Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kurikulum Berbasis Industri Mencetak Buruh Korporasi


Ilustrasi


Oleh: Salamatul Fitri (Akitivis Dakwah Kampus)


 Perguruan tinggi yang menjadi ladang mencetak intelektual muda kini berubah menjadi ladang mencetak buruh siap kerja. Perguruan tinggi rasa “pabrik” notabene disematkan, mengingat kurikulum dan kebijakan yang dibuat mempersiapkan intelektual muda ini untuk terjun ke dunia kerja. Padahal, sumbang sih keilmuannya sangat dibutuhkan masyarakat guna kemajuan bangsa dimasa depan. Bukti tersebut terlihat dengan adanya permintaan Presiden Joko Widodo bagi perguruan tinggi melibatkan berbagai industri untuk mendidik mahasiswanya. Di era yang penuh disrupsi seperti saat ini, kolaborasi perguruan tinggi dengan para praktisi dan pelaku industri sangat penting, papar Jokowi. (kompas.com, 27/07/2021). 

 Presiden Joko Widodo juga menjelaskan mengajak industri ikut mendidik para mahasiswa sesuai dengan kurikulum industri, bukan kurikulum dosen agar mahasiswa memperoleh pengalaman yang berbeda dari pengalaman di dunia akademis semata. Mahasiswa juga harus difasilitasi untuk mampu bersaing di pasar kerja yang semakin terbuka dan terglobalisasi serta harus mampu menjadi industriawan yang menciptakan lapangan kerja. Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa Presiden memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk industri memasuki perguruan tinggi dan bekerjasama guna menyusun kurikulum serta mencetak mahasiswa yang siap terjun ke dunia kerja. Miris, perguruan tinggi yang seharusnya diisi dengan aktivitas keilmuan, berdiskusi ilmiah, penelitian malah ingin mencetak lulusannya menjadi buruh kerja. Lalu, keilmuan yang didapatkan mahasiswa akan disalurkan kemana? 

Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat ketika mereka menyelesaikan pendidikannya maka sumbangsih keilmuannya sangat ditunggu guna kemajuan bangsa mendatang dengan berbagai penemuan dan teknologi yang ditemukan. Kurikulum berbasis industri menciderai Tridarma perguruan tinggi yakni menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Adapun fungsi dari pengabdian kepada masyarakat adalah aktivitas civitas akademika kampus memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi untuk memajukan kesejahteraan rakyat, tidak hanya menghasilkan materi semata guna kepentingan individu. 

Sayangnya, makna Tridarma perguruan tinggi mulai banyak ditafsirkan sesuai kebijakan yang berlaku. Jargon besar pendidikan tinggi saat ini adalah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), sehingga proses pembelajaran dilangsungkan demi menyelaraskan kampus dengan dunia usaha/kerja. Hal ini berdampak kepada output lulusan yang dihasilkan, seolah bekerja adalah perkara wajib yang harus dilakukan setelah lulus dari perguruan tinggi. Orientasi materi dan bekerja mewarnai pemikiran para mahasiswa saat ini. Wajar, akhirnya mahasiswa hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, ingin lulus dengan predikat cumlaude agar diterima di perusahaan terbaik dan mengejar materi dengan bekerja. 

Bahaya Kurikulum Berbasis Industri 

Kurikulum berbasis industri adalah program lanjutan dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Kurikulum berbasis industri merupakan link and match perguruan tinggi dengan industri sehingga menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap memasuki dunia kerja. Di era globalisasi saat ini, lulusan perguruan tinggi dituntut untuk siap memasuki dunia yang sesungguhnya sehingga kurikulum berbasis industri menjadi jawabannya. Sayangnya, kurikulum tersebut semakin menjauhkan peran perguruan tinggi dalam mencetak intelektual yang keilmuannya dibutuhkan.

 Dari kebijakan yang dibuat, membuktikan bahwa kebijakan tersebut justru memudahkan korporasi menguasai kampus. Sangat membahayakan tujuan pendidikan indonesia, bahkan menggeser tujuan pendidikan yakni mendidik dan mencetak intelektual berubah menjadi mencetak buruh korporasi. Hal ini membuktikan semakin tertekannya dunia pendidikan oleh korporasi. Kurikulum berbasis industri akan melahirkan generasi buruh bukan generasi yang berorientasi intelektual. Dampak jangka panjang bangsa akan kehilangan SDM pakar ilmu yang memberikan kontribusi keilmuannya untuk masyarakat. Kebijakan tersebut juga menjadi pintu korporasi membajak potensi intelektual generasi. 

