Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wanita Sholihah, Bidadari Pelukis Peradaban



Oleh : Alfi Ummuarifah, S.Pd (Guru dan Pegiat Literasi Islam di Medan)


Masihkah ingat olehmu wahai wanita sholihah bagaimana kegigihan ibunda imam Ahmad dalam mendidik anaknya? Ibunda imam Syafi'i, ibunda Anas bin Malik istri Abu Tholhah? Juga wanita sholihah yang lainnya?

Jika engkau masih ingat, bagaimanakah kegigihan mereka melukis dunia? Melukis dunia ini dengan menjadikan anak mereka sebagai bintang yang menerangi gagahnya peradaban Islam di dunia.

 Ya, mereka telah melukisnya seindah mungkin. Agar ada alasan bagi Allah menjumpai mereka sebagai ibunda yang sholihah yang mengukir peradaban dengan indah. Agar ada alasan Allah memasukkan mereka ke dalam syurga. Tak kalah dengan laki-laki patner mereka dalam menyiapkan generasi emas.

Merekalah wanita syurga, wanita akhir zaman yang disiapkan oleh Allah agar kita tidak bodoh dan terbelakang hari ini. Sebab di balik kesuksesan seorang anak itu ada ibunya,ibunya,ibunya dan lalu ayahnya. Begitu juga di balik kesuksesan seorang suami itu ada istrinya yang sholihah.

Engkaukah wanita sholihah itu? Siapakah mereka itu? Dialah wanita yang mengukir peradaban di masanya. Wanita yang ditakuti musuhnya dan musuh penciptaNya.Wanita yang rindu anak syurga dari rahimnya dan didikannya. Wanita yang hanya mengharapkan keridhoan suaminya.

Tentang hal ini Rasulullah Shalallahu Alayhi wasallam pernah bersabda dalam hadisnya sebagai berikut :

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Rasulullah ditanya; siapakah wanita yang paling baik? Beliau menjawab:

“Yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, taat jika diperintah suaminya dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya.”(HR. An Nasa’i).

Inilah penggalan ayat Allah yang menyebutkan kriteria wanita sholihah. Engkaukah itu? Ayat ini menyatakan, 

"....... Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)....... (QS.Annisa 34)

Engkaukah wanita sholihah itu? Siapakah mereka itu? Dialah wanita yang mengukir peradaban di masanya. Wanita yang ditakuti musuhnya dan musuh penciptaNya.Wanita yang rindu anak syurga dari rahimnya dan didikannya. Wanita yang hanya mengharapkan keridhoan suaminya.

Mengenai hal ini Rasulullah pernah bersabda dalam hadisnya sebagai berikut :

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; siapakah wanita yang paling baik? Beliau menjawab:

“Yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, taat jika diperintah suaminya dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya.” (HR. An Nasa’i).

Jadi, wanita sholihah itu adalah wanita yang menyenangkan di hadapan suaminya. Wanita yang meskipun dia tidak bersalah, dia tidak mengangkat tangannya saat meninta maaf pada suaminya. Ketundukan dirinya pada syariat, telah membuatnya mampu menurunkan egonya, semata-mata untuk meraih keridhoan suaminya dan penciptanNya.

Wanita sholihah ini akan taat pada perintah suaminya selama suaminya tidak mengajak pada kemaksiatan.

Tentu saja perkara-perkara wajib sebagai istri akan dia tunaikan. Termasuk juga perkara mubah yang membuat suaminya meridhoinya.Tak masalah bagi dirinya jika harus menurunkan sedikit egonya agar suaminya merasa bahagia.

Selain itu, wanita yang Sholihah tidak akan menyelisihi suaminya dalam keputusan suaminya dan dalam pengelolaan hartanya. Selama kebijakan itu dilakukan untuk perkara yang tidak menyelisihi syariat. 

