Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ribet karena Anak? Masa' sih?




Oleh: Citra Dewi Anita


“Aduh maaf ya aku tak mau repot harus ngurus anak. Aku masih single. Karier prioritasku supaya sukses."

Begitu kata temanku saat ku tanyakan kabarnya. Mungkin aku terlalu berani menanyakan hal pribadi kepadanya. Tapi, inilah gambaran fakta di lapangan jaman sekarang. Banyak yang kini memilih untuk melajang dan fokus pada karier sampai mencapai tingkat sukses menurut standar manusia. Ada juga yang akhirnya menikah tapi memilih untuk tidak memiliki anak. 

Childfree, bebas ribet dan capek? 

Sahabat, akhir-akhir ini banyak sekali yang memperbincangkan fenomena childfree. Keputusan bagi sepasang manusia untuk tidak memiliki anak. Apa yang mendasarinya? Banyak hal.

Ribet, capek harus ngurusin anak, cranky, kadang malu-maluin saat lagi nongkrong sama teman atau atasan, kemana-mana repot bawa ini itu, belum lagi biaya membesarkan anak jaman sekarang mahal. Alasan takut karena merasa belum punya ilmu mendidik anak, juga takut jadi orang tua toxic ikut ambil andil.

Ditambah gambaran lebih baik sendiri bebas kemana-mana, tak ada beban. Benarkah demikian? 

Hidup sendiri pun tidak menjamin kalo kita terbebas dari rasa capek dan ribet. Ada beban pekerjaan, beban target yang belum tercapai, belum lagi mengejar cita-cita. Proses menggapai target, menjalani kehidupan dipenuhi dengn capek dan 'keribetan' ala kacamata manusia. Tinggal kita pilih mau capek dan ribet karena apa? Saat menjalankan aktivitas apa? 

Akar Childfree

Akar childfree adalah gerakan feminisme. Gerakan ini secara tidak langsung mengusung pikiran mengenai seorang perempuan yang berhak sama dengan laki-laki. Jika laki-laki tak hamil dan melahirkan, maka perempuan pun jangan 'dipaksa' untuk melakukannya. 

Padahal, Allah menitipkan rahim kepada perempuan bukan karena semata-mata Allah titipkan. Rahim atau kata lain rohmah berarti kasih sayang. Itulah bukti kasih sayang-Nya. Tak hanya itu, perempuan punya sifat keibuan pun karena anugerah dari-Nya. 

Terbayang jika setiap muslimah tidak ingin punya anak, maka hancurlah aqidah juga peradaban. Karena terputusnya keturunan dan keimanan. 

Anak jadi Ladang Pahala

Sahabat, dalam islam, Allah begitu memuliakan ketika kita. Menjadi orang tua adalah ladang pahala yang luar biasa. 

Fitrah manusia adalah melestarikan keturunannya. Saat kita mempunyai anak, ini bisa menjadi investasi kita di dunia maupun di akhirat, menjadi penyejuk mata ketika dipandang, menjadi penghibur, pelipur lara, teman berbagi rasa, dan menjadikan pahala yang terus mengalir sampai yaumul mizan saat anak-anak jadi anak yang sholeh dan sholeha. 

Jangan pernah khawatir akan rezeki untuk anak, sahabat. Allah yang memberikan titipan anak, sudah berarti Allah titipkan rezeki untuknya pula sebagaimana firman Allah, 

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am [6]: 151)

Anak adalah karunia. Kehadiran mereka adalah nikmat. Anak dan keturunan memang dapat melahirkan ragam kebaikan dan Allah memberikan kemuliaan kepada kita ketika menjadi orang tua. 


Wallahua'lam bish shawab 

Posting Komentar untuk "Ribet karena Anak? Masa' sih? "