil yaitu menggunakan standar mata uang emas (dinar dan dirham). sehingga negara tidak lagi bergantung pada mata uang asing dalam menstabilkan perekonomian negeri. 

Adapun menjadi perhatian penting dalam sistem ekonomi Islam, hanya menerapkan sistem transaksi di sektor riil dan menghentikan segala bentuk transaksi ribawi dan non riil lainya. Penawaran dan permintaan bukanlah menjadi indikator menaikkan atau menurunkan harga atau inlasi, justru akan cenderung stabil karena tidak akan ada yang namanya menaikkan atau menurunkan suku bunga acuan seperti layaknya negara penganut sistem ekonomi kapitalias. Daulah Islam dalam ekonomi Islamnya hanya berperan sebagai pemantau dan memastkan kelancaran proses distribusi barang dan jasa agar segala kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. 

Begitupun sumber kekayaan alam akan dikelola langsung oleh negara. Sumber kekayaan ini adalah milik rakyat dan akan dikembalikan hasilnya untuk rakyat juga guna memenuhi kebutuhan rakyat dalam hal pendidikan, keamaan, kesehatan atau dengan kata lain terjamin kebutuhan dasar rakyat seperti sandang, pangan dan papan nya. Karena tidaklah mungkin menerapkan sistem ekonomi Islam di bawah ideologi kapitalisme dikarenakan ekonomi Islam dibangun di atas landasan akidah Islam, bukan ide kapitalisme yang bertentangan dengan akidah Islam. 

Sejatinya, hanya sistem ekonomi Islamlah yang mampu membawa solusi dari problematika umat dan membawa kesejahteraan serta kemakmuran rakyat. Dengan menegakkan kembali Islam Kaffah ke tengah-tengah umat maka akan tercipta rakyat sejahtera, martabat dan wibawa negara pun akan tetap terjaga. Wallahu a’lam bishawab.[] 

Posting Komentar untuk "Waspada Ritel Ambruk, Pertanda Rapor Merah Perekonomian? "