Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kerangkeng Manusia, Nyata di Alam Kapitalisme




Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Ummat)


Kini, bukan hanya burung yang disangkar, bukan hanya macan dan ular yang di kerangkeng dalam rumah, praktik kerangkeng manusia pun ditemukan. Tentu saja kabar ini membuat mata terbelalak. Apalagi kerangkeng manusia ditemukan di rumah pejabat daerah yang tersandung kasus.

Sebagaimana kabar dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang menyatakan jumlah tewas penghuni kerangkeng manusia milik Bupati Langkat, Sumatera Utara Nonaktif Terbit Rencana Peranginangin berpotensi lebih dari tiga orang.

Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam mengatakan, dugaan itu merupakan dari hasil penyelidikan sementara setelah meminta keterangan dari berbagai pihak (CNNIndonesia.com, 7/2/2022).

Kapitalisme Suburkan Kejahatan

Adanya kerangkeng manusia ini sungguh memprihatinkan. Apalagi sampai korban nyawa. Dugaan penganiayaan dan kekerasan sangat mungkin terjadi. Apalagi, laporan tentang meninggalnya korban sudah ada sejak tahun 2015, entah bagaimana kasus itu berjalan. Namun, Komnas HAM juga mengaku akan terus mendalami bekas luka yang ada di tubuh korban. Ia menyebut pihaknya akan mengungkapkan bagaimana kekerasan itu dilakukan, termasuk alat yang digunakan (CNNIndonesia, 7/2/2022).

Betapa tragedi kemanusiaan ini menampar siapa pun yang masih punya hati. Di negara hukum, kerangkeng manusia di rumah pribadi masih terjadi. Perbuatan aniaya dan tak manusiawi semakin menambah potret buram negeri ini.

Tak dimungkiri, saat ini kapitalisme memdominasi panggung konstelasi perpolitikan internasional. Hawa ideologi kapitalisme menyebar ke seluruh dunia tanpa kenal ras, bangsa, dan agama. Ajaran kebebasan, prinsip pemisahan agama dari kehidupan, dan asas manfaat merasuki jiwa-jiwa manusia yang diliputi keserakahan. Sistem pemerintahan demokrasi membuat manusia berlomba berebut kursi dengan cara apa pun. Jargon dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat menjadi tameng kepalsuan pelayanan terhadap rakyat.

Wajar jika kejahatan tumpah ruah tak terbendung. Pasalnya, kapitalisme menghalalkan apa pun demi eksistensi dan hegemoni para pemilik modal, entah penguasa ataupun pengusaha. Tak ada lagi dorongan keimanan dan kemanusiaan dalam dada, yang ada hanyalah besaran jumlah nominal yang harus diraih selama berkuasa.

Kerangkeng manusia nyata di alam kapitalisme. Kerangkeng yang memakan korban jiwa seakan menjadi fenomena biasa. Pasalnya, kapitalisme tak akan mementingkan nyawa manusia. Apa pun bisa dilakukan oleh seorang pemilik modal demi meraih kuasa yang tanpa batas.

Islam Menjaga Jiwa Manusia

Islam adalah agama paripurna, bukan sebatas agama ritual, tapi juga ideologi kehidupan. Penjagaan Islam melalui institusi negara (Khilafah) begitu luar biasa. Khilafah akan menerapkan syariat Islam secara totalitas. Penjagaan atas jiwa manusia akan berjalan sesuai pandangan Islam. Terlebih Baginda Nabi menyatakan bahwa hilang satu nyawa manusia itu lebih berat dari hilangnya bumi dan seisinya.

Dalam sistem pemerintahan, Islam akan menjadikan khalifah benar-benar memelihara urusan rakyat, termasuk menjamin keamanan jiwa dan raganya. Khalifah akan melakukan tatsqif murokaz dan jama'i.pada masyatakat agar suasana keimanan selalu terjaga. Sehingga, peluang munculnya kejahatan tidak ada.

Jika sampai terjadi penganiayaan, akan disanksi sesuai had Islam, dimana gigi dibayar dengan gigi, hidung dengan hidung. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (kitab suci) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishash-nya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishash)nya (memaafkan), maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah: 45)

Apalagi sampai nyawa yang hilang, maka sanksinya adalah qishosh. Allah SWT. berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih (178). Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa (169).” (QS Al-Baqarah: 179)

Khalifah akan menegakkan sanksi hukum ini tanpa pandang bulu. Penegakannya harus adil. Apalagi dalam sanksi Islam terdapat dua fungsi jawabir dan jawazie. Menghapus dosa pelaku dan mencegah yang lain untuk melakukannya. Demikianlah Islam menjaga nyawa dan jiwa manusia. Jangankan maraknya pembunuhan, kerangkeng manusia pun sangat kecil peluangnya untuk ditemukan.


Wallahu a'lam. 

Posting Komentar untuk "Kerangkeng Manusia, Nyata di Alam Kapitalisme"