Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perjuangan Mengusir Kolonialisme Barat adalah Jasa Besar Para Pahlawan Muslim




Oleh: Muh. Sjaiful (Indonesia Monitor for Justice)


Tepat 10 November lalu, Bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Pada tanggal ini ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai momentum untuk mengenang kembali epos perjuangan arek-arek Surobojo melawan pendudukan tentara Inggris di Kota Surabaya. Ditengah pekikan Allahu Akbar Bung Tomo, ia telah mengagitasi rakyat muslim di Surabaya kala itu, mengusir tentara Inggris secara heroik, kendatipun dibawah dentuman bom yang sangat mengerikan. Semangat jihad para muslim arek-arek Surobojo menggelora dengan pilihan syahid atau hidup mulia terbebas dari penjajahan kolonialisme barat.

Dalam perspektif perjuangan mengusir pendudukan Inggris, maka perlawanan masyarakat muslim Surabaya sepuluh november, adalah momentum perjuangan yang membuktikan bahwa karena denyut tauhid yang telah menghujam perasaan dan pikiran para pejuang muslim Surabaya dengan kumandang takbir Bung Tomo, sehingga rakyat muslim Surabaya gagah berani tanpa kenal takut, berperang melawan tentara pendudukan Inggris.  

Pekikan takbir Bung Tomo, adalah kata-kata keramat yang sudah cukup menggelora batin keimanan para pahlawan Surabaya dengan kesadaran bahwa Inggris adalah kafir harbi fi’lan yang wajib diperangi. Tidak ada kalimat menyerah terhadap kolonialisme Inggris. Meski konon Soekarno-Hatta mendesak arek-arek Surobojo untuk tidak meladeni perang melawan tentara Inggris tetapi rakyat Surabaya tidak bergeming sedikitpun. Perang melawan tentara Inggris tetap dilanjutkan. Bung Tomo dalam pidato heroiknya menyampaikan kepada rakyat Surabaya ketika itu untuk tidak menyerah.

Epos perjungan rakyat Surabaya 10 November 1945 dengan pekikan takbir Bung Tomo mengusir kolonialisme-imperialisme barat merupakan salah satu bagian penting episode perjuangan umat Islam yang tak terbantahkan sepanjang sejarah pergerakan di nusantara yang bermula dari perjuangan para Sultan Islam di bumi nusantara, mengusir kolonialisme barat. Para penjejak sejarah di Indonesia paham betul bila gerakan mengusir penjajahan asing yang nota bene representasi kafir barat merupakan jasa-jasa para pahlawan Islam.

Epos perjuangan sepuluh November rakyat muslim Surabaya mestinya menjadi renungan bersama bangsa ini untuk tidak melupakan kontribusi besar pahlawan muslim. Spirit Islam merupakan pemompa semangat juang. Tak ada alasan untuk mendiskreditkan nilai-nilai Islam sebagai ajaran yang oleh sebahagian besar pemikir liberal atau pengusung liberalisme dituding mendegradasi nilai-nilai kemanusiaan. Justeru spirit Islam merupakan daya dorong efektivitas daya juang para pahlawan bangsa ini, tidak tunduk dengan hegemoni imperialisme-kolonialisme barat.

Kalau para pengusung liberalisme menghendaki Islam sebagai agama pertengahan (wasahtiyah) yakni berkompromi dengan ide-ide kemanusiaan versi liberalisme barat dengan dalih moderasi beragama. Padahal Wasathiyah diambil dari istilah al-Qur’an, wasath[an] (pertengahan). Inilah yang Allah jadikan sebagai salah satu sifat umat Islam. Namun, istilah wasath[an] ini, oleh kelompok liberalis, hanya dicomot dan dijadikan sebagai “wadah”, sementara isinya dijejali dengan pemahaman Islam moderat yang tidak lain adalah Islam yang sesuai selera Barat. 

Padahal, secara bahasa, makna al-wasath adalah sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding, pertengahan (Raghib al-Isfahani, Mufradat Alfâzh al-Qur’ân, jilid II, entri w-s-th). Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: Demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat[an] wasath[an] agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian (QS al-Baqarah [2]: 143).

Imam ath-Thabari dalam menjelaskan makna wasath[an] tersebut menukil 13 riwayat yang menunjukkan kata al-wasath bermakna adil (al-‘adlu). Pasalnya, hanya orang-orang yang adil yang bisa bersikap seimbang dan bisa disebut sebagai orang pilihan. Abu Said al-Khudri  radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda tentang firman Allah subhanahu wa ta'ala: Demikian pula Kami menjadikan kalian umat yang wasath[an]. Beliau berkata, “(yakni) yang adil.” (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi dan Ahmad).

Selain bermakna adil, menurut Mahmud Syaltut, ummat[an] wasath[an] juga berarti umat pilihan (Mahmud Syaltut, Tafsîr al-Qur’ân al-Karîm, hlm. 7). Syeikh ’Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai umat yang adil di antara semua umat untuk menjadi saksi atas mereka. Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan umat ini dengan sifat (al-ummah al-wasath), yakni umat yang adil untuk menjadi saksi atas manusia. Keadilan merupakan syarat pokok untuk bersaksi. Al-Washat dalam perkataan orang-orang Arab bermakna al-khiyâr (pilihan). Orang terpilih dari umat manusia adalah mereka yang adil (‘Atha bin Khalil, At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr: Surah al-Baqarah, hlm. 177). Jadi makna umat Islam sebagai umat[an] wasath[an], yakni umat yang adil. Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempat semestinya, yakni sesuai syariah.

Pada fakta perlawanan muslim nusantara terhadap kolonialisme barat merupakan bukti kalau tidak ada kompromi dengan nilai-nilai barat. Ada kekeliruan memaknai umat wasthan sebagaimana yang diklaim melalui gagasan moderasi beragama. Sikap kompromi tanpa tedeng aling-aling dengan tsaqofah asing berbasis klaim atas nama universalitas-humanisme. Tentu saja merupakan contradictio in terminis dengan hakikat makna wasathan dalam perspektif Islam. 

Perjuangan umat Islam di Nusantara dulu mengusir kolonialisme barat, mengusung konsepsi wasthan, adalah menegakkan timbangan keadilan perspektif syariah di tengah umat. Menegakkan keadilan Islam yang dalam cengkraman imperialisme-kolonialisme barat atas penjarahan sumber-sumber kekayaan alam bangsa ini. Inilah mestinya menjadi renungan besar bangsa ini dalam konteks memperingati hari pahlawan 10 November, bahwa para pahlawan muslim begitu berjasa mengusir kolonialisme-imperialisme barat apalagi kalau bukan karena dorongan spirit Islam. Terbukti bapak pendiri bangsa ini dalam Pembukaan UUD 1945 mengukir kata-kata Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kalimat Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa merupakan refleksi dari pancaran Aqidah Islam. Siapapun tidak bisa membantahnya. 




    


   

 

Posting Komentar untuk "Perjuangan Mengusir Kolonialisme Barat adalah Jasa Besar Para Pahlawan Muslim"