Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penamaan Jalan Attaturk "Penghancur Khilafah", Umat jangan Lupakan Sejarah




Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Penulis dan pengamat kebijakan publik)


Siapa yang tak kenal Attaturk, beliau dikenal sebagai bapak revolusi Turki dan sangat dihormati di negeri yang dipimpinnya. Namun, sejarah menguak bahwa Attaturk adalah orang yang menghancurkan bangunan kokoh yang selama berabad-abad melindungi kaum muslim. Dikutip dari buku Kamal Attaturk, "Attaturk merasakan kebahagiaan yang luar biasa, seolah-olah ia mengatakan kepada Raja Ankaltra, "Apakah Anda rela dan senang dengan tindakan yang Aku lakukan untuk menghapuskan Khilafah dengan persetujuan Anda?"" (hlm. 321). Relakah umat jika pemerintah memberikan penamaan jalan dengan nama yang selama ini menjadi biang keladi hancurnya Khilafah?

Ramai menjadi perbincangan di beberapa pekan terakhir, tentang penamaan sebuah jalan di Jakarta. Sebagimana dilansir dari CNNIndonesia (17/10/21), Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, sebagai bentuk kerja sama Indonesia dan Turki, ada rencana penamaan salah satu ruas jalan di Ibu Kota dengan nama tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk.

Dengan dalih bentuk kerja sama Indonesia-Turki, wacana penamaan jalan tersebut bergulir. Namun, wacana ini menuai pro-kontra terutama di kalangan tokoh. Adapun yang menolak yaitu MUI dan PKS. MUI memberikan alasan bahwa Attaturk tokoh yang merugikan umat Islam bahkan pemikirannya menyesatkan.

Sementara menurut Khoirudin (Ketua DPW PKS), Attaturk adalah tokoh yang diktator. Karena beliau menolak kebijakan yang pernah dilakukan oleh Attaturk di Turki. Yaitu mengubah masjid Hagia Sophia menjadi museum, mengganti azan berbahasa Arab dengan bahasa lokal, melarang jilbab dipakai di sekolah, hingga kantor-kantor yang bersifat kepemerintahan.

Muslim manapun yang menggunakan akalnya dengan waras, akan menolak apapun yang berkaitan dengan Attaturk. Karena yang dilakukan olehnya telah merusak ajaran Islam sampai ke akar-akarnya. Bahkan, Turki yang dahulunya pernah menjadi ibu kota Khilafah disulap oleh Attaturk menjadi negara sekuler yang jauh dari ajaran Islam. Jejak Khilafah di Turki seakan tinggal sejarah yang cukup hanya dikenang an sich.

Layakkah nama Attaturk dikenang, salah satunya dengan menjadikan nama sebuah jalan? Apalagi di negara mayoritas muslim, dengan dalih kerja sama. Umat jangan tinggal diam dan melupakan sejarah begitu saja. Tentu tidak mudah melupakan seseorang yang telah merusak bahkan menghancurkan perisai kaum muslim. Pelindung yang selama ini menjaga umat Islam dari kejahatan apapun. 

Kini, tanpa Khilafah umat Islam di dunia tercerai berai seperti kehilangan induknya. Negeri-negeri kaum muslim penduduknya dibunuh dengan mudah, dijajah, dijarah dan dieksploitasi baik SDM maupun SDA-nya. Tak ada satu pun yang menolak, melainkan mempersilakan penjajah tersebut memilih apa saja yang meraka mau dari potensi yang dimiliki kaum muslim. 

Indonesia harus memiliki sikap yang tegas di hadapan negara mana pun. Jika kerja sama yang dilakukan merugikan umat Islam, maka tak selayaknya diambil. Apalagi untuk sosok Attaturk, yang mendengar namanya saja mengingatkan pada luka umat Islam yang masih menganga. Seharusnya akidah yang menjadi landasan kerja sama dan hanya untuk kepentingan umat Islam.

Umat harus memiliki satu suara, selain menolak penamaaan jalan Attaturk juga menolak paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Selama pemikiran ini diadopsi oleh umat Islam, maka pemikiran Attaturk pun akan diadopsi karena dia adalah tokoh sekuler dan liberal. Umat hanya boleh mengadopsi pemikiran yang shahih, yang mengantarkan pada Allah dan jannah, pemikiran itu tidak lain adalah pemikiran Islam.

Pemikiran Islam pernah memimpin dunia dan diemban oleh sebuah negara adi daya yaitu Khilafah, hingga mampu menguasai dua pertiga belahan dunia selama berabad-abad. Kekuasaannya hingga sampai ke nusantara, jejak Khilafah nyata adanya di Indonesia. Khilafah mengakui kekuasaan kesultanan Aceh, Banten dan Mataram, sebagai bagian dari kesultanan yang besar di Indonesia. Istilah-istilah dalam struktur militer Turki Utsmani dalam perang, menjadi inspirasi dan ditiru oleh Pangeran Diponegoro dalam berperang melawan penjajah Belanda.

Bagaimana umat akan lupa, jika sejarah itu nyata pernah terjadi di negeri mayoritas muslim ini. Kalaupun masih ada umat yang belum tahu dan paham, maka tugas para pejuang Islam untuk terus mengaruskan informasi sejarah jejak Khilafah. Agar tidak lagi ada pengaburan dan penguburan yang membuat umat bodoh dan tidak tahu sejarah Islamnya sendiri. 

Insya Allah pemikiran Islam akan kembali memimpin dunia dan diemban oleh Khilafah kedua. Sebagaimana janji Allah dan kabar gembira Rasulullah saw. Siapapun yang meyakininya akan menjemput janji Allah dan ikut berjuang di dalamnya. Anda kah bagian dari orang-orang itu?


Allahu A'lam bi ash Shawab. 

Posting Komentar untuk "Penamaan Jalan Attaturk "Penghancur Khilafah", Umat jangan Lupakan Sejarah"