Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemimpin Yang Jahat




Oleh : Alfi Ummuarifah S.Pd (Pegiat Literasi Islam Kota Medan) 


Pada setiap masa dan setiap waktu. Allah menjadikan pemimpin yang tidak semuanya baik. Satu pihak yang menjadi ujian bagi satu pihak yang lain. Pemimpin jahat yang menjadi penguji bagi masyarakat yang tinggal di daerah itu.

Allah menginginkan agar orang yang melakukan perubahan (islah) agar memperbaikinya.

Maka wajarlah Allah menyebutkan tentang itu dalam kitabNya ini supaya kitalah yang menjadi pihak yang melakukan upaya islah itu. Mengapa? Untuk apa? Tak lain dan tidak bukan kecuali hanya agar ada orang yang mengingatkan dan mendakwahinya. Orang itu akan diberikan balasan atas apa yang dilakukannya.

Berdasarkan hal ini, maka setiap kaum muslimin akan diuji. Apakah dia termasuk kaum yang melakukan perbaikan atau tidak.

Hal ini pun menjadi ajang terkategorinya satu kecenderungan ke arah kebaikan maupun keburukan.

Allah menyinggungnya pada QS. Al-An’am ayat 123. Ini menjadi peta jalan bagi kaum muslimin agar berhati-hati atas mereka. Sekaligus dorongan agar menasehati mereka dalam aktifitas yang disebut amar ma'ruf dan nahi munkar.

وَكَذٰلِكَ جَعَلۡنَا فِىۡ كُلِّ قَرۡيَةٍ اَكٰبِرَ مُجۡرِمِيۡهَا لِيَمۡكُرُوۡا فِيۡهَا‌ ؕ وَمَا يَمۡكُرُوۡنَ اِلَّا بِاَنۡفُسِهِمۡ وَمَا يَشۡعُرُوۡنَ

Dan demikianlah pada setiap negeri Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.

Allah lalu menenangkan hati Nabi Muhammad dengan menjelaskan bahwa para pembesar yang jahat tidak hanya terdapat di Mekah saja, tetapi juga di setiap negeri. 

Saat ini di belahan dunia manapun selalu ada saja pembesar atau penguasa yang jahat itu. Ada yang menjual aset negaranya diam-diam dan menyembunyikan dari masyarakatnya.

Ada juga yang menjual pelayanan negara pada rakyatnya, padahal itu dosa dan haram dilakukannya.

Ada yang mempersulit rakyatnya dengan kewajiban pajak yang zalim. Ada juga yang memutuskan perkara buruk untuk masyarakatnya saat malam hari. 

Masyarakat dibuat terkejut saat kebijakan itu diputuskan. Bahkan ada juga yang membisniskan pelayanan terhadap masyarakat dengan memberikan harga atasnya padahal seharusnya itu gratis dan berkualitas. Semua itu tindakan pelanggaran terhadap amanah mereka. 

Sayangnya konsep pelayanan murah dan berkualitas tak ada dari sistem ini. Sebab masyarakat sudah terbiasa berpikir bahwa "ada harga ada rupa". Tidak mungkin ada fasilitas terbaik dengan harga yang gratis. 

Ini membuktikan jika masyarakat sudah keliru cara memandang bahwa mereka seharusnya dilayani negara dalam kualitas terbaik dan gratis. Sebagaimana dahulu saat islam diterapkan oleh Nabi dan para Kholifah 13 abad yang lalu.

Nabi kita Muhammad Saw mengingatkan agar setiap penguasa atau pemimpin itu memperlakukan dirinya sebagai Roin atau penggembala. Bukan sebagai penjual atau pebisnis terhadap masyarakatnya.

Dirinya sebagai penguasa dan pemimpin rakyat harusnya menjadi perisai masyarakat. Saat masyarakat dalam kesulitan sebaiknya mereka memudahkan dan tidak menambah beban hidup masyarakat lagi. Zalim jika mereka melakukannya.

Artinya jika pada setiap negeri Allah menjadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Hal itu karena mereka lebih mampu membuat tipu daya. Mereka menipu daya bawahannya, dan dalam kebiasaan, masyarakat akan mengikuti atasannya apakah dalam hal kebaikan atau keburukan. 

