Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Multaqa Ulama Aswaja Malang Raya: "Musibah Semeru, Taubat Nasuhah, Kembali Kepada Syariah"



Kab. Malang, Visi Muslim- Sekitar 70-an Alim Ulama, Mubaligh dan Asatidz Ahlu Sunnah Wal Jamaah Malang Raya dan sekitarnya pada Ahad, (12/12/2021) menggelar agenda Multaqa Ulama Aswaja dengan tema: "Musibah Semeru, Taubat Nasuhah, Kembali Pada Syariah”, yang bertempat di salah satu Pondok Pesantren di Kabupaten Malang.

Dalam acara yang disiarkan secara langsung melalui channel YouTube Hidup Berkah, shohibul hajah, Kyai Muhammad Arifin, Pengasuh Al Andalusia, Kota Batu dalam sambutannya menekankan bahwa sebagai ulama dalam menyikapi musibah yang akhir-akhir ini terjadi di negeri mayoritas Islam ini agar tidak menyikapinya secara saintis semata namun juga harus ditinjau dengan aspek ruhani.

“Bagaimana Ketika Kekhilafahan Umar bin Khattab Ketika tejadi bencana gempa, beliau mengumpulkan seluruh kaum muslimin dan menanyakan dosa apa yang telah dilakukan, bahkan beliau mengancam kepada umatnya yang tidak mau bertaubat kepada Allah SWT dan tidak bersegera infaq dalam rangka untuk mengelak bala atau musibah. Tentunya fakto-faktor ruhiyah ini yang harus dikedepankan.” Ucap Kyai Arifin.

Kyai Muhammad Arifin


Acara kemudian dilanjutkan dengan Kalimah Minal Ulama yang disampaikan oleh para alim ulama dari Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Ulama dari Kabupaten Malang, Kyai Muhammad Sul’an, Pengasuh MT. Darussalam, Pakis mengingatkan bahwa musibah erupsi gunung semeru yang menimpa saudara-saudara kita di Lumajang dan sekitarnya adalah sebagai peringatan akan dosa-dosa kita yang telah kita perbuat, karena fenomena tersebut adalah karena dosa, dan apabila penduduk suatu negeri itu taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah melaksanakan apa yang diperintahkan, menjauhi laranganNya, maka negeri itu akan dicurahkan dengan keberkahan dari atas langit dan bumi.

“Kalau kita melihat kemarin musibah Semeru yang menimpa saudara-saudara kita, ada yang berkomentar bahwa hal itu adalah musibah biasa, itu fenomena geologi, tak perlu, dikaitkan dengan dosa-dosa, tak perlu dikaitkan dengan politik, Ya, Allah, orang kalau tidak punya iman itu seringkali mengucapkan sesuatu itu tidak dikaitkan dengan iman, padahal dulu para ulama salaf, para pendahulu kita para sahabat, Ketika musibah terjadi seperti masa Khalifah Umar bin Khattab langsung berdiri dan mengingatkan kaum muslim agar segera bertaubat, menjauhi larangan Allah dan mematuhi perintahNya,” ujar beliau.

Kyai Muhammad Sul'an


Pemateri dari Kabupaten Malang selanjutnya, yaitu Gus Muhammad, Pengasuh Markaz Al-Maliki, Pagelaran, Kab. Malang, menyampaikan bahwa mengemban syariah Islam adalah Amanah dari Rasulullah kepada kita, karena itu sebagai umat Islam kita tahu bahwa syariah Islam melindungi dari fasad dari bala’, dari kerusakan dan kehancuran, seperti akhir-akhir ini yang mana kita ditimpa berbagai bencana seperti yang baru saja dialami oleh saudara-saudara kita di lereng Gunung Semeru.

“Kita tahu, kita paham bahwa syariah Islam ini melindungi dari fasad, dari bala’ dan dari kerusakan kehancuran. Musibah erupsi Semeru adalah pengingat agar kita kembali kepada Allah SWT, meninggalkan dosa-dosa dan maksiat, serta menjaga syariah itu penting dengan mendidik generasi agar selalu melakukan amal yang sholih.” Kata beliau.

Gus Muhammad


Pemateri dari Kabupaten Malang lainnya, yakni Kyai Musthofa, Pengasuh Majelis Ta’lim Al-Amanah, Dampit menerangkan bahwa Islam diturunkan oleh Allah SWT sebagai Rahmatan lil alamin. Allah juga memerintah kita kaum muslimin untuk masuk kedalam Islam secara menyeluruh, tanpa memilih-milih atau sepotong-sepotong. Islam sumber pokoknya adalah Alquran dan Sunnah, dan apa yang ditunjukkan oleh keduannya, yakni ijma’ sahabat dan qiyas syar’i. 

“Membaca alquran harus kaffah, tidak boleh sepotong-potong, demikian juga dalam memahami dan mengamalkan isi dalam Alquran tidak boleh sepotong-potong atau setengah-setengah. Satu-satunya metode untuk penerapan Islam yang kaffah ini hanya ada dalam bingkai sistem pemerintahan Islamiyah, itulah Khilafah Islamiyah, bukan demokrasi, bukan kerajaan, atau bukan yang lainnya.” Terang beliau.

Kyai Musthofa


Selain itu kalimah ulama juga disampaikan oleh Kyai Lukman Hakim, Pengasuh Majelis Ta’lim Qolbun Salim Kota Malang, KH. Muhammad Alwan, Pengasuh Majelis Ma’had Al Ulya Kota Malang, Gus Naim Syukri Pengasuh MT Liwa’ Royah Kota Malang, serta Kyai Mushtofa, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Muta’alimin, Dampit.

Acara Multaqa Ulama ini berjalan lancar dan penuh khidmat. Peserta nampak antusias mengikuti hingga acara berakhir. [] gsg 

Posting Komentar untuk "Multaqa Ulama Aswaja Malang Raya: "Musibah Semeru, Taubat Nasuhah, Kembali Kepada Syariah""