Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kekayaan Pejabat Meningkat Saat Rakyat Hampir Sekarat




Oleh: L. Nur Salamah, S.Pd (Komunitas Aktif Menulis & Kontributor Media)


Pandemi covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia, sudah hampir dua tahun ini, ternyata tidak berdampak pada masalah kesehatan saja, namun merambah pada sektor yang lain yaitu pendidikan maupun ekonomi. Jumlah penduduk miskin di perkotaan semakin meningkat. Namun, di lain sisi kekayaan pejabat makin melesat. Bisnis apakah gerangan, begitu cepat dengan keuntungan yang sangat fantastis?

Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK, Pahala Nainggolan dalam webinar yang bertajuk "Apa Susahnya Lapor LHKPN Tepat Waktu dan Akurat", mengatakan bahwa berdasarkan catatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kekayaan pejabat negara meningkat selama pandemi covid-19 ini. 

Seperti dilansir dari laman KOMPAS.com (13/09/2021), Pahala menyatakan bahwa kenaikan harta para pemangku jabatan itu diketahui setelah KPK melakukan analisis terhadap Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) selama setahun terakhir. Beliau juga menyampaikan bahwa KPK mengamati, selama pandemi setahun terakhir ini, harta pejabat atau penyelenggara negara mengalami kenaikan hingga 70,3 persen.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat politik, Ray Rangkuti mengungkapkan bahwa meningkatnya kekayaan para pejabat dilatarbelakangi oleh sedikitnya pengeluaran saat pandemi. Seperti dilansir dari laman Tribunnews.com (13/09/2021) bahwa perihal yang mengakibatkan kekayaan para pejabat meningkat, salah satunya adalah karena pengeluaran mereka berkurang, dan pemasukan tetap stabil.

Bertambahnya kekayaan yang dimiliki oleh seseorang merupakan sesuatu hal yang wajar, apabila memiliki bisnis atau usaha sampingan, di luar tugas utama sebagai pejabat negara. Namun, yang menjadi pertanyaan dalam diri rakyat kecil ini adalah, bisnis apakah yang begitu cepat dan melesat hingga mendapatkan keuntungan sangat fantastik, bernilai miliaran dalam setahun ini.

Tidak bisa disalahkan juga, apabila sebagian masyarakat beranggapan bahwa para pejabat memanfaatkan pengaruh posisinya untuk berbisnis. Bisnis vaksin kah, PCR atau yang lainnya. Karena tidak sedikit juga kabar beredar, ada oknum yang mengambil keuntungan dari jenazah pasien covid-19. Dan apabila hal itu benar adanya, jelas ini merupakan sebuah pelanggaran yang bisa mengarah pada tindakan korupsi.

Realistas ini sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat secara umum. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin mencapai 27,54 juta orang pada Maret 2021. Sungguh sangat ironis.

Sebagai pejabat dan penyelenggara negara, yang semestinya mempunyai tugas dan kewajiban untuk melayani masyarakat, justru sebaliknya, malah membuat rakyat curiga dan sakit hati. Betapa tidak, di saat kondisi rakyat menjerit karena beban hidup yang terus menghimpit, ekonomi makin sulit. Ditambah lagi berbagai kebijakan yang ditetapkan seperti PPKM dengan berbagai penyebutan, mengakibatkan wong cilik tercekik. Di lain sisi pejabat malah menari-nari di atas penderitaan rakyat. Sudah tidak adakah rasa simpati dan empati? Atau jangan-jangan nurani sudah mati.

Fenomena semacam itu bukanlah rahasia lagi di dalam sistem sekuler Kapitalisme. Sebuah tatanan kehidupan yang terpisah dari nilai-nilai agama. Standar kebahagiaan diukur dari sesuatu yang bersifat materi dan jasadiah semata. Aturan kehidupan disandarkan pada kepentingan dan hawa nafsu saja, yang mengakibatkan manusia rakus kekuasaan, hilang empati dan minus nurani. Mereka akan melakukan apa saja, menghalalkan segala cara demi mempertahankan existensinya.

Kepemimpinan dalam Islam

Islam telah memberikan banyak contoh. Bahwa, jabatan itu adalah amanah. Amanah itu sangatlah berat. Karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Sedangkan pemimpin itu adalah pelayan bagi umat, melayani dan mengurusi segala urusan umatnya, serta tidak mendapatkan gaji, melainkan hanya sebuah tunjangan sekedar untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sebagaimana kisah Amirul Mukminin Sayidina Umar Ibnu Khatab, beliau memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya yang kelaparan. Beliau enggan untuk dibantu. Karena beliau takut akan azab yang akan diterima, jika ada rakyatnya yang menderita karena kepemimpinannya. Dan beliau memastikan bahwa rakyatnya tidak ada lagi yang terzalimi. Semua itu dilakukan karena ketakwaan, serta mengharap ridho Allah Swt semata. Bukan sekedar pencitraan dunia.

Rasulullah Saw bersabda, "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." (HR. Ibnu Asakir, Abu Nu'aim). 

Namun, mengharapkan pemimpin sebagaimana Umar bin Khatab, Umar bin Abdul Aziz, Al-Mu'tasim Billah dalam sistem demokrasi seperti sekarang ini hanyalah sebuah ilusi. Dan Islam adalah satu-satunya sebuah aturan kehidupan yang paripurna, untuk menyelesaikan segala problematika yang ada. Berasal dari sang pencipta, yang tidak ada kepentingan dengan siapapun dan apapun, selain untuk membawa kebaikan dan rahmat untuk semesta. 


WaAllahu'alam Bishowwab

Posting Komentar untuk "Kekayaan Pejabat Meningkat Saat Rakyat Hampir Sekarat"