Jika ternyata suaminya itu melakukan pelanggaran berat syariat, misalnya dia berzina, mabuk, makan riba, membunuh dan melakukan tindakan kriminal lainnya. Maka boleh bagi si wanita meminta "berpisah" dengannya jika suaminya tidak mau berubah. Namun wanita tadi diberikan pilihan kedua, untuk bersabar dan menuntun suaminya dalam jalan taubatnya. Hal yang kedua ini kata Rasulullah lebih utama. Sebab kesabaran sang istri sebagai wanita sholihah teruji dalam mengajak suaminya ke jalan hijrah.

Selain beberapa ciri di atas, ada ciri wanita sholihah yang lain yang mesti dia wujudkan, diantaranya wanita tadi memiliki rasa malu atas sebab dan tanpa sebab.

Sifat malunya ini akan menyelamatkan dirinya dari maksiat. Karena malu yang dimilikinya itu dia akan berfikir seribu kali untuk lenggak- lenggok menuju kota untuk ikut ajang pemilihan para wanita terbaik. Wanita itu juga akan menjadikan rasa malunya untuk menghindari kholwat, ikhtilat, zina dan perbuatan yang menurunkan kehormatannya. Dia malu karena Allah memang menganugerahkan rasa malu itu secara lebih padanya.

Perbuatan yang dilakukannya penuh perhitungan. Dia siap menjadikan rahimnya yang mulia sebagai tempat calon pejuang dan orang sholih bersemayam.

Dia memahami dan siap melahirkan anak banyak. Sebab wanita sholihah itu akan mewujudkan keinginan Rasulullah

 bangga akan umat yang banyak. Rahimnya yang mulia, Air susunya dan tubuhnya akan dikorbankan demi mencetak generasi pengubah peradaban yang gemilang.

Dia rindu anak sholih dan sholihah. Dia komitmen pada usaha yang sungguh-sungguh menyiapkan generasi yang dirindukan syurga walaupun sulit rintangannya. 

Dia tidak mudah menyerah dalam sistem rusak ini. Dia yang menyiapkan generasi akhir zaman yang cerdas, sholih dan bermanfaat menolong agama Allah. Meskipun Allah tidak butuh bantuannya. Namun dia sadar, dia tidak dapat mewujudkan anak sholih itu tanpa ada bantuan suami, keluarga, sekolah dan lingkungan yang mendukung (sistem islam).

Sabda Rasulullah ini dapat menjadi pengingat bagi wanita sholihah. 

الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lain pun akan terangkat.”(HR. Al Hakim )

Begitu jelas Rasulullah menyebutkan bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlak Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota dirinya. Jika rasa malunya sudah tercabut, maka mudah baginya bermaksiat.

Dia akan terpengaruh oleh godaan dunia dalam jeratan halusnya.

Dia akan terjebak dalam konsep materialisme, ikut meramaikan kontes-kontes kecantikan. Berlenggak-lenggok di hadapan orang banyak membuka auratnya. 

Keengganan dirinya menutup aurat, patuh kepada perintah suaminya dalam ketaatan. Dia pun rela meninggalkan tugas utama sebagai istri, ibu dan manajer rumah tangganya daripada tetap tinggal di rumah suaminya.

 Semua itu dilakukan karena dua sudah terpapar racun. Hilangnya rasa malu yang direkayasa barat untuk merusak peran mereka yang seharusnya dilakukan. 

Maka, berbahagialah saat mendapati para wanita muslimah yang masih memiliki rasa malu. Rasa malu yang berasal dari keimanannya. Sebab saat rasa malu tiada lagi, keimanan pun akan hilang. Rasa malu dan keimanan itu ibarat daging dan tulang. Jika tulangnya rusak, daging pun akan ikut busuk.

Demikianlah Rasulullah sudah memerinci gambaran wanita yang sholihah secara detail. Beliau sudah menunjukkan teladan dalam melaksanakan syariat Allah. Juga dalam menghiasi amalan dengan akhlak yang baik termasuk rasa malu. Jangan biarkan generasi kita rusak karena mengikuti jerat langkah syaithan. Naudzu billah min dzaalik. 

Posting Komentar untuk "Wanita Sholihah, Bidadari Pelukis Peradaban"