Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Dari Pemuda Al-Kahfi Dalam Menjaga Akidah



Oleh: Rochma Ummu Arifah

Al-Qur’an memuat sejumlah kisah terdahulu, selain dari kisah para nabi dan rasul, juga terdapat kisah umat terdahulu. Tentu saja, tujuannya adalah untuk menjadi pelajaran bagi umat Nabi Muhammad saw. saat ini. Agar kita bisa mengambil hikmah dari kisah yang diceritakan.

Kisah Pemuda Al-Kahfi

Satu kisah masyhur yang disebutkan di dalam Al-Qur’an tepatnya yang ada di dalam surat Al-Kahfi adalah kisah pemuda Al-Kahfi. Dalam cerita ini terdapat sejumlah pemuda, disebutkan bahwa ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka tiga atau lima atau tujuh ditambahkan dengan seekor anjing yang juga turut serta bersama mereka. 

Sekelompok pemuda ini melarikan diri dari daerah asal mereka kemudian bersembunyi di dalam sebuah gua, di mana gua di dalam bahasa Arab adalah Al-Kahfi. Tujuan mereka melarikan dan bersembunyi di dalam gua tersebut adalah untuk menyelamatkan diri mereka karena pada saat itu, daerah atau negeri mereka sedang dipimpin oleh satu pemimpin yang kafir yang bahkan menyuruh penduduknya, termasuk mereka untuk menyembah kepada selain Allah Swt. Dengan niat menyelamatkan akidah mereka itulah, mereka pun berlari, sampai akhirnya menemukan sebuah gua dan kemudian bersembunyi di dalamnya.

Usaha mereka dalam menjaga akidah ini disebutkan di dalam surat Al-Kahfi ayat 16, yang berbunyi, “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.”

Kisah dilanjutkan dengan tertidurnya sekelompok pemuda di dalam gua tersebut. Ketika bangun, salah seorang dari mereka mengira bahwa mereka tertidur selama setengah hari saja. Ternyata, dengan kuasa Allah Swt. masa tidur mereka di sana disebutkan selama tiga ratus tahun ditambah dengan sembilan tahun.

Pentingnya Menjaga Akidah

Akidah adalah dasar atau pondasi bagi umat muslim. Akidah inilah yang menentukan kemurnian pentauhidan kepada Allah Swt sebagai Pencipta manusia dan alam semesta serta sebagai Pengatur segala apa yang ada.

Islam dan syari’atnya memberikan perhatian yang amat besar pada akidah ini. Karena baik buruk akidah akan sangat mempengaruhi manusia atau muslim secara keseluruhan. Jika akidah seseorang baik, ia pun akan menjalani kehidupannya dengan baik yaitu dengan benar dan tepat. Ia akan mampu untuk memahami apa tujuan kehidupan ini. Sebaliknya, jika seseorang mengalami kekeliruan dalam memahami akidahnya, hal ini akan menghantarkan pada kesalahan dalam menjalani hidup. Kesalahan ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada bagaimana manusia memandang kehidupan serta hasil dari kehidupan itu sendiri.

Islam memandang bahwa kehidupan dunia ini adalah fana belaka, permainan dan senda gurau serta jalan untuk meraih kehidupan abadi, yaitu di kehidupan akhirat kelak. Dalam menjalani kehidupan dunia ini, manusia harus tunduk patuh pada semua aturan yang telah diturunkan oleh Allah Sang Pencipta Kehidupan. Standar baik dan buruknya sesuatu adalah di tangan syari’at. Berhamba dengan sepenuhnya kepada Allah semata tanpa menduakan dengan suatu zat apa pun yang ada di muka bumi ini.

Kegagalan atau kesalahan dalam memahami akidah ini berakibat pada kesyirikan. Syirik bermakna memandang bahwa ada zat lain selain dari Allah Swt. yang memiliki posisi sebagai Tuhan. Karenanya, kepada zat lain inilah manusia akan memohon, menyandarkan harapan serta memberikan ketundukan dan kepatuhan. 

Hasilnya adalah manusia gagal memahami hidupnya. Standar hidup tak lagi disandarkan kepada Allah Swt tapi kepada zat lain tersebut. Melakukan sesuatu bukan lagi demi Allah tapi demi zat lain tersebut. Memohon tak lagi kepada Allah Swt tapi kepada sesuatu yang lain tersebut. 

Kesyirikan yang lebih membahayakan adalah kesyirikan yang seakan dibalut dengan syari’at Islam itu sendiri. Sesuatu seakan dinilai agamis atau berlandas pada Islam namun sejatinya ia malah melenceng jauh dari agama Islam itu sendiri.

Demi menjaga kemurnian akidah ini, negara seharusnya memberikan perhatian yang amat besar dalam hal ini. Negara memiliki kewajiban dan tanggung jawab demi menjaga kemurnian akidah umat serta menghindarkannya dari kekotoran apa pun. Segala hal yang berbau syirik tentu harus dijauhan dari kehidupan kaum muslim.

Contoh masyhur mengenai hal ini adalah diperanginya sebagian kaum muslim di masa khalifah Abu Bakar As-shiddiq yang kala itu mempercayai adanya nabi baru sepeninggal nabi Muhammad saw. Tentu hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sudah ditanamkan oleh Rasulullah saw.

Demikian seharusnya negara menjalankan peran strategisnya demi menjaga akidah umat. Tidak malah melakukan ritual yang mengarah pada kesyirikan seperti apa yang baru dijalankan oleh pemimpin negara ini dengan ritual penyatuan kendi nusantara. Tentu hal ini sangat jauh dari nilai agama. Memohon kebaikan hanyalah kepada Allah Swt. Dengan berusaha menjalankan syariat Islam secara benar-benar sudah dapat mendatangkan ridho-Nya. Itulah yang sejatinya harus dilakukan umat Islam saat ini yaitu kembali pada syariat Islam yang benar dan menyeluruh. Dengan itulah segala persoalan kehidupan akan mendapatkan jalan keluar. Insya Allah. 

Posting Komentar untuk "Belajar Dari Pemuda Al-Kahfi Dalam Menjaga Akidah"