Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem Ekonomi Ideal Kiblat Ekonomi Global




Oleh: Wida Nusaibah (Penulis dan Pemerhati Dunia Global)

Sistem ekonomi negara yang menjadi kiblat ekonomi bagi dunia merupakan sebuah kebanggaan. Sebab, hal itu menunjukkan bahwa negara telah sukses mewujudkan keberhasilan dalam perekonomiannya. Setiap negara pun pasti menginginkannya, termasuk Indonesia.

Sebagaimana diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo yang menginginkan Indonesia menjadi pemain utama dalam sektor ekonomi syariah dan industri halal dunia. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Ditambah lagi dengan data menurut The State of Global Islamic Economy Indicator Report, ekonomi syariah RI mengalami pertumbuhan signifikan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2018 Indonesia berada di peringkat 10 besar dunia. Kemudian mengalami peningkatan tajam hingga tahun 2020 menempatkan ekonomi syariah RI pada peringkat 4 dunia. (Kompas.com, 22/10)

Kapitalisme Bertentangan dengan Islam

Pemerintah yang mendorong Indonesia menjadi pusat ekonomi Syariah tersebut hanya karena potensi jumlah penduduk muslim dan produk Syariah yang dimiliki. Namun, apakah menjadi kiblat ekonomi dunia akan dapat dicapai jika negara masih berada di bawah kendali Kapitalisme? Sedangkan sistem ekonomi kapitalis dengan sistem ekonomi Islam sangat bertentangan.

Keinginan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan seperti itu dimungkinkan lahir dari paradigma kapitalistik. Sebab, kebijakan diambil hanya karena melihat peluang keuntungan bagi negara dari sektor bisnis berlabel syariah. Sedangkan negara sendiri belum menerapkan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh, karena negara belum menerapkan paradigma Islam dan masih menerapkan Kapitalisme.

Seperti diketahui bahwa dalam paradigma kapitalistik membolehkan utang riba, membolehkan penguasaan aset publik oleh swasta, mendorong pemasukan negara dari pajak, mendorong negara mengurangi bahkan mencabut subsidi bagi rakyat, mengukur setiap kebijakan atas dasar keuntungan semata, dll. Di mana hal tersebut sangat bertentangan dengan sistem ekonomi Islam.

Syariah Terwujud Optimal dalam Sistem Islam yang Ideal

Paradigma Islam dalam kehidupan menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba, melarang aset publik dikuasai individu maupun swasta, tidak menjadikan pajak sebagai pemasukan utama (dipungut hanya dalam kondisi darurat), mendorong negara memenuhi kebutuhan pokok rakyat dengan mudah, murah, bahkan gratis, setiap kebijakan diambil atas landasan keimanan bukan keuntungan semata, dll.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Inilah petunjuk agar manusia masuk ke dalam Islam secara total, tidak setengah-setengah atau tidak mengambil sebagian yang disukai kemudian meninggalkan yang lain. Hendaklah juga menghindari langkah-langkah setan yang menyesatkan dan memecah belah yang hanya mengantarkan pada kerusakan.

Tidak akan terwujud sistem ekonomi yang ideal selama masih mengambil Islam sebagian saja. Ekonomi syariah diambil karena memberi keuntungan, sedangkan aturan lain ditinggalkan karena dianggap tidak banyak menguntungkan. Bank syariah diterapkan, sementara utang luar negeri berbasis riba masih diambil. Hal ini justru hanya akan mengantarkan pada pertentangan dan kerusakan.

Oleh karena itu, ketika hendak menerapkan ekonomi syariah agar menjadi kiblat bagi dunia, maka tak layak hanya karena dianggap memberikan manfaat. Namun, dengan mayoritas penduduk muslim semestinya pemerintah yakin tanpa keraguan sedikit pun untuk mengimplementasi seluruh syariat Islam secara total, termasuk sistem ekonomi Islam karena dorongan iman bukan keuntungan. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)

Dengan keimanan, maka Allah turunkan berkah. Negara dan rakyat mendapat maslahat (keuntungan dan kesejahteraan). Sehingga dunia akan melihat keberhasilan negara dalam mewujudkan kesejahteraan ketika mengurus rakyatnya dengan sistem Islam yang berhasil dinilai sebagai sistem ideal. Kemudian, negara akan menjadi gravitasi/kiblat bagi ekonomi global. Wallahu a'lam! 

Posting Komentar untuk "Sistem Ekonomi Ideal Kiblat Ekonomi Global"