Kebijakan perguruan tinggi yang berubah-ubah mengikuti “pasar bebas” mengakibatkan bukan masyarakat yang akan memanen SDM berkualitas melainkan para kapitalis dalam negeri dan asing. Sehingga, pemerintah terus mendorong kebijakan agar mampu mengikuti perubahan dan kebutuhan industri. Sayangnya, demi memenuhi hasrat para kapitalis anak bangsa dikorbankan bahkan masa depan bangsa tergadai, bayangkan beberapa tahun kedepan bagaimana nasib bangsa jika intelektual mudanya menjadi buruh korporasi. Siapa yang akan memajukan bangsa dengan kelimuan dan teknologi mumpuni nantinya, apakah bangsa ini akan terus membebek kepada asing? Apakah teknologi bangsa ini akan terus tertinggal dengan teknologi asing? 

Islam Mencetak Intelektual Berdaya Demi Kemaslahatan Umat 

 Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna, mengatur berbagai aspek kehidupan salah satunya pendidikan. Perguruan tinggi yang saat ini sudah digempur dan ditekan korporasi, aspek pemikiran generasi pun jauh dari identitas islam. Permasalahn pendidikan saat ini tidak bisa diabaikan dan harus dicari solusi mendasarnya guna perubahan lebih baik dimasa mendatang. 

 Intelektual sebagai pelopor perubahan hanya bisa diwujudkan jika memahami permasalahan yang mendera negeri ini. Permasalahan yang terjadi bukan karena salah pengelolaan tetapi karena diterapkannya sistem kapitalisme-demokrasi yang meniscayakan lahirnya pemimpin abai, korupsi dan zolim terhadap rakyat. Belum lagi, berkuasanya para kapital yang semakin mengokohkan eksistensinya. Pemikiran para intelektual pun beralih demi mengejar materi semata tidak keilmuan yang mendatangkan maslahat. Semua perkara tersebut semakin menunjukkan ada yang tidak beres dengan dunia pendidikan saat ini. 

 Pengaturan perguruan tinggi memerlukan sistem pendidikan yang mampu menyelesaikan permasalahan dalam dunia perguruan tinggi yakni berlandaskan islam. Pendidikan dalam islam berasaskan akidah islamiyah sehingga kebijakan dan aturan terkait disusun berdasarkan asas tersebut. Pendidikan dalam islam membentuk pola pikir islam (aqliyah islam) dan pola sikap islam (nafsiyah islam) tidak berlandaskan keintelektualan semata, sehingga terwujud kepribadian islam (syakhsiyah islam). Menyusun kurikulum yang berbasis akidah islam guna mencetak generasi yang membawa kemaslahatan umat. 

 Selain itu, pendidikan dalam islam berfokus membentuk generasi yang mampu melayani kepentingan umat dan memberikan kemaslahatan umat. Dengan demikian, akan lahir intelektual-intelektual muslim yang menjadi problem solver dengan berbagai keahlian yang dimiliki di tengah masyarakat. Lahirnya intelektual muslim yang polymath adalah kepastian yang tidak bisa ditolak bahkan keilmuannya diakui dunia hingga saat ini. Diantaranya Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Farabi, Al-Khawarizmi, Ibnu Rusyd, Al-Firdausi, Jabbar Ibnu Haytam, Maryam Al-Astrulabi, Fatimah Al-Fihri dan lain sebagainya. 

 Pendidikan dalam islam adalah tanggung jawab negara. Negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkaitan dengan sistem pendidikan yang diterapkan, memberikan fasilitas dan layanan terbaik, mengarahkan potensi intelektualnya, serta mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat dengan mudah bahkan gratis. 

Sejarah mencatat bahwa kejayaan islam telah berkontribusi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Mendirikan lembaga-lembaga pendidikan terbaik di dunia kala itu diantaranya, Universitas Al-Azhar di Mesir, Universitas Al-Qarrawiyyin di Fez, Maroko, Nizhamiyah di Baghdad dan lain sebagainya. Bukan hanya universitasnya yang kelas dunia tetapi juga mahasiswanya luar biasa. Mahasiswa yang ahli sains dan teknologi, ahli tafsir bahkan hafizh qur’an.  

Pada masa Abbasiyah telah banyak melahirkan dokter terkenal diantaranya, Hunain Ibnu Ishaq (804-874 M) terkenal sebagai dokter yang ahli dibidang mata dan penerjemah buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Ibnu Sina (980-1036 M), karyanya yang terkenal adalah Al-Qanun Fi At-Tibb dijadikan sebagai buku pedoman bagi Universitas di Eropa dan negeri-negeri Islam. Pada awal abad ke-13 M, ahli biologi Andalusia yakni Abu Al-Abbas Al-Nabati mulai mengembangkan metode ilmiah untuk botani. Muridnya bernama Ibnu al-Baitar kemudian mengembangkan ilmu botani lebih luas dan berhasil menulis kitab Al- Jami fi Al-Adwiya Al-Mufrada yang diyakini sebagai salah satu kompilasi botani terbesar dalam sejarah. Ensiklopedi botani tersebut memuat 1.400 jenis tanaman berbeda. Sebanyak 300 diantaranya, yakni temuannya sendiri dan sangat berpengaruh di Eropa. Wallahu’alam bisshawab




 

Posting Komentar untuk "Kurikulum Berbasis Industri Mencetak Buruh Korporasi"