Namun sesungguhnya mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya, akibat dari perbuatan mereka akan mengenai mereka sendiri.

Dahulu, Sebagian penduduk Mekah telah sesat karena bujukan pembesar-pembesar mereka yang melakukan bermacam-macam kejahatan dan tipu daya. Hampir di setiap negeri dan kota besar terdapat beberapa pembesar yang korup dan jahat yang melakukan tipu daya.

Perlu kita ingat juga telah menjadi sunatullah di dalam masyarakat bahwa setiap kali Allah mengutus seorang rasul di suatu tempat untuk memberi bimbingan kepada mereka. Namun selalu ada para penguasa dan pembesar-pembesar yang memusuhi rasul itu serta pengikut-pengikutnya.

Padahal Rasul yang diutus itu bermaksud mengadakan perbaikan dan pembenahan. Sering muncul di beberapa negeri dan kota besar, sejumlah tokoh yang ingin merebut kekuasaan dan menimbun kekayaan dengan berbagai macam cara.

Bawahan mereka yang tidak sejalan dengan pembesar mereka merasa bingung dalam melaksanakan tugasnya. Mereka tidak sanggup mengikuti pemimpin-pemimpinnya yang korup dan menyeleweng. 

Dalam suasana kacau seperti itu, diperlukan adanya kebijaksanaan, keimanan yang kuat dan mental yang tinggi, sehingga tidak mudah dibawa arus kesesatan yang menyebabkan datangnya murka Allah.

Pembesar-pembesar yang jahat ialah mereka yang menentang seruan agama dan memusuhi rasul-rasul serta pengikut-pengikutnya.

Demikianlah keadaan negeri Mekah ketika diutusnya Nabi Muhammad. Keadaan serupa itu terus berulang di negeri-negeri lain. Para pembesar yang korup memusuhi rasul-rasul dan pengikut-pengikutnya yang menyampaikan ajaran agama. 

Pada hakekatnya mereka itu adalah penipu belaka, menipu dirinya sendiri, akan tetapi mereka tidak sadar.

Karena telah menjadi sunatullah, bahwa suatu kejahatan akan membawa pada keburukan. Tiap-tiap tipu daya yang direncanakan terhadap hamba-hamba Allah yang saleh akhirnya menimpa diri pelakunya. 

Banyak peristiwa dalam sejarah manusia menunjukkan bahwa umat-umat yang menentang rasul-rasul dan para pengikutnya akhirnya dihancurkan oleh Allah dengan bermacam-macam azab, seperti bencana alam, dan lain-lain.

Mereka melakukan tipu daya untuk menentang perbaikan akhlak dan moral manusia, karena terdorong oleh keinginan untuk menduduki jabatan-jabatan tinggi dan menuruti dorongan hawa nafsunya. 

Mereka tidak menyadari bahwa akibat perbuatan yang buruk itu akan menimpa diri mereka sendiri, karena mereka tidak memahami sunatullah tersebut.

Allah lalu memberikan ancaman kepada semua pembesar yang durhaka. Allah juga memberi motivasi kepada Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya untuk terus melakukan amal saleh. 

Hal Itu semua karena dalam rangka melaksanakan tugas yang suci. Mereka tidak boleh menghiraukan godaan dan rintangan yang timbul dari manapun datangnya.

Maka saat ini kita tidak bersama Rasulullah. Namun tugas kerasukan itu sesungguhnya masih ada. Masih harus dilakukan hingga dunia ini berakhir. Dakwah mengingatkan penguasa yang melakukan pelanggaran adalah wajib. 

Apakah mereka mau mengikuti atau tidak itu perkara lain. Jadi, seseorang itu tidak ditanya soal hasil perbuatannya menyadarkan penguasa itu. Dia hanya akan ditanya soal usahanya saja dalam melakukan aktivitas amar makruf dan nahi munkar itu.

Masalah usaha itu wilayah manusia, sedangkan hasilnya itu urusan Allah. Semoga kita istiqomah di jalan dakwah ini. Aamiin.


Medan, 4 Januari 2022 

Posting Komentar untuk "Pemimpin Yang Jahat"